#Catatan Hati Seorang Ayah (8). Mengapa kita Bercerai Sayang? (2)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 November 2016
#Catatan Hati Seorang Ayah (8). Mengapa kita Bercerai Sayang? (2)

Mengapa kita Bercerai Sayang (2)

Jangan main-main dengan kata cerai karena ini sangat berkaitan dengan halal haramnya kelamin pasangan kita. Bahkan bercandanya seorang suami bisa jatuh cerai. Misalnya, suami mengatakan dengan bercanda, “kalau kamu naik tangga itu saya ceraikan!” maka ketika istri naik tangga tersebut dan tidak mengindahkan larangan suami maka jatuh cerai. Ini bahayanya.

Bercerai hanya diperbolehkan dalam urusan agama. Itu pun tidak serta merta, ada tahapan-tahapannya. Nasihat yang baik, pisah ranjang, hukuman fisik sampai pada titik harus pisah.

Allah Maha Adil, Maha melihat, Maha mendengar. Nabi pernah mengatakan, “Aljaza bijinzil amal,” balasan akan datang sesui kadar perbuatan yang dilakukan. Kalau kita (suami/istri) sudah adil, berbuat baik, dan memenuhi semua hak dan kewajiban sebagai suami/istri namun pasangan kita yang buruk. Maka demi Allah, jika kita bercerai Allah akan datangkan pengganti yang lebih baik dari sekarang. Tetapi, jika kita (suami/istri) yang berbuat buruk, melalaikan hak dan kewajiban, berbuat tidak benar maka, Allah Akan menggantikan dengan pasangan yang buruk atau lebih. Karena Allah maha adil.

Nikah bukanlah untuk satu atau dua tahun. Ini akan berlangsung sampai nanti kita pinang kembali istri kita di akhirat. Ijab Qabul di dunia menjadi aqad yang tidak ada putusnya sampai kekal di surga. Maka, pernikahan dalam Islam tidak ada kata cerai.

Perlu disadari, bahwa setan sangat senang bahkan diganjar sebagai prestasi yang luar biasa jika mampu menceraikan sebuah keluarga. Jika di jalan kita digoda 10 setan, maka di rumah ada ribuan setan mencoba merusak rumah tangga kita. Maka tidak heran jika ratusan kasus perceraian setiap hari yang menunggu putusan hakim. Coba cek, berapa persen yang bercerai karena hal yang prinsip. Hampir semuanya berangkat dari hal-hal yang sepele.

Terkadang dimunculkan perasaan bosan melakukan hubungan biologis antara suami dan istri. Malas melayani, padahal berpahala. namun, di sisi lain jika bersama dengan wanita/pria lain yang bukan pasangan sah kita, muncul hasrat dan perasaan nafsu. Bosan dengan pasangan, namun sangat bersemangat dengan pria/wanita lain. Ini termasuk tipudaya setan.

Maka, tidak heran bila ada juga orang yang bisa melakukan hubungan biologis dengan wanita pelacur yang jorok, bergonta ganti pasangan, mulut bau rokok dan alkohol. Sementara ia tidak selera dengan pasangan yang halal, bersih dan suci.

Sungguh kebaikan atau pahala dari hubungan biologis suami istri sangat besar di sisi Allah. Sebesar dosa pelaku zina. Hubungan seks jika diniatkan karena Allah akan bernilai ibadah. Sahabat pernah bertanya tentang apakah berhubungan suami istri itu berpahala?

Rasulullah SAW bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Abdullah bin Umar saat berpuasa, setelah makan kurma dan shalat Maghrib ia pulang menggauli istrinya. menumpahkan hasrat biologisnya kepada istrinya. Untuk mencari keutamaan pahala hubungan biologis ini.

Oleh karena itu, ciri wanita wanita Ahli surga adalah jika kamu memandangnya, ia menyenangkanmu. Menyenangkan semuanya; cara berpakaiannya, dandanannya, dan godaannya. Kedua, saat ia melakukan kesalahan atau suaminya ia mendatangi suaminya di malam hari lalu memegang tangannya, "Wahai suamiku, saya tidak bisa tidur sebelum engkau ridha."

Ridha suami menjadi tiket istri ke surga. Ridha artinya semua kebutuhan dan hak suami dipenuhi istri, sehingga tidak ada lagi alasan bagi suami mencarinya di luar rumah. Suami merasakan betul kehilangan sang istri.

“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu banyak hal yang harus kita jaga agar bahtera ini tidak kandas. Misalnya jika ada masalah jangan diinapkan. Yang salah meminta maaf, yg benar memaafkan. Karena kita pasti pernah salah. Setan akan bermain di masalah yang diinapkan. Selesaikan hari itu juga.

Tidak ada alasan kita bercerai sayang. Mengapa kita bercerai? Karena kamu tidak taat pada Tuhanmu. Itu saja.

 

  • view 247