Dikawal Malaikat, Mau? (1)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 14 Februari 2016
Dikawal Malaikat, Mau? (1)

Masih ingat saat Bush ke Jakarta dan Bogor? Atau saat Barack Obama ke Indonesia? Di Bogor, rombongan Agen Secret Service membooking seluruh kamar di salah satu hotel ternama di kota itu. Jalan darat antara Jakarta-Bogor disterilkan, meskipun akhirnya Bush menggunakan helikopter.

?

Penasaran dengan bagaimana SOP pengamanan seorang presiden dari negara adidaya Amerika ini, mengantarkan saya membuka dan mempelajari beberapa laman situs yang mengulasnya. Hem, sebuah pengawalan yang super ketat. Demi seorang presiden. Demi sebuah kata aman.

?

di AS ada istilah Secret Servise (SS) -kalau di Indonesia semacam Paspampres. Anggota SS adalah orang-orang pilihan yang memiliki kelebihan di atas rata-rata. Mereka harus kuat fisik, mental dan teknik. Mampu beladiri, cakap menggunakan senjata api dan siap menghadapi situasi apa pun. Seorang SS dituntut loyal kepada siapa pun presidennya. Sebelum presiden berkunjung ke suatu tempat, SS sudah melakukan abservasi selama berbulan-bulan, dua minggu sebelum kunjungan, tim SS sudah datang membawa berton-ton perlengkapan canggih termasum alat komunikasi.

?

Tempat acara presiden harus clear dan steril. Anjing pelacak dan pendeteksi bom bekerja mengamankan mulai dari bangku, meja, podium, tembok, pot-pot bunga, lantai, hingga microphone yang akan digunakan. SS kemudian akan mensterilkan dengan menutup total tempat tersebut sampai presiden datang. Jika berada di tempat terbuka sistem pengamanan akan dibuat berlapis-lapir zona pengamanan. Biasanya empat sampai lima ring. Ring empat dan lima jatahnya polisi setempat. Ring tiga terdiri dari campuran petugas kepolisian, agen khusus dan SS. Ring dua dan satu adalah tanggungjawab penuh SS.

?

Semua pengawal sang presiden akan fokus mengawasi setiap gerak gerik yang mencurigakan, mereka hanya bicara bila perlu dan saat nyawa presiden terancam mereka harus siap menjadi tameng hidup dengan memeluk tubuh presiden sambil melarikan presiden ke tempat yang aman. Ckck, begitulah kira-kira. Belum lagi soal kendaraan yang akan dipakai presiden. Konon, ketebalan kaca mobil itu setebal buku telepon. Pesawat Air Force One akan selalu dikawal dua pesawat jet tempur di belakangnya. Sebelum mendarat semua penerbangan dihentikan sementara waktu antara lima sampai sepuluh menit.

?

Sudahlah mungkin memang haru seperti itu. kita juga tidak tahu pasti apakah sang presiden merasa aman dan nyaman dengan itu semua. Yang pasti, kita semua membutuhkan rasa aman bukan? Ke mana-mana tidak perlu cemas, markir kendaraan tanpa harus gelisah, ninggalin rumah nggak pake was-was, keluar menikmati malam dengan hati bahagia, berkendaraan di jalan tanpa harus sport jantung bahkan sampai kematian datang pun tetap merasa aman.

?

Karena merasa tidak aman, banyak perusahaan dan orang-orang berduit yang reka menggelontorkan jutaan demi membayar jasa keamanan harta mereka. Tidak cukup satpam, CCTV, pagar dan tembok yang tinggi masih ditambah dengan anjing galak. Sebagian yang lain merasa aman jika membawa bodyguard ke mana-mana, senjata tajam, bahkan memasang jimat-jimat untuk menjaga keselamatan jiwanya. Tidak ada yang salah, apalagi di zaman yang serba tidak aman ini. Itu juga merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, nampaknya lebay dan terlalu berlebihan. Apalagi sampai terjerembab ke dalam kemusyrikan.

Di sisi yang lain kita menyaksikan orang-orang yang syaraf takutnya hilang. Selama dia merasa membela dan menyampaikan yang benar maka tidak ada yang perlu ditakuti. Jalan terus. Hal ini diperlihatkan oleh Dr. Zakir Naik, pakar kristologi saat akan menyampaikan dakwah di Afrika, beliau mendapatkan ancaman pembunuhan. Tidak sedikit pun hati beliau gentar. Maju terus. Jika kita sejenak nenengok kehidupan para sahabat dalam membela agama ini, tidak sedikitpun ada dalan hati mereka rasa gentar berhadapan dengan musuh. Semua rasa takut mengecil dan menghilang di bawah kalimat Allah Akbar.?

bersambung ...

  • view 117