Dicabutnya Kenikmatan Ibadah (2)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 31 Januari 2016
Dicabutnya Kenikmatan Ibadah (2)

Kisah Tsa'labah cukup menarik untuk kita jadikan bahan renungan mengahiri dua tulisan ini. Seperti biasa selepas shalat Tsa'labah bergegas meninggalkan jama'ah tanpa berdzikir barang sejenak. Hal ini terjadi cukup sering, sehingga mengundang Rasulullah untuk bertanya. "Ada apa gerangan wahai Tsa'labah, mengapa tidak engkau sempatkan untuk sejenak berdzikir??
"Maaf ya Rasulallah, bukan bermaksud untuk meninggalkan keutamaan dzikir tapi di rumah, saya sedang ditunggui istri. Saya hanya memiliki satu sarung yang saya gunakan berdua." Jawab Tsa'labah memelas.

?

Pada akhirnya, Tsa'labah memohon kepada Nabi agar ia didoakan, dimudah rezekinya dan diangkat kemiskinannya. Pada awalnya Rasulullah meminta kepada Tsa'labah untuk mensyukuri apa yang sudah ada. Bersyukur lebih baik daripada meminta lebih. Karena dimintai terus, pada akhirnya nabi menghadiahkan seekor kambing betina yang sedang bunting.

?

Beberapa bulan kemudian, lahir dua anak kabing, lalu bertambah, bertambah dan terus bertambah.?Sampai sesak kota Madinah karena kewalahan menangani gembalaannya. Lama kelamaan Tsa'labah sudah jarang muncul di masjid untuk melakukan jama'ah. Yang biasanya tertib mulai meninggalkan satu persatu, shalat maghrib, isya, dan subuh. Tinggal Dhuhur dan Asar. Karena semakin bertambah sibuk dengan ternaknya, Tsa'labah hanya nongol di masjid saat Jum'atan saja. Bahkan setelah itu pun menghilang sama sekali. Sampai suatu hari Rasulullah menanyakan perihal Tsa'labah yang sudah tidak muncul lagi berjama'ah. Mengetahui kondisi Tsa'labah, Rasulullah mengirim utusan kepada Tsa,'labah untuk menarik zakatnya. Namun, Tsa'labah menyangsikan utusan Rasul. Dari sana kemudian Rasulullah menolak zakatnya sampai beliau wafat dan diteruskan dilanjutkan oleh khalifah Usman zakat Tsa'labah ditolak.

?

Cerita ini saya rekam baik-baik sekitar 20 tahun yang silam yang disampaikan oleh KH Zainuddin MZ melalui radio2. Meskipun, beberapa ahli hadis melemahkan kisah ini namun, minimal kita masih bisa mengambil hikmah dari sisi lainnya.

?

Keterbatasan kita melihat sebuah peristiwa mengantarkan pada penilaian kacamata kuda, hanya pada kulit luarnya. Melihat tumpukan kekuning-kuningan disangka emas. Sehingga presepsi nikmat dan bencana menjadi kabur. Oleh karena itu salah satu akhlak yang mulia dalam Islam adalah selalu berhusnudzan. Apa pun yang terjadi, sepahit apa pun itu tetap positif thinking bahwa itu yang terbaik yang Allah pilihkan.

Ketika kecintaan pada dunia sudah masuk ke dalam hati, maka sedikit demi sedikit kenikmatan ibadah dicabut. Ketika kesibukan dunia sudah mampu mengalahkan kenikmatan ibadah di situlah kita perlu kuatir. Masih inggat dengan ungkapan seorang ulama, "seandainya kekhusuan ibadah bisa dijual maka saya tidak akan menjualnya meski dihargai dengan dunia dan seisinya." Subhanallah.

Satu lagi, tanpa sengaja saya melihat sebuah vidio yang mengharukan, pertobatan seorang anak band metal. Berry Saint Loco. Sang fokalis menemukan hidayah dan sangat indah rasanya. Allahlah yang menggenggam dan membolak balikkan hati manusia. Berawal dari musibah penyiraman air keras lalu menemukan Islam sebagai agama yang sempurna, mengantarkannya kembali ke hakikatnya sebagai manusia yang fitrah.

Dalam sebuah acara talk show ada segmen yang membuatku sempat terharu. Saat Berry diminta memimpin dzikir, perlahan lafadz subhanallah terasa berat, serak dan tangisan sang Metal pecah sesegukan di lafadz ALLAH AKBAR. Allah Maha Besar. Saya terharu. Ternyata bukan cuman saya, saat vidio ini saya tayangkan dalam sebuah acara, tidak sedikit ibu-ibu yang meneteskan air mata.?


Kita tidak bisa membohongi hati ini. Sebenarnya kita juga rindu bisa merasakan tangisan kerinduan dan kebahagian saat melafadzkan nama-nama Allah. Kerinduan itu pun kita bisa rasakan saat orang lain bisa merasakannya. Hati kita sudah lama jauh dari Allah. Hati kita sudah lama merindukan kita untuk segera kembali dan memperbaiki diri. Hati kita sudah lama capek dan lelah bersahabat dengan dosa dan kemaksiatan.

Jika saat ini kita masih biasa-biasa saja saat nama-nama Allah disebut, hati kita tidak tergerak saat azan dikumandangkan, dan sama saja saat ayat-ayat suci dibacakan maka, mungkin kenikmatan ibadah sedang dicabut. Mari kita raih kembali. semoga

  • view 322