Setia itu Bullshit

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Februari 2016
Setia itu Bullshit

Di beberapa kesempatan pembelajaran, di kelas-kelas sekolah menengah, dimana isinya adalah remaja-remaja yang sedang galau-galaunya ngomongin kekasih dan pasangan hidup, saya biasa mengatakan kepada mereka dengan nada sinis-serius-bercada menjadi satu, "Kalian jangan pernah ngomongin setia deh. Setia itu bullshit, omong kosong." Kaget, menunduk, malu-malu dan serius adalah ekspresi yang muncul saat itu.

?"Setia itu setelah diuji oleh waktu. Kalian saksikan kakek-kakek dan nenek-nenek berboncengan sepeda sampil memeluk pinggang sang kakek mesra, itu baru setia namanya." Dengan kerlipan mata ruang kelas menjadi geerrrrr riuh.

Ya, setia itu diuji waktu. Maka, bagi saya lucu aja kalau melihat mereka yang baru pacaran nuntut setia, baru tunangan sudah janji setia sampai mati, atau yang baru nikah sudah yakin banget bisa setia. Memang masa pacaran, tunangan trus mantenan anyar (pengantin baru) adalah masa-masa yang paling romantis membicarakan kesetiaan. Lha iya, wong godaan belum seberapa. Badai itu belum datang. Yang pria paling bisa ngegombal yang putri paling suka digombal. Just the some. Makanya, saya agak mual saat nonton FTV-FTV dan drama-drama Korea. Apalagi saat ngelihat artis-artis mempertontonkan kemesraan dengan gebeten barunya sambil ketawa-ketiwi, tangan rangkulan, makan suap-suapan, rasanya mau muntah. ?

Banyak kan kejadian-kejadian yang dipertontonkan artis-artis kita, pacaran 5 tahun, tunangan 2 tahun, nikahan 1 tahun trus bubar. Ada juga yang kawin cerai trus kawin lagi dengan pasangan lain lalu bubar lagi, tidak sedikit yang harus mengakhiri hubungan pernikahan yang sudah terjalin cukup lama dengan anak yang cukup banyak. Kita saksikan bukan? Tetapi, jangan kira bahwa kasus-kasus tersebut hanya monopoli kehidupan selebriti. Tidak. Di desa-desa yang jauh dari peradaban kota pun setali tiga uang. Tidak hanya yang saya jumpai, bahkan saya banyak mendapatkan cerita-cerita miris ala sinetron di dunia nyata dari murid-murid saya di kelas.

Sebenarnya apa sih setia itu? Kita berangkat dari definisi. Saya akan balik pertanyaannya, apa lawan kata yang paling dekat dari setia? Selingkuh bukan? Ya, sederhana saja. Setia itu tidak selingkuh. Jika dosa itu bertingkat-tingkat maka, tingkatan paling tinggi dari selingkuh adalah berzina dengan wanita lain dan yang paling rendah adalah hatimu menaruh simpati ke wanita lain, sekecil apa pun itu. Clear. Jadi bisa dibayangkan siapa sih yang bisa lepas selingkuh. Ada. Dan tetap masih ada makhluk langka ini. Selingkuh itu seperti rayap yang menggerogoti rumah tangga, dan saya harus sepakat dengan teman saya bahwa hampir semua rumah tangga akan menghadapi isu ini.

Setia sebenarnya bisa dicerna dengan bahasa iman. Kalau bukan iman apa yang menghalangimu selingkuh? Seorang wanita yang telah menikah dan melahirkan akan mengalami pelebaran lingkar perut dan penebalan lemak. Frekuensi kecerewetan akan meningkat, lebih sensitif dan curigaan. Sementara suami semakin matang semakin ganteng dan berwibawa dengan penghasilan yang mampan sangat menarik untuk gadis-gadis pencari kemapanan. Di rumah anda akan berhadapan dengan istri yang tidak sempat lagi merawat diri, baju seadanya, gaya yang monoton setiap hari, lebih seneng dengan bahasa memerintah dan mengancam daripada bahasa romantis dan sibuk ngurusin sumur, dapur, kasur dan anak-anak dengan bau bawang, asap, dan keringat menjadi satu. Di luar rumah anda akan bertemu dengan gadis dan wanita yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Hem, masih kuat? Lambaikan tangan jika tidak mampu!

Sebagai laki-laki biasa, saya harus mengakui menjaga kesetian itu berat di tengah-tengah gempuran syahwat yang bertebaran. Terkadang kalah terkadang menang. Sekilas saya, harus mengingat kembali saat melamar calon istri dan menjelang pernikahan, saat itu kayaknya untuk setia kepada calon istriku ini mudah, bagaimana tidak semua sudah lengkap ada pada dirinya, sempurna luar dalam. Namun, saya sadar sesadar-sadarnya saya tidak sempurna begitu pula istriku. Mungkin apa yang kita harapkan ada sama dirinya tidak ada. Begitu pula sebaliknya.

Saat ditanya istri, akankah saya setia. Maka, saya hanya bisa menjawab singkat, "Iya, Insya Allah." Saya bukanlah malaikat yang bisa memastikan hanya akan taat Allah semata dan selamanya. Saran saya kepada istri, berdoalah kepada Allah yang memiliki hati suamimu ini. Dan saya selalu akan mengatakan bahwa suamimu ini masih memiliki iman ?karena agamalah yang menyatukan kita bukan?, tidak mungkin saya menghianatimu jika itu adalah salah satu jalan menghianati Tuhan. Satu hal yang penting yang selalu saya pegang baik-baik saat godaan itu datang, "Ingat! Di dunia ini cuman sebentar kawan. Jangan korbankan dengan sesuatu yang kecil, bersabarlah untuk sementara waktu!" yang tidak kalah pentingnya, wajah lucu anak-anak selalu saja mampu menghentikan egoisme diri, begitu pula wajah polos istri yang tertidur lelap setelah seharian bekerja super berat, "Ya, Allah mungkinkah saya tega menghianatinya?" Ya, insya Allah sayang. Biarkan waktu yang menilai dan saya yang akan membuktikannya. Terlalu dini untuk mengatakan saya lelaki setia itu.

  • view 299