#Catatan Hati Seorang Ayah (4) Tanyakan aja sama Google!

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Oktober 2016
#Catatan Hati Seorang Ayah (4) Tanyakan aja sama Google!

Menjadi guru, orangtua, pekerja atau apa pun itu, harus memantaskan dan memaksakan diri untuk selalu memperbesar kapasitas diri. Sehingga tantangan hidup bisa diselesaikan dengan mudah. Saat keilmuan kita tidak berubah dan hanya itu-itu saja sementara masalah dan tantangan hidup semakin rumit dan sulit inilah yang akan menimbulkan masalah. Ada adagium lama, saat anda berhenti belajar saat itu anda harus berhenti mengajar.

Saat masih di kandungan, betapa hidup bagai di surga. Semua tersedia tanpa harus berusaha. Tempat nyaman fasilitas aman. Kemudian lahir dan menjalani status sebagai bayi, tentangan mulai ada namun masih ringan. Haus, popok basah, laper tinggal nggeeekk langsung datang.

Hari ini, anak-anak kita tumbuh di era digital. Semuanya serba nyaman dan instant. Kalau tidak hati-hati akan berbahaya. Anak-anak mudah putus asa dan lebih memilih jalan pintas untuk sukses. Kelihatannya pintar namun tidak berkarakter.

Di zaman saya dulu, usia SMA belajar komputer hanya bagi mereka yang berduit. Pokoknya yang bisa komputer keren dan cool. Seolah dunia dalam genggaman. Mana ada kita kenal youtube, google, facebook dan puluhan media sosial lainnya.

Tapi, lihat anak-anak kita hari ini. Seperti makanan saja. Media sosial seperti kebutuhan pokok. Gadged canggih dan komputer bukan lagi barang mewah. Begitupula anak-anak saya tumbuh dan berkembang dengan dunia medsos di dalamnya. Lincah sekali mengoprasikan smartphone. Bahkan tanpa diajari.

Dengan celotehannya yang manja, si sulung menjelaskan cara mengaplikasikan game-game tertentu. Sekali-kali menunjukkan hasil menggambarnya di kamputer dengan aplikasi paint. Begitupula hasil editan gambar di smartphone umminya.

"Ummi, tolong donk puterin lagu anak-anak di youtube." Rengek si sulung. "Iya mi, utub utub itu loh." Timpal si bungsu dengan lucu.

Hahah.. dibalik senyum ada sebuah PR besar. Di usia yg sangat dini mereka akan berkenalan dengan dunia tanpa tuan. Bak rimba belantara. Anak-anak tidak mungkin dicegah memiliki benda-benda ini. Meskipun kita bisa memaksa mereka tidak memilikinya, tapi tidak di luar sana. Tidak saat mereka besar nanti. Maka tugas terpenting adalah mengedukasi mereka untuk memahami dan menggunakan pisau ini dengan baik dan benar.

Hem, begitupula yang terjadi malam itu saat saya memijiti mbah Uti. Saya panggil si Sulung untuk membantu, agar terbia menyentuh dan mengurut tubuh simbahnya yang mulai mengeriput.

 "Sa.. ini buatanmu ya?" Uminya bertanya sambil melihatkan kertas lipat berbentuk binatang. "Iya donk."

 "Kok bisa? Umi aja nggak bisa."

"Buka aja google!" Begitu refleks dan familiar.

 “Bukan Google Sa.. Mbah Google!!!”

 Ha ha ha ha, kami terbahak bersama.

  • view 192