Surat Cinta untuk Pemilik TV

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2016
Surat Cinta untuk Pemilik TV

Kepada yang terhormat bapak/ibu pemilik TV.

Saat kami ingin menulis surat ini, kami bingung ingin memulai dari mana. Pikiran kami berkecamuk, dada kami sesak, lidah kami kelu, dan tangan kami bergetar. Seperti gumpalan bisul yang membesar dan memerah kekuning-kuningan yang siap pecah dan mengeluarkan segala jutaan penyakit dan kotoran yang ada di dalamnya. Kami bingung!

Kepada bapak/ibu pemilik TV.

Kami hanya seorang guru yang tidak begitu paham apa itu kapitalisme, seperti apa itu neo liberalisme, dan bagaimana itu komsumerisme. Yang kami pahami dan saksiksikan anak-anak kami setiap hari berubah. Ya, berubah menjadi manusia harimau dan serigala yang memangsa teman-temannya sendiri. Anak-anak lugu, imut dan lucu menjadi beringas menghabisi nyawa temanya, mempertontonkan kesadisan dengan menampar, menendang, menjambak, menjotos dan mengumpat-ngumpat teman atau adik kelasnya sendiri.

Kepada bapak/ibu pemilik TV

Kami tidak begitu paham apa itu pemilik modal, berapa itu omzet milyaran rupiah, dan bagaimana itu program TV berating tinggi. Yang kami pahami kesuksesan itu saat kami melihat anak-anak itu tumbuh dengan wajar sesuai dengan usianya. Bukan anak-anak yang berperilaku dan bertindak melampaui usianya. Yang tidak malu-malu lagi berbusana ala Britney Spears, berboncengan ala rangsel, bergaya bak model, berpelukan, berciuman ala suami istri tanpa risih lagi dan beradegang mesum di depan kamera tanpa malu.

Kepada bapak/ibu pemilik TV

Kami tidak tahu bagaimana suatu program digodok di ruang rapat. Apa masih ada kata "ini berbahaya bagi generasi muda". Ataukah hanya kata untung dan rugi yang terlintas dan tersisa dipikiran bapak/ibu semua. Yang kami tahu pasti anak-anak kami berubah meniru adegang sinetron acara bapak/ibu semua yang katanya ratingnya tinggi. Mereka tidak sungkan lagi "membegal" orangtua meminta motor keren, bangga dengan citra diri sebagai anak genk motor dan anak jalanan, yang merasa macho dan cool saat trek-trekan dan jumping-jumpingan di tengah jalan.

Kepada bapak/ibu pemilik TV

Kami tidak tahu apakah bpk/ibu kuatir dengan cara anak-anak berbahasa dan berkomunikasi saat ini. Yang kami tahu anak-anak kami sudah sangat familiar dengan bahasa alay di hadapan orangtua, guru dan kehidupan kesehariannya. miapah, ciuss, keless, dengan mimik cuek bebek tanpa etika sama sekali. Mereka juga sudah terbiasa dengan bahasa orang dewasa, selingkuh, setia, cinta sejati, penghianat, putus dan "orang ketiga."

Kepada bapak/ibu pemilik TV

Kami tida tahu apa nyanyian favorit anak-anak bpk/ibu semua. Yang kami tahu anak-anak kami sudah biasa menyayikan lagu "Buka Sitik Jos", "Cinta Satu Malam" dan "Bang Joni," dengan goyangan ala ngebor, ngecor, gergaji, dan itik. Kalian tayangkan acara dangdut erotis di saat anak-anak kami masih jaga.

Kepada bapak/ibu pemilik TV

Kami tidak tahu bagaimana penampilan anak bapak/ibu semua. Yang kami tahu, anak-anak kami lebih bangga dengan rambut pank ala kuda, diwarnai dan dibatik seenaknya dan dengan telinga yang dilubangi sebelah atau dua-duanya mencontoh artis idola yang ada di TV.

Kepada bapak/ibu pemilik TV.

Kami tidak tahu selera humor kalian. Yang kami tahu, anak-anak kami tumbuh dengan selera humor yang aneh. Tidak berkelas. Kalian ciptakan rasa humor dengan menjadi banci, ketololan dan kebodohan kalian jadikan bahan lelucon, ada gelak tawa diatas bully-an fisik orang lain. Kalian bayar orang-orang untuk duduk dan dibully dengan suka rela. Kalian hina ibu-ibu kami untuk berjoget agar kelihatan lucu dengan imingan rupiah yang tak seberapa. Anak-anak kami menonton itu semua.

Kepada bapak/ibu pemilik TV.

Mungkin bpk/ibu akan menyalahkan kami yang tidak mendidik dengan baik anak-anak kami. Tapi, yang perlu bpk/ibu ketahui, anak-anak kami tidak semuanya tumbuh di lingkungan yang baik. Banyak yang tumbuh dalam keluarga penuh konflik, mereka sudah bosen melihat pertengkaran orangtua, keluarga berantakan, kelurga sibuk yang hanya mengejar uang, lingkungan amburadul dan diperparah lagi dengan tontonan yang tidak mendidik. Anak-anak kami haus tontonan bergizi dan ramah anak. Masih adakah idealisme itu? masih adakah hati nurani itu? Semoga!

Salam cinta dari Seorang Guru

Syahrul


  • Syahrul WriterPreneurship
    Syahrul WriterPreneurship
    1 tahun yang lalu.
    Terimakasih atas komentnya mas Ayub Daud... betul sekali, mari kita jauhkan dan lawan

  • Ayub Daud
    Ayub Daud
    1 tahun yang lalu.
    surat ini bukan hanya suara hati pak Guru, tapi jerit kita semua. tv adalah racun, maka jauhkan ia dari anak anak.. hanya itu pilihannya. Sebab di mata pemilik TV, anak anak kita, siswa siswa pak Guru tak lebih dari komoditi, hanya sekrup kecil dalam mesin besar industri hiburan .