Ngapain Sekolah di Muhammadiyah

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Oktober 2016
Ngapain Sekolah di Muhammadiyah

Ngapain Sekolah di Muhammadiyah

Orangtua akan bangga anaknya sekolah di Muhammadiyah. Mereka akan membusungkan dada kepada siapa pun yang menanyakan dimana anaknya melanjutkan studi. Di MUHAMMADIYAH. Karena Sekolah Muhammadiyah dikesankan sebagai sekolah modern, profesional dan bermutu. Begitulah nostalgia saya, mendengarkan cerita bapak-bapak di Muhammadiyah.

Hari ini, tanpa menutup mata, Sekolah di Muhammadiyah menjadi pilihan terakhir setelah gagal di pilihan pertama (the second choice). Ini fakta dan harus diterima sebagai tantangan. Tanpa menutup fakta juga bahwa masih banyak yang mampu menjadi sekolah dambaan pertama. Tapi, berapa? Yang paling penting adalah Pertanyaan selanjutnya, mengapa?

Mengapa ada yang mampu mencuri perhatian masyarakat? Lalu mengapa pula ada yang antara hidup dan mati, hidup segan mati tak mau. Laa yamutu wala yahya. Tidak bermutu dan kokean biaya? Pasti bapak/ibu sudah bisa memberikan jawaban. Kalau mau ditulis masalah yang ada tidak akan habis berlembar-lembar halaman. Saya akan tulis di bagian lain, ini masalah fokus kita apa.

Baik! Sekarang, jawaban apa yang bisa kita berikan kepada orangtua selaku komsumen ketika mereka bertanya, "Mengapa harus sekolah di Muhammadiyah?" "Apa bedanya dengan sekolah lain?" Silahkan dijawab! Setelah itu berikan bukti di lapangan!

Realitas berbicara, berapa banyak sekolah Muhammadiyah yang meluluskan siswa baik di tingkat SD sampai SMA yang belum bisa ngaji dengan baik? Belum bisa shalat dengan baik? Masi meninggal shalat fardhu, masih Tidak hafal bacaan-bacaan shalat dan lain sebagainya.  Padahal itu semua adalah kebutuhan dasar (basic need) dalam beragama. Dan kita adalah sekolah Islam yang jualannya adalah Islam itu sendiri. Belum lagi masalah akhlak dan budi pekerti. Hem, sudah kelihatan bukan PR besar kita.

Kalau kita hanya meratapi nasib lalu berpasrah menerima kenyataan maka jangan salahkan nanti akan bermunculan sekolah-sekolah yang mampu memberikan bukti-bukti nyata yang tidak bisa kita berikan. Hari ini, sekolah-sekolah IT sudah mendapat pasar di masyarakat. Kita bisa apa?

Mari kita renungkan! pertanyaan seorang motivator, "Apa bedanya nasi goreng kaki lima dengan bintang lima? Kaki lima berharga 8000 rupiah, bintang lima berharga 80.000 rupiah, Koq bisa? Apakah telornya 10x lebih banyak? Padahal sama-sama 1 butir. Apakah ayamnya 10x? Nasinya 10x? atau rasanya 10x lebih enak? belum tentu!"

Terus apa bedanya?

Bintang lima lebih higienis, rapi, tempatnya nyaman, timun dan tomatnya dipotong cantik sebagai hiasan. Masalah rasa, belum tentu menang!

Ini yang namanya VALUE = Nilai

Apa bedanya gula kiloan dengan merek Gulaku? Kenapa harganya 20% lebih mahal?

Mengapa Anda lebih memilih belanja di Super Market, Alfa Mart, Indo Mart, Mall, dll padahal selisih harganya jauh dibandingkan di pasar tradisional? Tanpa menunggu jawaban saya jawab; tempatnya nyaman, hegienis, praktis, semua kebutuhan tersedia, gengsi, bisa sambil rekreasi keluarga dll.

Ini yang namanya VALUE.

Ada sekolah yang masuknya saja tidak itung-itung besarnya pembiayaan, SPP bulanan, uang kegiatan dan sebagainya. Pokoknya bayarnya muuaaahal. Dan ternyata peminatnya tidak pernah berkurang bahkan berlebih. Mengapa? Ya, ada value yang mereka jual. Market butuh value itu.

Dan tidak sedikit sekolah gratis, bahkan baju seragam pun gratis namun peminatnya semakin hari semakin menipis.

Ada prinsip bisnis yang cukup menarik, Value before money, Nilai dulu sebelum berbicara uang. Uang hanya efek samping dari tingginya value yang kita berikan.

Ini soal Value, nilai. Maka sekolah-sekolah Muhammadiyah mulai harus berbenah. Tingkatkan value! Semua guru dan karyawan memberikan konstribusi pada value. Think Value Value Value. Apa value yang akan kita jadikan branding sekolahan kita masing-masing? Silahkan dimusyawarahkan. Misalnya saja, pelayanan prima, kedisiplinan guru dan karyawan, lingkungan bersih, keagamaan yang baik, akhlak yang baik dan nilai plus plus lainnya.

Ambil sisi-sisi yang tidak dimiliki sekolah lain. Sangat naif rasanya kalau anak-anak kita diajak bersaing memperebutkan nilai ujian nasional dengan sekolah negeri –meskipun itu mungkin- dengan SDM dan sarana prasarana kalah. Maka yang dibangun adalah jiwanya, manusianya, dan karakternya. Lagu Indonesia raya mengatakan, bangunlah jiwanya bangunla badannya.

Bagi saya, mengejar nilai itu seperti mengejar dunia. Membangun mental manusia seperti mengejar akhirat. Kejar akhiratmu maka duniamu pasti ikut. Namun, jika duniamu yang menjadi orientasi hidup bersiaplah untuk kecewa pada keduanya.

#catatan hati seorang guru Muhammadiyah

Syahrul

Teacher-Writer

 

  • view 284