Anakmu untuk Apa?

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Juli 2017
Anakmu untuk Apa?

Untuk apa punya anak? Jawabannya sangat bervariasi bukan? Jawaban itu nanti yang akan menentukan pola pengasuhan kita. Beranak Pinak merupakan kebanggaan dan kesenangan manusia, bahkan dahulu, banyak anak menjadi kebanggaan. Meskipun sekarang, kadang malu punya anak banyak. "Jeng, mau buat tim sepak bola ya."

Para nabi dan Rasul pun, berdoa penuh harap dan tanpa henti meminta anak keturunan. Kita diajak melihat bagaimana doa Nabi Zakaria yang mustahil, dijawab Allah dengan memberinya Yahya. Begitu pula dengan doa nabi Ibrahim yang kemudian dijawab dengan hadirnya Ismail as.

Tapi saya sangat yakin para nabi tidak hanya meminta sekedar anak. Anak dalam pengertian biologis namun jauh dari itu, menjadi anak ideologis. Anak yang yaritsuni (يرثنى), mewarisi estafet perjuangan. Maka pertanyaan mereka kepada anak-anaknya jelas, "(ماتعبدون من بعدي) apa yang akan engkau sembah setelah ku. Pertanyaan ideologis.

Maka Allah menegaskan kepada nabi Nuh, bahwa anak-anaknya yang durhaka itu bukan lagi bagian dari keluarganya.

{قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ} [هود :٤٦]

Kembali ke pertanyaan awal, untuk apa anakmu? Bagi saya ada dua hal penting dalam melihat anak keturunan. Pertama, mereka adalah titipan. Siapa? Allah. Bayangkan! Betapa bangganya Anda, saat dititipi sesuatu oleh presiden, atau seseorang yang sangat terhormat. Kebanggaan ini kita bawa sampai pada merawat titipan dengan sangat hati-hati dan penuh tanggung jawab. Saat titipan diminta Anda akan menyerahkannya sesuai instruksi pemiliknya kan?

Maka jaga titipan Allah berupa anak ini, karena kelak ia akan memudahkanmu atau malah menyengsarakanmu. Bisa jadi masuk surga terhambat karena anak-anak kita.

Tahukah kita apa permintaan Allah terhadap anak turunan kita? Jadikan ia anak shaleh/shalehah. Titik. Anak yang tahu diri di hadapan Tuhannya. Anak yang mampu mementingkan urusan Allah di atas urusan manusia dan dunia. Karena ini yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Simaklah doa nabi Ibrahim yang dipanjatkan kepada Allah.

{رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ} [الصافات : 100]

Maka jika anak kita sudah berusia belasan tahun dan masih bolong-bolong shalatnya, Anda perlu kuatir. Jika anak kita masih asyik di depan TV atau di tempat bermainnya saat azan berkumandang, Anda perlu bersedih. Jika anak kita sudah biasa saja saat berbuat dosa, Anda perlu menangis.

Kedua, investasi akhirat. Apalagi yang cari selain doa dan kebaikan mereka di dunia. Jika tugas yang pertama selesai maka tugas kedua akan semakin mudah.

Sejak kecil kami membangun dialog-dialog akhirat. Saat anak-anak mulai menunjukkan ketidaksemangatan menjalankan rutinitas ibadah, kami ajak berbicara dari hati ke hati.
"Mbak... Mbak sayang tidak sama Abi dan ummi?
"Iya."
"Mbak mau tidak menyelamatkan kami berdua?"
"He'e."
"Coba lihat Abi dan Ummi!"
Dia pun mengangkat kepalanya.
"Abi dan Ummi ini tidak lama di dunia. Suatu saat nanti akan panggil Allah.
Tatapan matanya nampak serius dan iba.
"Sementara kami ini masih banyak dosa dan salah. Abi dan Ummi tidak ada jaminan surga. Nah, Mbak dan Adek lah nanti yang akan mendoakan kami. Maukah?"
"Mau. Mau."
"Rajin dan serius lah belajar!"
"Siap Abi."

Nabi telah ingatkan 15 abad yang silam, bahwa doa anak-anak yang shaleh lah yang akan menembus langit mengantarkan kebaikan kepada kedua orangtuanya. Bahkan bisa jadi kedua orangtuanya diangkat azab kuburnya karena doa-doa ini.

Syahrul (Abikeren)
#father'snote

  • view 61