Saya dan Dahlan Iskan

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Saya dan Dahlan Iskan

Kenal Dahlan Iskan? Pasti?donk. Kenal Syahrul? Hem, kenal lah. Masak baca tulisan ini nggak kenal yang nulis. Terlalu! Tulisan ini bukan bermaksud membandingkan antara bumi dengan langit. Antara pangeran William dengan peronda Wiliyono. Antara pemilik kekayaan yang tidak habis oleh tujuh turunan dengan pemilik gaji tujuh koma, setiap tanggal tujuh sudah koma. Antar penulis bestseller dengan penulis dieler-eler. Antara mantan Menteri dengan mantan penjual ikan teri. Antara pemilik Jawa Pos dengan pemilik istri orang Jawa Wo-Pos-obo (Wonosobo. wkwk, maaf istriku). Antara orang yang bosen kaya dengan yang bosen miskin. Antara setiap yang disentuh menjadi emas dengan setiap emas yang disentuh menjadi beras. Ya, antara Syahrul dengan Dahlan Iskan. Begitulah. Ngenes!

?

Tulisan ini hanya hiburan saja kawan, disaat saya berada di titik nadir kehidupan dengan beliau yang berada dipuncak popularitas. Anda baca tulisan ini karena nama Dahlan Iskan, bukan? bukan karena Syahrul yang nulis kan? Kalau begitu besok-besok saya buat tulisan, ?Saya dan Nikita Mirzani.? Pasti rame. Bisa masuk trendingtopic ngalahin si Kambing Jantan, eh, si Manusia Setengah Salmon, eh, maaf Bang Raditya Dika. Loe memang lucu.

?? ??

Eh, kembali ke Pak Dahlan, dengan segala hormat, saya salut sama bapak. Angkat topi deh. Banyak inspirasinya, salah satunya joget gamnam stylenya lucu abis. Nggak takut keropos pak tulangnya?. Eeaa, kayak loe aja, dokter pribadi?mah?sudah stand by 24 jam. Dari banyak perbedaan antara saya dengan Dahlan Iskan, ternyata kami ada banyak persamaannya lo. Sama-sama punya hidung, kaki, mata? Bukan! apa ya?

?

Pertama, sama-sama berangkat dari keluarga miskin. Nggak punya. Yang pantas dapat raskin dan gaskin (gas miskin). Bedanya saya masih miskin. Dan Kalau bapak dulu sampai jual lemari, saya mah nggak sampai segitunya sampai jual lemari. Lah, punya lemari aja kagak. Mau Jual lemari tetangga? Saya sangat menikmati setiap kata yang keluar dari mulut bapak setiap kali menceritakan kesusahan dan penderitaan bapak dulu di layar kaca. Saya sedih pak. sedih mau pulang kampung ngelihat ibu sakit saja mikir biaya. Mau nelpon ibu saja mikir pulsa. Ups, udah menyimpang dari topik nih. Kok jadi curcol. Kembali ke Dahlia Iskandar, eh, Dahlan Iskan.

?

Kedua, sama-sama TTLnya ngarang. Bapak ngarang to lahir tanggal?17 Agustus?1951? Bisa masuk Bak Es Krim, eh, Bareskrim pasal pemalsuan identias kayak ketua KPK Abraham Samad lo. Tapi, saran saya kalau mau selamat jangan jadi ketua KPK deh. Nanti, dikriminalisasi. Saya juga ngarang kalau lahir tanggal 10 Maret 1986. Hehehe. Kalau bapak gara-gara lemari dijual, kalau saya gara-gara nggak punya lemari buat nulis tanggal lahir. ?

?

Ngini nih ceritanya, waktu mau Ujian Nasional sekolah SD dulu. Kepala sekolah sudah sangat mangkel seperti mangkelnya saya ke ortu. Setiap ditanya tanggal lahir bilangnya, Sekitar lahirannya si anulah, saat acara sunatan si anulah, waktu matinya si anulah. Semuanya berakhir ?end- Malam itu saat Mama teriak dari dapur rumah, ?Dikarang saja!? Gaya, Teriak segala,?wong?dapur dengan kamar cuman dipisah?gedek.

