#Catatan Hati Seorang Ayah (2) Menurunkan Ego

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Oktober 2016
#Catatan Hati Seorang Ayah (2) Menurunkan Ego

MENURUNKAN EGO

Abu darda berkata kepada istrinya; jika aku sedang emosi redemkanlah emosiku. Sebaliknya jika engkau sedang emosi aku akan berupaya untuk meredamnya. Jika hal ini tidak kita lakukan maka pasti rumah tangga kita akan bubar.

Setiap fase kehidupan ada tantangannya. Remaja ada ujiannya sendiri. Begitu pula pemuda. Yang masih bujang (jomblo) ada dinamikanya begitu pula yang telah berkeluarga. Life is never flat adalah sunatullah yang Allah titipkan yang di dalamnya ada kenikmatan.

Dalam membangun rumah tangga, kita kayaknya harus sepakat bahwa perselisihan dua pasangan suami istri menjadi niscaya. Hampir semua bahkan mungkin tidak ada rumah tangga yang sepi dari perselisihan dan pertengkaran. Pun keluarga Baginda Rasulullah, saat istri-istri beliau meminta tambahan uang belanja sehingga Allah turunkan surah al–Ahzab ayat 28 dan 29.

Yang membedakannya pada kuantitas dan kualitas pertengkaran itu. Ada yang rutin hampir tiap hari. Dan dalam urusan-urusan yang remeh temeh bin sepele.

Bagaimana pun juga menyatukan dua orang yang berbeda bukan perkara gampang. Masing-masing terlahir dalam kultur yang berbeda, budaya, adat, pola pengasuhan, dan lain sebagainya. Bagi istri mungkin menurutnya ia benar tetapi bagi suami salah. Istri melihat suami egois sedangkan suami melihat istri manja. Perbedaan sudut pandang ini jika sama-sama ngotot maka akan membawa disharmonisasi yang tidak berkesudahan.

Maka masinh-masing pasangan harus mendialogkannya dan mencoba membangun komunikasi yang baik. Sehingga muncul rasa saling pengertian. Berumah tangga adalah seni menciptakan kedamaian dalam perbedaan. Sepakat?

Pada awalnya, saya dengan istri saat menikah bagaikan berada pada dua titik yang saling berhadapan. Saya dari timur dia dari barat barat. Kami hidup dan besar dalam keluarga yang 180 derajat berbeda. Pastinya, karakter yang terbangun pun berbeda.

Sehingga awal-awal menikah, banyak hal yang harus kami benahi dan buat kesepahaman bersama. Istriku terlahir dari keluarga Jawa yang penuh sopan santun dengan masyarakat yang ramah. Dengan budaya asah, asih dan asuh yang kental. Lahirlah seorang gadis yang lemah lembut dan sensitif.

Sementara saya terlahir dalam lingkup keluarga Makassar yang banyak meledak-ledaknya. Ayah mendidik saya dengan keras begitu pula lingkungan membentuk mental keras dan cenderung kasar. Bagi saya masalah harus selesai dengan iya atau tidak. Hitam atau putih. Bagi istri, ada dialog dan kompromi pada segala hal. Udah nggak ketemu kan.

Awal-awal menikah, perbedaan itu sangat kerasa. Misalnya, saat saya harus berselisih paham dengan teman, karena masalah yang menurut saya terlalu lebay untuk dipermasalahkan. Bagi saya, ngapain dipertahankan. Selesai. "Mas jangan begitu tho! Ngaak bagus" Merasa disindir, saya nggak terima, "’Kan dia yang mulai? Dia sih. Masalah sepele saja dibesar-besarkan."

"Kan bisa diselesaikan baik-baik. Toh selama ini dia baik. Umi sejak dulu selalu pengen dengan suami yang lemah lembut.” Merasa tidak didukung malah disindir, tiba-tiba darah mulai naik. "Hem, ya sudah selesai. Nggak usah dibahas."

Jika emosi mulai naik, sebaiknya diam. Jika pun harus diteruskan, carilah tempat yang aman dari jangkauan anak-anak. Menurunkan ego personal menjadi penting dan itu harus dipelajari dan diusahakan. Semakin lama perjalanan rumah tangga semakin bijak kita menyelesaikan ego dan konflik. Berhenti merasa benar, meskipun anggapan kita berada pada posisi yang benar namun buat apa dipertahanakan.

Tunggu waktu yang tepat untuk dikomunikasikan. Tanpa belajar, konflik akan terus membesar dan akibat paling fatal adalah bubarnya rumah tangga. Atau paling tidak rumah yang harusnya menjadi surga terasa dipenjara.

Pernah seorang ibu yang sudah cukup lama berumah tangga, dengan anak sulung yang sudah menginjak SMA sedang konflik dengan suaminya. Setelah cukup lama bercerita, akhirnya terucap kata yang membuatku tertegun, "Saya cuman ingin bapak minta maaf. Itu saja." Ya Allah memang tidaklah mudah untuk memulai meminta maaf apalagi bagi suami yang terkadang gengsi lebih besar. Itu minimal yang saya rasakan diawal-awal pernikah. Namun tidak untuk selama itu. kehidupan kemudian mengajarkan saya untuk lebih mudah meminta maaf dan memberi maaf. Insyallah itu lebih mendamaikan, pun jika yang salah adalah istri sendiri.

Sebagai suami biasa, saya selalu berusaha mengingat kisah Sahabat Umar ra. Ini. diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Umar ibn al-Khattab r.a, hendak mengadukan akhlak istrinya. Sesampainya di sana, dia berdiri menunggu di depan pintu. Tiba-tiba dia mendengar istri Umar sedang ngomel-ngomel memarahi beliau. Umar pun hanya terdiam, tidak membalas omelan istrinya. Laki-laki itu pun dan berkata pada dirinya: “Jika saja seorang Amirul Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan diriku?” tidak lama berselang, Umar keluar dan melihat lelaki itu sedang meninggalkan rumahnya, lalu memanggilnya: “Apa keperluanmu?!”

Dia menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, saya datang bermaksud untuk mengadukan akhlak istriku yang suka memarahiku kepadamu. Lalu aku mendengar istrimu tengah memarahimu. Maka aku berkata pada diriku sendiri: “Jika Amirul Mukminin saja sabar menghadapi omelan istrinya, lalu kenapa saya harus mengeluh?” maka Umar berkata: “Wahai saudaraku, sesungguhnya saya bersabar, karena memang istriku mempunyai hak atasku. Dialah yang telah memasak makan buatku, mencuci pakaianku dan menyusi anakku, padahal kesemuanya itu tidak diwajibkan atasnya. Disamping itu dia telah mendamaikan hatiku untuk tidak terjerumus kedalam perbuatan yang diharamkan. Oleh karena itu, aku bersabar atas segala pengorbanan.” “Wahai Amirul Mukminin istriku pun demikian,” kata lelaki tadi. Maka Umar pun menasehati: “Bersabarlah wahai saudaraku, karena omelan istrimu itu hanyalah sebentar.”

  • view 244