Sejenak Berprasangka Baik (2)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Februari 2016
Sejenak Berprasangka Baik (2)

Dibagian pertama kita sudah merenungkan kisah seorang sahabat yang disu?udzani oleh temannya sendiri dan ternyata semuanya keliru. Nah, agak mirip dengan kisah sebelumnya, yuk kita simak;

Di pinggiran sebuah kota berdiri sebuah kampus cukup megah. Seperti biasa, di sekitar kampus berdiri banyak kos-kosan. Seorang mahasiswi baru menempati sebuah kosan yang kebetulan berdekatan dengan sebuah rumah kumuh. Di rumah tersebut hiduplah satu keluarga kecil yang memiliki seorang gadis cilik sekitar 6 tahun usianya. Kurus, lincah dan periang anaknya dan terkadang menyapa dan memanggil nama si mahasiswi yang ngekos di samping rumahnya.

Pada suatu hari, hujan deras cukup lama mengguyur kota tersebut dengan lebatnya sampai malam hari. Pettt. PLN terpaksa mematikan aliran listrik. Mati lampu dan suasana berubah menjadi gelap gulita. Tiba-tiba pintu kos mahasiswi diketuk dari luar. Tok tok tok. Saat pintu dibuka muncul kepala gadis kecil dari rumah sebelah sambil menyeringai dengan gigi-giginya yang hampir habis, dengan nafas yang masih memburu si gadis cilik menyapa,

"Malam kak. Oya, kakak punya lilin nggak?"

Terdiam sejenak si mahasiswi tersebut, "kalau saya bilang ada, nanti anak ini akan kebiasaan meminta apa-apa." Batin si mahasiswi.

"Hem, maaf dek, kakak nggak punya."

Sampai di sini saya menghentikan kelanjutan cerita tadi lalu, saya pandangi wajah murid-murid saya.

"Ada yang bisa menjawab, kira-kira apa jawaban si gadis kecil?"

"Ya udah terimakasih mbak!"

"Dasar pelit." "Nggak mungkin nggak punya."

Jawaban para siswa sahut-sahutan. Numun, semua jawaban standar rata-rata. Normal dan normatif.

Karena kita memang sudah terbiasa dengan hal-hal yang biasa dan kebanyakan orang. Sedekah ya, biasa-biasa saja, secukupnya. Berbuat baik hanya kepada yang baik. Menyambung silaturrahmi hanya kepada orang yang baik saja. Ya, rata-rata. Sehingga kita selalu saja terkejut saat menyaksikan sesuatu yang luar biasa menurut kita tapi, biasa menurut orang lain. Oleh karena itu, saya juga sempat kaget ketika teman saya ada yang memberikan beasiswa S3 sampai selesai dari salah satu jama'ahnya. Subhanallah, kira-kira 100 jutaan. Ada pula yang sedekah mobil, menghajikan dan mengumrahkan orang lain.

Mendengarkan berita tersebut, kira-kira apa yang muncul dalam benak kita? Ingin menjadi orang yang mendapatkan keberuntungan itu atau menjadi orang yang memberikan keberuntungan?

Jawaban kita menentukan siapa kita?

Oke. Kita kembali ke jawaban si gadis kecil. Apa jawabannya? Ya, di luar bayangan dan ekspektasi murid-murid saya saat itu. "

?Oh iya, Alhamdulillah, saya sudah bisa tebak kalau kakak nggak punya lilin, makanya saya bawa dua, yang satu buat kakak, nih."

Jleb. Nyesek dada si mahasiswi, dengan spontan dipeluknya gadis kecil tersebut dengan air mata yang berlinangan.

"Trimakasih dek, maafkan kakak ya."

Sungguh masih ada hati dan jiwa yang bersih dan mulia. Namun, masalahnya ada di kita. Apakah kita yang berjiwa mulia itu atau yang curigaan dan suka su'udzan? Saat seseorang sikapnya berubah sedikit, biasanya senyum saat bertemu, jabat tangannya kenceng saat itu berubah dari biasanya terkadang sikap curiga kita muncul, "jangan-jangan dia marah sama saya. Apa salah saya." Dan terkaan-terkaan yang lainnya saling bersleweran. Ada nasihat yang cukup menarik yang layak untuk kita renungkan. Jika sikap seseorang berubah kepadamu cobalah cari 9 alasan yang positif tentang dia. Insya Allah tidak ada peluang untuk bersu'udzan. Amin.

  • view 113