Produktif dengan Mengingat Mati

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 08 Februari 2016
Produktif dengan Mengingat Mati

Loh, bukannya dengan banyak mengingat mati kita akan lemas dan hidup tidak bergairah? Bayangkan! saat kita lagi semangat-semangatnya ngurus bisnia dengan omzet ratusan juta rupiah, tiba-tiba, inget mati? Apa nggak down. Ah, buat apa, ujung-ujungnya mati. Atau lagi ngerayain hari pernikahan? Aichh, lemes ingat mati. Dan dalam kasus yang lain.

Mari kita balik logikanya, sebelum berbicara dalil-dalilnya. Tidak perlu terlalu cerdas untuk memahaminya. Pernah ujian teofl? Minimal pernah ujian nasional kan. Apa yang akan anda lakukan saat waktunya sudah ditentukan? Kerjakan, waktumu cuman dua jam!? Saya rasa tidak mungkin anda santai-santai sambil ngemil plus ngupil, "ah, masih lama, ntar seriusnya kalau udah mepet." sebaliknya, anda akan serius dari menit pertama. Secepat dan seteliti mungkin, minimal semua butir soal sudah terjawab sebelum waktu habis, sehingga, waktu yang tersisa bisa digunakan untuk mengecek dan memastikan semua jawaban on the track.

Saat bel berbunyi, hati tenang dan kita melangkah dengan penuh keyakinan mengumpulkan lembar jawaban. Itulah ujian. Bukankah kehidupan dan kematian seperti itu adanya? Seolah-olah Allah SwT mengatakan, "Wahai manusia! Hidup ini ujian. Saya (Allah) sudah menurunkan dua pegangan hidup. Pelajari baik-baik! Yang paling penting adalah waktu kalian terbatas. Ya, Terbatas. Kerjakan!" Apa yang anda akan lakukan? Santai?

Ataukah anda akan bersegera dan tidak menunda. membuat rencana hidup. setelah satu urusan selesai bersegeralah ke urusan selanjutnya. Setelah shalat ditunaikan, bertebaranlah di muka bumi mencari rezeki Allah yang telah siapkan. Kaya semuda mungkin, lalu tunaikan kewajiban-kewajiban agama yang membutuhkan materi; zakat, haji, qurban, aqiqah, umrah dan lain sebagainya. Setelah itu menggunakan kekayaan untuk membangun rumah-rumah tahfidz, masjid, panti asuhan, pondok pesantren dan proyek-proyek kebaikan lainnya.

Karena usia kita terbatas -nabi mengatakan bahwa usia ummatnya sekitar 60-70 tahun dan usia nabi sendiri adalah 63 tahun-, tugas kita adalah merancang atau membuat visi atau mimpi hidup. Membuat target hidup itu lebih membimbing kita menuju kesuksesan. Umur berapa selesai kuliah? Nikah? Kerja? Punya anak? Haji? Kaya? Berinvestasi akhirat? Mapan? Dan sejuta visi hidup lainnya. Semuanya akan lebih cepat tercapai apabila ada nawaitu sejak awal dan dibarengi dengan batasan waktu.

Jika kita cermati perjalanan hidup Rasulullah, kita akan menemukan sebuah perjalanan yang sangat indah, teratur dan visioner. Lahir dalam keadaan yatim, usia 6 tahu beliau telah menjadi yatim piatu. Kemudian diasuh oleh kakeknya selama dua tahun dan diusia 8 tahun kekeknya Abdul Muthalib meninggal. Kemudian beliau diasuh oleh pamannya. Pada usia 12 tahun beliau sudah mulai berdagang lintas wilayah dengan pamannya. Pada usia 14 tahun beliau terlibat dalam perang Fijar. Di usia 25 Rasulullah sudah menjadi seorang bisnismen handal dan dipercaya untuk membawa barang perniagaan Khadijah, seorang janda kaya raya saat itu. Di usia ini pula beliau menikah dan memiliki 6 anak. Di usia 35 tahun beliau terlibat dalam renovasi Kabbah dan menjadi hakim yang bijakasan menengahi masalah siapa yang berhak meletakkan hajar aswad. Di usia 40 tahun beliau diangkat menjadi Rasul. Perjuangan yang sangat berat dimulai. Beliau harus menyelesaikan tugasnya dengan sisa waktu yang ada. Pengucilan, hinaan, pembaikotan, hijrah, penghianatan, perang, isra? mikraj, al-Qur'an dan rupa-rupa perjalanan dakwah Islam beliau lalui sekitar 23 tahun. Mission complate. Waktu Dhuha, Senin, 12 Rabi'ul Awwal dalam 63 tahun Rasulullah SaW wafat.

Jika batasan waktu membuat kita melaju lebih cepat dan produktif maka sisi lain dari mengingat mati adalah sebagai kontrol. Tidak ada manusia yang hidupnya lurus-lurus saja tanpa pernah melakukan kesalahan. Melenceng dan nyerempet-nyerempet bahaya akan terus menghiasi hidup seseorang. Namun, sebaik-baik manusia itu yang tidak berlama-lama dalam khilaf dan dosa. Taubat! Berjalan on the track kembali. Mari kita ibaratkan dengan balapan mobil. Setiap pembalap akan memacu kendaraanya secepat mungkin, karena mereka dibatasi waktu. Namun, sesekali kendaraan mereka ke luar jalur, mungkin tikungan tajam, menyalip lawan, atau kurang fokus, tentunya laju kendaraan akan melamban, dan peluang menang akan berkurang.

Begitulah kehidupan, dosa dan kemaksiatan ibarat keluar dari track sirkuit atau arena balapan yang memperlambat laju kendaraan maka, mengingat mati akan menjadi kontrol agar manusia kembali ke jalan lurus dan melaju dengan kencang menyelesaikan balapan. Menggapai target-target kehidupan. So, mengingat kematian menjadikan kita semakin produktif. Kecepatan dan kontrol.

Mari sejenak berimajinasi sebagai penutup tulisan ini. Apa yang akan anda lakukan jika hidup anda tidak lama lagi. Anda divonis dokter memiliki sisa usia dua bulan lagi? Pasrah dan menyerah kah pilihan anda? atau berlari secepat mungkin mendekat kepada Tuhan, dan menyelesaikan semua tugas-tugas dunia ini?. saya rasa dua bulan adalah hari-hari yang sangat berharga bagi kita, tidak sedetikpun waktu berlalu tanpa makna. Begitulah kira-kira.

Lalu mengapa kita masih santai, bermalas-malasan dan membuang-buang waktu sampai hari ini? Belum ada sedikitpun yang begitu membanggakan yang sudah kita lakukan, sementara usia semakin tidak mau menunggu. Padahal kita semua tidak tahu apakah besok masih ada kehidupan bagi kita atau menjadi akhir dari kehidupan kita di dunia. Oleh karena itu, sangat masuk akal jika Rasulullah menganjurkan kita banyak-banyak mengingat mati. Termasuk sunah. Aktsiruu dzikral maut!

  • view 205