#Catatan Hati Seorang Ayah (7). Hari Membaca bersama Raisa

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Oktober 2016
#Catatan Hati Seorang Ayah (7). Hari Membaca bersama Raisa

Membaca Bersama Raisa

Siapa yang tidak pengen melihat anaknya rajin membaca dan kutu buku? Sesusah apa pun kondisi keuangan orangtua, tetap akan dengan senang hati memenuhi permintaan anaknya untuk beli buku.

"Bunda, mbak mau beli buku bacaan, boleh nggak?"

Orangtua mana yang menolak bahkan mungkin bisa sangat senang mendengarnya. Dibandingkan anak-anak meminta hape, motor dan lainnya yang menghambat meraih masa depannya.  Karena orangtua pun sadar jika membaca itu sangat bermanfaat meskipun mereka sendiri tidak doyan membaca buku. Semalas-malasnya orangtua tetap ingin anak-anak mereka rajin.

Begitu pula dengan saya sebagai orangtua yang saat ini dikarunia dua orang anak. Tetapi, kami sadar bahwa anak bukanlah objek mati yang bisa dibentuk sesuka hati orangtua. Kami menghindari menjadikan anak sebagai lampiasan segala bentuk keinginan ayah-ibunya bahkan keluarga besarnya.

Tidak sedikit bukan, anak-anak yang menjadi korban keinginan orangtua. Anak dipaksa les, bimbel sepulang sekolah. Seolah masa depan anak akan cemerlang dengan semua ini.

Namun, melihat kondisi bangsa kita dengan minat baca yang rendah juga menjadi PR orangtua. Di satu sisi anak tidak boleh ditekan, disisi lainnya minat baca harus ditanamkan sejak dini.

Leonhardt, penulis buku tentang menumbuhkan minat baca pada anak mengulas tahapan-tahapan yang harus ditempuh orangtua agar anak gila membaca. Pertama, membacakan buku-buku kepada anak sejak dini. Anak diminta memilih sendiri buku bacaan yang ingin dibacakan. Orangtua tetap harus merespon positif setiap bacaan yang dipilih meskipun buku itu berungkali menjadi pilihannya.

Kedua, bersikap santai. Ciptakan suasana membaca menyenangkan dan penuh kekonyolan. Ubah suara, mimik dan gestur tubuh memperagakan bacaan. Berteriaklah atau bersikap ketakutan. Lalu tertawa lepaslah bersama-sama menikmati petualangan.

Ketiga, Bermain melibatkan buku. Anak-anak diajak untuk membacakan cerita kepada boneka-boneka yang mereka miliki. Bisa juga anak-anak diajak bermain di toko buku atau perpustakaan dengan beraneka ragam buku.

Keempat, Mengajak anak menjadi pembaca mandiri. Saat anak-anak sudah bisa membaca meskipun terbata-bata mulailah jangan memanjakan anak-anak dengan membacakan terus menerus. Berpura-puralah kelelahan dan mengantuk dan tidak mampu melanjutkan. Lalu suruhlah anak untuk melihat bukunya sendiri.

Kelima, penuhi rumah dengan buku. Buku-buku bacaan anak yang menarik diletakkan di area yang mudah dijangkau. Buat jadwal akhir pekan anak-anak diajak ke toko buku belanja. Jadikan kegiatan rutin.  Pada akhirnya, yang paling penting adalah orangtua harus rajin membaca. Anak adalah pencontoh yang unggul.

Kembali pada bagaimana kami membangun keluarga cinta buku dan membaca, sebelum saya tahu teori di atas, sedikit lebih kami sudah memperaktikkannya. Anak pertama, ya si Raisa sejak kecil memang memiliki ketertarikan untuk bisa membaca. Kami belum memulai, Raisa sudah meminta untuk diajarkan. Terlebih alat yang kami gunakan cukup menari, semacam bermain kartu yang ada gambar-gambar binatan, tumbuhan, gedung dll yang pada akhirnya nanti ada point yang diperoleh dan diganjar hadis es krim. Horeee aku dapat ini!

Tidak butuh lama, di usia yang ke-empat Raisa sudah mulai bisa membaca dan mengeja. Buku cerita yang berisi 360 kisah inspiratif menjadi hadiahnya. Tebal dan cukup mahal karena ilustrasi yang full colour. Tidak masalah.

Tidak ada paksaan, tekanan, dan omelan. Semunya berjalan normal dan menyenangkan. Namun, karakter anak kedua berbeda. Hem, strategi baru dimulai.

 

  • view 141