LEVEL REZEKI

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 08 November 2016
LEVEL REZEKI

Masalah yang satu ini selalu seksi untuk dikupas dan dibicarakan. Allah dan rasulNya pun tidak sedikit membicarakan dalam al-Qur’an dan hadist. Saya pun memcoba menerka-nerka misteri rezeki ini. Dalam pembacaan saya kemudian bertemu dengan tulisan Saptuari, penulis buku Kembali ke Titik Nol. Di sana ditulis cukup menarik, “Oh, begitu tho.” Ternyata rezeki kita itu bertingkat-tingkat menjadi empat level. Saya mencoba mengikuti alurnya dan mengelaborasi dengan pengalaman dan ilmu yang saya miliki.


Level pertama, Rezeki yang dijamin.


Tahukah kita jika Allah yang maha kaya telah menjamin setiap rezeki semua ciptaanNya? Mari kita buka Q.S. Hud: 6!
۞وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٦


Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
Binatang melata yang derajatnya lebih rendah dari manusia Allah jamin apalagi manusia. Kita saksikan bagaimana burung-burung berangkat pagi dalam keadaan kosong pulang dalam kondisi perut kenyang. Cicak di dinding harus ikhlas makanan pokoknya adalah nyamuk yang terbang dan bersayap. Pernah dengan berita cicak mati karena kelaparan. Nyamuknya pada terbang tidak mau turun. Loh, bukankah sejak TK kita diajari lagu, cicak-cicak di dinding diam-diam merayap datang seekor nyamuk, HAPS! Lalu ditangkap. Subhanallah, Allah yang datangkan. Rezeki itu didatangkan kepada kita.


Coba bayangkan bagaimana Allah mendatang rezeki yang menjadi hak kita. Allah berfirman kepada air laut yang berada di lautan pulau Jawa. Kamu akan menjadi rezekinya si Fulan. Sang air kemudian tersenyum bangga, alhamdulillah akhirnya aku akan ketemu dengan taqdirku. Si Fulan. Mulailah ia mendekati pantai pulau Madura, kemudian memasuki tambak-tambak petani garam.


Oleh petani, kemudian disaring lalu dikeringkan. Perjalan garam kasar kemudian berpindah ke pabrik garam untuk diolah lagi dan diberi label. Lalu diangkut ia melalui distributor ke pasar-pasar atau toko-toko. Sampailah kemudian garam yang menjadi rezeki kita ke warung dekat rumah. Semakin berdebar hati sang garam akan bertemu dengan taqdirnya. Pagi-pagi kita ke warung sebelah rumah dan membeli garam dapur. Lalu kita buat sayuran dan kita campur sedikit dengan garam. Garam beradu dan bercampur dengan kuah dan sayuran. Sejam kemudian sayur siap disantap.
Bismillah... garam masuk ke mulut kita dan rasa asin itu beberapa saat membuat lidah kita bergoyang dan berdecak. Hem, enakkk.


Rezeki apa yang dijamin? Kebutuhan untuk mempertahankan hidup atau kebutuhan primer. Saya sangat yakin tidak ada manusia yang mati kelaparan karena tidak bisa makan. Allah yang jamin. Kecuali dimiskinkan dan dimatikan oleh manusia itu sendiri. Itu soal beda. Ini rezeki level satu.


Level kedua, Rezeki yang diusahakan.
Apa itu rezeki yang diusahakan? Mari kita buka Q.S. An-Najm: 39!
وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩


Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS. An-Najm: 39)
Manusia hanya akan mendapatkan dari apa yang diusahakan. Inilah yang membedakan satu dengan yang lain. Tingkat usaha, karir, kerjaan dan lain sebaginya tentunya berbeda-beda. Rezeki pemalasa berbeda dengan yang rajin. Ada yang bayaran dan gajinya perbulan 1 juta, 2 juta sampai ratusan juta. Semuanya sesuai apa yang diusahakan. Rezeki president tentu berbeda dengan rezeki guru honorer.


Level ketiga, Rezeki yang Digantung.
Bagaimana rezeki yang digantung itu? Seperti cinta yang digantung. Dia akan diberi jika memenuhi persyaratan yang dibuat. Mari kita buka Q.S. Ibrahim: 7!


وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim: 7)


Allah menjanjikan bahwa jika kalian bersyukur maka Aku tambahkan nikmat itu, namun bila kalian kufur, ingat azabKu sangat pedih. Ternyata syukur itu mendatangkan rezeki. Hasil usaha seberapa pun, gaji bulanan seberapa pun bila disyukuri, dinikmati dan digunakan untuk berbagi akan mendatangkan kenikmatan-kenikmatan selanjutnya.
Betapa banyak pejabat kita yang berpenghasilan jut-jutan namun tetap merasa kurang? Terpaksa harus menggarong uang rakyat meski recehan. Dan tidak sedikit manusia-manusia yang tidak begitu berharta namun bahagia dengan apa yang diberikan Tuhan. Anak-anaknya sukses studi, ada yang mendapat beasiswa luar negeri, ada yang diterima bekerja di perusahaan internasional, ada yang menjadi wisudawan terbaik. Allah tambahkan kenikmatan demi kenikmatan itu atas rasa syukur dan merasa diri cukup dengan apa yang ada.


Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada selalu merisaukan. Selama kita memperturutkan keinginan maka selama itu kita akan merasa kekurangan. Bagaikan meminum air garam, semakin diminum semakin haus atau seperti menggaruk luka. Selama kita masih memiliki kebutuhan yang banyak maka hakikatnya kita masih miskin. Orang kaya adalah orang yang sedikit kebutuhannya. Mengapa Allah disebut maha kaya? Karena Dia sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi.
Bersyukur sebenarnya mengeluarkan energi positif. Energi pasitif ini akan mendatangkan rezeki. Magnet rezeki. Rezeki doyan pada manusia-manusia ini.


Level ketiga, Rezeki yang Dijanjikan.
Nah, kita memasuki rezeki level teratas. Level yang kadang tidak bisa diindra oleh mata fisik kita. Mari kita uka Q.S. Ath-Thalaq: 2-3!


وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ ... ٣
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)


Di situ Allah benar-benar janjikan, ya, dijanjikan bahwa siapa yang bertaqwa maka akan dikelurkan/diberi solusi dari berbagai macam masalah lalu akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (min haitsu laa yahtasib).
Siapa orang yang bertaqwa itu? Mereka yang ketaatannya pada Tuhan di atas segalanya. Apa yang dilarang ditinggalkan, yang diperintahkan dilakukan. Banyak cirinya dalam al-Quran. Diantaranya; Yang lisannya basah dengan istighfar dan ingat kepada Tuhannya saat melakukan dosa dan kemaksiatan. Memiliki hati yang luas untuk memaafkan manusia, dan yang gemar bersedekah baik di waktu lapang maupun sempit.


Ibadahnya kuat. Sunnahnya tertib; shalat dhuha, rawatib, lail, hajat, taubat dan sunah lainnya menjadi kebiasaan sehari-hari. Pokoknya orang yang menjadikan Tuhannya sumber hidupnya.
Ketika kualitas ketaqwaan sudah ada pada diri seseorang maka rezekinya langsung dibayar dari Allah dari arah yang tidak disangka-sangka dalam jumlah yang tidak disangka pula.


Kisah-kisah mereka yang dijanjikan rezeki oleh Allah ini banyak dijumpai. Ada beberapa contoh –kisa ini saya dengar dari ustad Salim A. Filla- ada seorang ustad yang tinggal di perumahan elit. Beliau tinggal di samping masji dan paling tidak bermateri dibandingkan penghuni kompleks tersebut. Cuman dia yang tidak punya mobil. Namun, beliau ke mana-mana selalu naik mobil, gonta-ganti lagi. "Ustad, mohon kalau mau kemana-mana, mbok bilang, mobil saya dipake aja ustad. Saya kok tenang kalau ustad yang make, ada berkahnya." Kata tetangga sebelah. Di garasi ada Pajero Sport.
Ternyata tetangga sebelah dengar, "Ustad tidak adil kalau begitu. Mabil saya juga dipake donk! Gantian." Di garasi ada Fortuner. Tetangga yang lain pada tahu, "Ustad dibuat jadwal saja. Hari ini mobilnya siapa, besok siapa gitu. Biar kita semua bisa mendapat berkah."


Subhanallah, siapa yang menggerakkan hati mereka? Allah. Buat siapa? Buat manusia yang memasrahkan hidupnya hanya padaNya. Min haitsu laa yahtasib.


Masih ada. Beberapa ustad menggunakan handphone yang mahal, iPhone 6S plus. Gila harganya kan 14 juta. Dari mana ustad uangnya? Ternyata habis ngisi pengajian ada jamaah yang datang. "Ustad doakan semoga hidup saya berkah. Ini ada HP murah, buat ustad untuk berdakwah." Jleb.


Satu lagi ya. Sudah ngiler belum? Ini masih tentang ustad. Meskipun ustad tidak ada jaminan langsung bertakwa. Tapi pada umumnya iya. Taqwa menjadi hak kita semua. Kemana-mana naik mobil mahal pada zaman itu BMW. Hal ini menimbulkan pertayaan jama'ah, "Ustad dapat uang dari mana, mobilnya saja ratusan juta."
Sama dengan kasus sebelumnya, beliau ditawari oleh jama'ah yang akan menjual mobilnya. Dan beliau berharap yang membeli adalah sang ustad, dengan sedikit memaksa. "Ustad punya uang berapa?" "Cuman 30 juta. Itu pun tidak bisa cash." "Ya sudah, segitu aja. Dan boleh nyicil ustad tanpa bunga dan batasan waktu."
Sudah ya. Contoh lain coba kita cari sendiri di sekitar kita. Tapi, mari kita pikirkan dan renungkan. Katika kita dekat dengan Allah, rasa-rasanya kok hidup ini semakin mengecil. Tidak ada beban, ketakutan tidak bisa makan, rezeki lancar jaya, mengalir. Coba rasakan!


Pertanyaan terakhir, di level mana rezeki kita hari ini?

 

Dilihat 313