#Catatan Hati Seorang Ayah (3) Abi Suka Bohon?

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Oktober 2016
#Catatan Hati Seorang Ayah (3) Abi Suka Bohon?

Saat asyik ngobrol dengan rekan kerja, di saat yang sama ada anak pertana saya Raisa. Sekali-kali saya menanggapai celoteh raisa yang berusia sekiar 4 tahun. Sesekali teman saya pun menggoda Raisa. Entah mengapa, terlontar dari bibir mungilnya, "Abi suka bohong." Degg!. Jantungku terasa mau copot, teman saya pun senyum-senyum simpul penuh makna. Karena tidak ingin merusak suasana dengan mengkonfirmasi Raisa akan maksud bohong itu apa dan dari mana kata-kata itu bisa terlontar darinya.

Ini bukan main-main, hal pertana yang saya tanamkan kepada anak-anak adalah berani jujur. Bahkan uminya anak-anak saya wanti-wanti untuk selalu jujur dalam berkata meskipun itu bercanda. Kebanyakan orangtua memilih tidak jujur saat harus meninggalkan anak di rumah yang merengek mau ikut.

“Ayah cuman sebentar ya!” “Ibu tidak kemana-mana cuman ke situ.” Padahalal mau ngantor atau kerja. Bagi saya, jujur saja! Jelaskan pada anak jika kita mau ke mana dengan segala konsekuensinya. Pergi kerja, waktunya lama dan anak-anak nggak boleh ikut. Meskipun mereka merengek dan menangis tetapi itu sementara. Insyallah, akan tumbuh rasa percaya kepada orangtua, bahwa apa yang diomongkan orangtua adalah benar.

Betapa lukanya hati seorang anak yang dijanji dengan kebohongan. Ayah atau ibu mengatakan hanya kan ke depan sebentar namun, kenyataannya malah ke kantor atau bekerja. Memang, anak akan reda tangisnya untuk sementara. Namun, anak akan merasa ditipu dan itu akan terakam sangat kuat.

Rasa penasaran saya pada ucapan Raisa mengantarkan kami duduk berdua dan berhadap-hadapan. Dengan pelan saya awali pembicaraan,  “Siapa yang ngajari mbak Raisa kalau abi suka bohong.” Setelah raisa menjelaskan dengan terbata, suara tawaku pun meledak.. Oh gitu tho, Masya Allah betapa anak itu pencontoh yang ulung dan pengingat yang luar biasa.

Ceritanya begini, sepulang kami dari acara study tour bersama siswa tempat saya mengajar, yang kebetulan saat itu di WBL, Lamongan. Raisa begitu antusias dan tak henti-hentinya menceritakan pengalamannya selama di sana pada uminya yang memang tidak ikut. Mendengarkan anak dan ibu ngobrol heboh, keluar secara spontan dari mulut saya waktu itu., "Wah Raisa ini demam WBL." Merasa aneh, Raisa menjawab, "Eh Raisa kan ngak demam Mi. Iya kan Mi?" Kami hanya senyum-senyum saja mendengarkan pembelaan dirinya.

Kami pun tidak berusaha untuk menjelaskan apa itu 'demam' yang dimaksud. Rupanya itu terekam dalam hati si Raisa. "Eh, Abi kan pernah bilang kalau Raisa demam? Padahal kan tidak. Abi bohong" Subhanallah, kejadian yang sudah cukup lama dan saya pun sudah lama melupakannya ternyata masih terekam kuat dalam memorinya. Sayangnya, karena kami juga dulu tidak menjelaskannya, memori itu menjadi negatif. Anak adalah perekam ulung, pencontoh tangguh. Apa yang didengar diucapkan, apa yang dilihat dilakukan.

Maka, jangan sekali-kali tidak menjelaskan sesuatu yang harus dijelaskan.

  • view 169