Solusi Berjuta Masalah (1)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 03 Februari 2016
Solusi Berjuta Masalah (1)

Masih ingat slogan pegadaian? Menyelesaikan masalah tanpa masalah. Nah, kalau slogan mahasiswa yang nggak lulus-lulus, menyelesaikan masalah tanpa makalah. Sepintas terlihat keren dan prestisius, namun senyatanya nggak gitu-gitu amat. Kalau iya, pasti nggak perlu dengar berita orang gantung diri karena hutang melilit. Atau jatuh miskin, rumah tersita karena pailit. Dan segudang masalah lain yang hampir menghiasi layar kaca dan layar koran kita tiap hari. Bahkan mungkin hidup kita sendiri adalah masalah itu sendiri. Sebesar apa sih?? Kepo!

Apakah sebesar masalah nabi Ibrahim yang harus menghadapi hukuman bakar hidup-hidup? Ataukah sebesar masalah Masitha? Tukang sisir istana Fir'aun yang harus menghadapi hukuman digoreng hidup-hidup demi mempertahankan ucapan Allah, saat menjatuhkan sisirnya. Bukan cuman dirinya yang digoreng namun, sang mujahidah harus menyaksikan suami, anak dan bayinya terlebih dahulu meregang nyawa di penggorengan sebelum dirinya menyusul mereka ke surga. Ia harus merasakan sakit di atas sakit. ataukah masalah kita sebesar Maryam? Wanita suci, dari keturunan terpandang yang harus hamil tanpa seorang ayah. Ataukah, ataukah, dan buuaaanyak lagi yang bisa kita jumpai dalam al-Qur'an. Tidak akan selesai ditulis dalam berlembar-lembar kertas.

Bila dibandingkan dengan masalah kita saat ini mungkin tidak ada seujung kukunya. Nggak punya uang? Dikhianati? Bangkrut? Apa lagi? Utang? Kelaparan? Putus cinta? Belum ketemu jodoh? "Jika masalahmu besar pastikan bahwa Tuhanmu jauh lebih besar." Saya pernah baca sebuah tulisan di belakang sebuah truk (bokong truk). Nah, sopir truk aja tahu masa kamu nggak. Bahkan Allah sampai "memaksa" kita untuk mengatakan Allah Akbar, Allah yang Maha Besar, semua keciiiilll di hadapan-Nya dalam sehari semalam minimal 85 kali. 17 rakaat sehari semalam dalam 5 waktu shalat. Dahsyat bukan? Lalu apa lagi yang membuat kita merasa tidak berdaya? Masalah akan selalu ada dan harus kita hadapi! Face it or died!

Lalu dengan apa kita menghadapi masalah? Tuhan tidak menyuruh kita menyelesaikan masalah, Allah hanya meminta dua hal, setelah itu Dia yang akan menyelesaikan masalahmu. Coba perhatika baik-baik firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 153:

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al-Baqarah: 153)

Apa perintah Allah dalam menghadapi sejuta masalah? Pertama, sabar. Sebenarnya apa makna sabar? Mungkin selama ini sabar lebih dimaknai sebagai sikap diam yang cenderung apatis. Miskin, diterima dengan sabar tanpa dibarengi dengan kerja keras. Bangkrut, sabar tanpa melakukan evaluasi dan perbaikan diri. Belum ketemu jodoh, sabar tanpa dibarengi dengan peningkatan kualitas diri. Sabar itu dinamis. Secara normatif Sabar (ash-shabr) itu menahan dan mengekang. Menahan dari dari hal-hal yang tidak disukai demi mengharapkan ridha Allah. Tidak disukai bukan hanya hal-hal yang tidak mengenakkan seperti bencana, kematian dan kelaparan tetapi juga termasuk yang disukai oleh nafsu. Sabar bisa berarti menahan diri dari memperturutkan hawa nafsu. Oleh karena itu, sabar memang banyak ragamnya; sabar dalam menghadapi ujian yang tidak mengasyikkan, sabar dalam menahan keinginan hawa nafsu, sabar dalam taat/ibadah kepada Allah dan lain sebagainya.

Kalau mau jujur sebenarnya, banyak masalah yang menimpa kita karena kita tidak sabar. Saat berkecukupan kita tidak sabar untuk menahan diri dari berpoya-poya. Kita mengundang kebangkrutan. Saat kita sehat, kita tidak sabaran menjaga kesehatan dengan makan sembarangan, begadang, dan hidup tidak teratur. Kita mengundang sakit. Saat masalah perselingkuhan terjadi itu juga merupakan akibat dari ketidaksabaran kita merawat amanah Tuhan. Apa lagi? Semuanya bermuara pada ketiksabaran. Maka, hanya dengan kesabaranlah masalah akan diangkat. Back to sabar. Ash-shabru yu'inu ala kulli amalin, sabar dapat menolong segala pekerjaan. Begitulah kira-kira kata mahfudzat. Mungkin banyak di antara kita lulus saat diuji dengan kemiskinan, kekurangan dan penderitaan. Kita mampu menyabarinya. Namun, saat kekayaan, kelapangan dan popularitas menyapa tidak sedikit yang masih tetap bersabar mengerem dan mengendalikan diri.

Mari kita berimajinasi sejenak, saat bahtera rumah tangga baru dimulai, suka duka dijalani bersama dengan penuh cinta dan kemesraan. Bersambung .....

  • view 114