Mungkin ini, Rezeki kita Seret

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 11 Februari 2016
Mungkin ini, Rezeki kita Seret

Urusan yang satu ini memang tidak ada matinya untuk dibahas, dikaji, diulas, ditulis dan diseminarkan. Ya, urusan rezeki. Hampir tidak ada seminar yang membahas masalah rezeki yang sepi peserta. Mulai dari keajaiban rezeki sampai tips kaya cepat dan mendadak. Bahkan al-Qur'an dan as-Sunah pun ambil bagian. Namun, sayang tidak semua kita benar-benar paham akan hakikat rezeki yang sesungguhnya. Mungkin saya juga termasuk yang masih harus belajar memahaminya.

Dan tidak sedikit yang hanya membatasi rezeki pada kepemilikan propertis, rumah, tanah, kendaraan, dan semua yang berbau materi karena kita memang hidup di zaman yang mengagung-agungkan materi dan orang hanya dihargai karena tumpukan materi yang dimilikinya. Jadilah sebuah lapangan perlombaan yang sangat melelahkan.

Kalau mau jujur tentang maraknya tingkat korupsi di negeri kita, salah satu pemicunya adalah gaya hidup. Gaya hidup materialistik. Kan malu pejabat tinggi ngadain acara mantenan sangat sederhana, punya kendaraan, rumah, dan penampilan sederhana. Ada ya? Ada. Parahnya lagi, kehidupan materialistik diajarkan sejak dini di rumah-rumah kita. Mulai dari memilih sekolah, universitas, kerja sampai memilih jodoh bayang-bayang materi sangat dominan menentukan.

Tidak ada yang salah mengajarkan itu semua tapi, jangan lupa di atas materi ada keberkahan. Keberkahan harta ini yang tidak dipahami dan diajarkan. Siapa sih yang tidak ingin kaya, rezeki lancar? Tidak ada bukan? tetapi, yang pasti, rezeki itu bukan hanya uang. Sehat, keluarga, pekerjaan dan lain sebaigainya juga termasuk rezeki. Saya tidak akan mengulas banyak hal berkaitan dengan urusan rezeki, disamping belum layak, juga sudah ada pakarnya yang lebih mumpuni sekaligus sudah membuktikan, sebut saja motivator Ippho Santoso, dan ustad Yusuf Mansur, bisnismen sukses Sandiago Uno dan Eric Thohir.

Salah satu seminar yang beberapa kali saya ikuti -via youtube, adalah seminar keajaiban rezeki Ippho Santoso. Dari semua materi yang disampaikan, ada satu hal yang cukup menarik untuk dikupas kembali. Penghambat rezeki. Dalam beberapa seminar ada satu sesion dimana semua peserta dipasang-pasangkan, lalu mereka saling berjabat tangan sambil memejamkan mata mereka secara bergiliran mengikuti kata-kata Ippho Santoso. Kurang lebih ini yang diucapkan;

"Saudaraku! Demi Allah, Aku Ridho dan Turut mendoakan agar hidup engkau berkah, berlimpah, rumah tangga yang sakinah, anak-anak yang sholeh/sholehah, karena aku tahu engkau juga ridho kepadaku, mendoakan aku, agar hidupku berkah berlimpah. Saudaraku! Insya Allah kita bisa karena engkau mendukungku, aku pun mendukungmu."

Merinding. Ya, sebagian peserta ada yang sampai meneteskan air mata setelah ikrar ini selesai dibaca dilanjutkan dengan berpelukan. Mari masuk ke inti dari ikrar di atas, ada kata 'Ridho'. Kata ini lah yang memberikan dampak yang luar biasa pada percepatan rezeki kita. Kita sangat terbiasa dengan sifat SMS (Seneng Melihat Orang Susah dan Susah Melihat Orang lain Seneng). Kok tahu? Kalau tidak banyak untuk apa Allah dan Rasul-Nya banyak berbicara dan mengecam sifat hasad dan dengki ini?

Ketidakridhoan atau kedengkian kita kepada orang lain terlalu banyak membuang energi positif. Saat saudara kita beli mobil baru, rumah, tanah, dan sebagainya, apa yang terbetik pertama kali di hati kita? (?) Sebuah tanda tanya bukan? "Ih, dari mana uangnya." "Kok bisa ya." "Ah, ada yang nggak benar nih." "Pantesan, wong suka pesugihan." Kira-kira begitulah sikap kita.

Atau mungkin saat saudara kita menang undian berhadiah, bisnisnya lancar ketiban orderan, dapat hadiah haji atau umrah, hati kita bergemuruh, secuil nada sinis untuk meredakannya. "Ah, cuman gituan aja pamer." Ada yang lebih halus, "Selamat ya!" Tapi, hati tidak ikhlas, "Kok harus dia? Kenapa bukan saya? Lipstik. Manis di bibir. Hanya kita yang tahu isi hati kita.

Mari mulai sekarang kita mencoba melapangkan dada, bersyukur dan berbahagia atas kesuksesan dan keberhasilan saudara kita. Saat saudara kita mampu membeli sesuatu, mari kita redam perasaan cemburu itu, hilangkan secuil pun dalam hati. Lalu kita ucapkan selamat dengan tulus sembari berdoa kepada Allah agar diberikan keberkahan. "Selamat ya, doakan saya bisa juga seperti ibu/bapak!" Kan lebih nyaman. Hati jadi luas, lapang dan ploong. Rezeki baik paling demen kepada jenis manusia berhati lapang. Amin.

?

?

  • view 180