?

Esoknya, sepanjang jalan jari-jemari tangan bergerak, alis turun naik, memikirkan tanggal dan bulan berapa tepatnya saya lahir.?Ah?peduli amat, kayaknya tanggal 10 lebih bagus deh, itung-itung biar nilainya dapat 10 terus. Hem, kalau untuk bulan kayak angka 3 lebih romantis. Minimal punya istri, 3 (Is-3). Jangan salah tafsir! Sesampai ke sekolah, di ruang kepsek, ?Pak tanggal 10 dan bulanya bulan Maret tahun 1986.? Jawabku mantep, sebelum diminta. Di ruangan kepala sekolah ternyata telah duduk teman perempuan sekalasku yang juga memiliki masalah yang sama. Kagetnya kemudian ternyata ia juga memiliki TTL yang sama, 10 Maret 1986. Jleb. Mata Kepsek bergerak teratur menatap saya dan si Ayu tanpa mengerakkan kepala sama sekali. ?Loh kok sama?? si Ayu nampak gugup, tidak ingin didahului, ?karena ini, itu, bla bla... pak? jawabku mantap. (padahal ngarang.com). ?Nah, kamu Ayu ganti! Cari yang lain.? Jawab kepala sekolah mengakhiri interogasi ala Densus 88.

?

Nyesel rasanya. Setelah Ayu cerita panjang lebar di luar kelas tentang tanggal lahirnya. Itu valid melihat perjuangan ortunya bongkar-bongkar rumah mencari selembar akte. TTL Ayu yang benar harus diganti sementara saya yang Ngawur diterima. Maafkan! Setelah saya tanya-tanya tetangga ibu, yang dulu juga melahirkan berbarangan dengan saya, ternyata tahun lahirnya pun salah, harusnya 1985, eh ternyata ditulis lebih muda setahun. Sama kan pak?

?

Ketiga, kita sama-sama memiliki dendam. Ya, dendam. Bapak pernah dendam sama Bank Karman kan? Lalu bapak ingin balas dendam. Saat orang heran kalau ada koran yang bernama Jawa Pos lalu bertanya, ?Memang lokasi Jawa Pos itu dimana ya? Lalu, bapak jawab ?Itu diseberangnya Bank Karman? bayangkan Bank Karman saja yang tidak terkenal lebih dikenal daripada Jawa Pos. Uh, nyesek pak. Sakitnya tuh di dada. Sambil ngelus dada? sendiri. Lalu bapak membatin, ?Paling tidak nantinya Jawa Pos harus bisa lebih terkenal dari Bank Karman dan nantinya jika ada orang yang bertanya ?Dimana lokasi Bank Karman?? orang akan menjawab ?Itu yang diseberang Jawa Pos?? (Dikutip dari Mata Najwa).

?

Kita sama pak. Bedanya, saya dendam karena setiap gadis yang saya taksir selalu saja diambil sahabat saya. Selalu. Itu lebih sakit pak. Setiap jurus-jurus sakti sudah mulai mengarah sasaran, hilang dan lenyap seketika oleh senyum manisnya Aliando Syaraf sahabatku. Ngejomblonya lama.

?

Hari ini, bapak sudah berhasil melunasi dendamnya. Bukan saja mengalahkan bank Karman, bahkan banknya mati sebelum Jawa Pos berjaya. Selamat.

?

Keempat, kita sama-sama berprinsip merantau sebagai jalan kesuksesan. Bapak ke Kalimantan dan saya ke Jogjakarta.

?

Terakhir pak, ini yang selalu saya pikirkan. Seandainya saya suatu hari nanti seperti bapak, -berdasarkan ramalan 2016 dengan kecocokan-kecocokan kita- apakah saya masih bisa sebaik bapak atau minimal sebaik sekarang (merasa diri lumayan baik)?. Ya sudahla, nanti kita lihat. Selamat Ultah Bapak Dahlan Iskan. Loh? Kan bapak nggak tahu tanggal lahirnya, bisa jadi hari ini, atau besok. Betul kan? Setiap hari bapak ultah. Sama dengan saya.

  • view 150