Dicabutnya Kenikmatan Ibadah (1)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 31 Januari 2016
Dicabutnya Kenikmatan Ibadah (1)

Allah menciptakan manusia bukan tanpa tujuan yg jelas, bukan? Tidak perlu cari dalilnya dalam al-Qur'an, cukup dg logika sederhana saja. Tujuan yg paling jelas adalah menjadi wakil Tuhan di muka bumi, agar bumi ini menjadi tempat yang makmur dan damai. Layak huni, minimal menjadi miniatur surga yg pernah ditempati oleh Adam as.?
Mengabdi dan beribadah hanya kepada-Nya juga bagian dari tujuan penciptaan manusia. Agar manusia hidupnya selamat dan terarah maka Allah menurunkan Agama sebagai pijakan. Ikuti agama ini dan apa yang Tuhan kehendaki maka hidupmu akan bahagia, karena sang pemberi kebahagian berpihak kepadamu.?


Bermaksiat atau menghianati kehendak-Nya hanya akan membawa pada kesengsaraan. Pasti itu. Tidak akan pernah bahagia org2 yg jauh dari kehendak Tuhannya, meskipun mungkin dilihat dari penampilan luarnya sangat wah dan aduhai. Wajah cantik, rumah gedongan, kendaraan berjejer, harta tak terhitung tapi, bila jauh dari Allah SwT, semuanya menjadi semu. Mengejar fatamorgana, hanya capek dan lelah. Mengejar kehidupan yang palsu bukan?

Tidak ada kebaikan yg didatangkan oleh penghianatan dan kemaksiatan kepada Allah SwT selain musibah. Ini berlaku sebaliknya, maka keberkahan turun dari langit untuk manusia-manusia dan negeri-negeri yg bertakwa. Jangan bayangkan musibah dan bencana itu hanya berupa kehancuran dan pemusnahan seperti topan, badai, banjir dan semacamnya. Bahkan musibah bisa jadi menimpa kita dan hanya kita yg merasakannya.

mari kita renungkan sebuah dialog yg terjadi antara Imam Basrah Hasan al-Bashari denga seorang laki-laki pada suatu hari. "Sesungguhnya aku, melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rezeqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya." Hasan bertanya sambil trsenyum prihatin, "Apakah semalam engkau qiyamullail, wahai saudaraku?"?
"Tidak," jawabnya keheranan. Mungkin ada logika berpikir yg tidak nyambung. Sama dengan logika kita, emang ada kaitan apa shalat dg rezeqi??
"Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluk yang berdosa dengan memutus rizeqinya, niscaya semua manusia di bumi ini sudah binasa. Sungguh dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamuk pun, maka Allah tetap memberi rizeqi, bahkan pada orang-orang kufur kepada-Nya." jelas sang Imam.
"Adapun kita orang mukmin, hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah SwT." Jleb dan speachless.

Dicabutnya kenikmatan ibadah juga musibah. Jika kita merasa shalat kita menjadi sangat menjemukan, dan berjalan biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial maka boleh jadi kita lagi banyak dosa dan kemaksiatan. Oleh karena itu Allah mencabut kenikmatan ibadah. Begitu pula kenikmatan berdzikir, puasa, sedekah, dan berjama'ah. Atau ketika kita merasa berat untuk Tahajjud, Dhuha, tadarrus al-Qur'an dan rawatib bisa jadi karena kita sedang bergelimang dengan dosa lalu Allah menegur kita dengan mencabut kenikmatan-kenimatan ibadah tersebut. Karena bagi seorang hamba yangg shaleh akan sangat menikmati seluruh aktifitas ibadahnya. Tidak ada kenikmatan dan kebahagian yg lebih indah selain menghadapnya seorang hamba kepada Tuhannya mengadukan segala gundah gulana hidupnya. Kenikmatan inilah yang dirasakan Rasul yg tdk merasakan kelelahan meski pun kaki beliau bengkak karena lama berdiri dalam shalatnya. Mungkin kenikmatan ini pula yg dirasakan oleh para sahabat saat harus mengeluarkan harta yg tidak nanggung-nanggung banyaknya di jalan Allah. Saatnya kembali! Kembali ke jati diri. Ke fitrah. Taubat!.

Bagi manusia yang dekat dengan penciptanya tentunya ritual ibadah menjadi moment yang sangat mengasyikkan dan ditunggu-tunggu waktunya. Namun, bagi kita yg masih senang dengan gelimangan dosa, ibadah menjadi sesuatu yang membebani dan menjenuhkan.?
Seumpama hati itu ibarat kaca/cermin dan kemaksiatan adalah setitik noda hitam maka, agar cermin tetap berfungsi dengan baik, memantulkan gambar dengan sempurna maka membersihkannya menjadi niscaya. Setiap hari. Karena semakin menumpuk kotoran dan noda semakin sulit untuk dibersihkan. Bahkan harus menggunakan cara-cara yang ekstrim.

Kisah Tsalabah akan lebih baik untuk kita renungkan sebagai menu penutup tulisan ini. Tsa'labah, seorang sahabat yg miskin. Setiap hari sehabis shalat ia langsung meninggalkan masjid tanpa melakukan dzikir.?

Bersambung...

  • view 283