Ya Allah, Wafatkan Aku ...

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2016
Ya Allah, Wafatkan Aku ...

Pernah meminta dalam keadaan seperti apa maut menjemput? Meskipun kematian adalah takdir dan kita tidak bisa mengetahui pasti kapan dan dalam keadaan bagaimana, namun, bukankah doa bisa mengubah takdir? Lalu mengapa tidak meminta? Bukankah menjemput kematian adalah hajat terbesar kita?

Sebagaimana Allah menciptakan hidup sebagai nikmat maka, kematian juga adalah nikmat tentunya. Bagi seorang muslim yang taat tidak ada perbedaan antara keduanya, Dua-duanya adalah cinta dan kebahagian. Gairah menghadapi hidup berbanding lurus menjemput kematian. Tetapi, bagi kita yang masih berbalut dosa dan nista kematian adalah sesuatu yang cukup menakutkan. Dan terkadang kita takut untuk membayangkannya, sebagian yang lain merasa harus menjaga kata-katanya agar tidak nyerempet-nyerempet mengucapkan kata-kata seolah-olah perpisahan, ada lagi yang begitu takut dengan ?tanda-tanda? yang entah benar atau tidak. Begitulah.

Apakah pernah terbesit dalam hati kita saat melihat suatu kisah, "Ya Allah, wafatkan aku dalam keadaan seperti ini?" Mungkin kisah-kisah ini akan memaksa kita untuk mengatakan itu, minimal saya sudah. Kisah pertama, seperti biasa setiap melakukan perjalanan baik jauh maupun dekat, jika waktu shalat sudah tiba, saya selalu berusaha menyempatkan diri mencari masjid terdekat untuk berjama'ah. Rasanya nikmat saja dapat shalat diperjalanan, terasa lebih dekat kepada-Nya. Suatu hari, seperti 15 menit menjelang shalat Asar saya memasuki masjid yang tidak terlalu besar tapi, cukup nyaman. Saat memasuki masjid, terlihat seorang kakek sedang membaca al-Qur'an dengan khusuknya. Melihat ada yang masuk, beliau berpaling dan tersenyum. Saya pun membalas senyuman sang kakek yang begitu renyah, terlihat ada cahaya di wajah tua itu. Ya, cahaya al-Qur'an dan kerinduan akan perjumpaan dengan sang Pencipta. Ya Allah, saya iri. Diberi usia yang panjang, penuh manfaat dan Engkau beri kesempatan menyelesaikan semua urusan dunia ini dan kenikmatan persiapan diri menjemput khusnul khatimah. Wafatkan aku seperti ini!

Kisah lainnya, seorang kawan guru mengakhiri masa tugasnya sebagai pegawai negeri di usia 60 tahun. Sebelum pensiun beliau diberi kesempatan oleh Allah berhaji bersama sang istri. Beliau memiliki putra dan putri rata-rata lulusan pondok yang sebagian besar sudah lulus kesarjanaannya. Sudah mapan dengan bekal ilmu yang dimilikinya. Tidak jauh dari rumah beliau berdiri sebuah masjid. Seperti biasa jika tiba waktu shalat dan saya ada kesempatan mampir berjamaah di masjid tersebut, saya pasti menjumpai beliau berjama'ah dan berdoa dengan khusuk setelah itu. Mereka kemudian pulang sambil bergandengan tangan dengan sang istri. Hem, masa tua dan masa menanti ajal yang sangat Setiap indah. Ya Allah, Izinkan hambamu menghadapmu dalam kondisi seperti ini.

Doa tanpa usaha sama saja bohong, usaha tanpa doa sama saja sombong. Allahumma inni as'aluka husnal khatimah adalah doa kita meminta akhir hidup yang baik. Husnul khatimah harus menjadi harga mati dalam hidup kita, karena ini merupakan perkara ikhtiyari atau sesuatu yang bisa diusahakan, bisa milih. Tidak ada arti semua yang kita miliki, hari-hari yang kita lalui, dan usia yang kita habisi jika akhirnya adalah keburukan (su'ul khatimah).

Lalu, sudahkah kita menyiapkannya? Kita tidak bisa mengukur usia kita, tidak pula bisa menebak kapan dan dimana akan berakhir namun, khusnul khatimah bisa. Dengan apa? Dengan memperbaiki cara pandang hidup. Hidup seorang muslim semuanya, semuanya akan bernilai ibadah jika diniatkan mengabdi kepada-Nya. Kerja, makan, tidur, belajar, wisata akan bernilai ibadah. Oleh karena itu, seorang yang bekerja karena Allah pasti tidak akan mungkin curang, korupsi, culas, malas-malasan, dan manipulasi karena ia bekerja untuk Tuhan.

Juga tidak mungkin karena kesibukan bekerja sampai lupa shalat, jarang berjama'ah, males ikut kajian-kajian islami, nggak ada waktu buat baca al-Qur'an, dan pendidikan anak-anak terbengkalai. Lalu, buat apa semuanya? Jadi berdoa meminta khusnul khatimah harus dibarengi dengan usaha menjemputnya. Selalu bertanya dalam hati sebelum melakukan sebuah aktivitas, "Ya Allah, ini buat siapa? Ini untuk apa? Apakah niat saya sudah ikhlas?" Dan teruslah bertanya. Don?t stop questioning! Saat niat mulai melenceng, perbaiki! Perbaikilah sesegera mungkin karena kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita, tidak akan pernah menunggu dan menunda walau sesaat.

Dan ingatlah bahwa sesungguhnya hajat terbesar setan adalah mengakhirkan kehidupan kita dengan su?ul khatimah. Sesungguhnya Setan tidak akan pernah ikhlas selamanya. Forever. Waspadalah!

  • view 214