Catatan Kecil Untuk Mamak. Selamat Jalan!

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Agustus 2016
Catatan Kecil Untuk Mamak. Selamat Jalan!

(Ibu Rumah Tangga tanpa Rumah)

Saat akan memulai menuliskan perjalanan hidup wanita hebat ini, saya bingung hendak memulai dari mana. Hidupnya penuh dengan kata "berdarah-darah." Setiap waktu yang dilaluinya sarat makna hidup dan perjuangan. Keikhlasan, cinta, kesetian, pengabdian dan pengorbanan wanita yang tidak selesai pendidikan Dasarnya ini mewarnai setiap tapak langkahnya. Menjalani takdir hidup tanpa pernah merasa harus protes atas bayaran dari apa yang pernah diberikan. Atau memaki Tuhan bahwa hidup ini tidak adil.

Wanita yang melahirkan saya 30 tahun yang silam ini, terlahir dari keluarga Jawa, tepatnya di Solo. Di zaman ketika wanita tidak boleh memiliki banyak keinginan dan angan. Taqdirnya ada pada tangan orangtuanya dan calon suaminya. Maka, saat datang seorang pemuda nanggung melamar, tanpa banyak negoisasi gadis cilik yang belum selesai pendidikan dasarnya ini pun dilepaskan. Menikahlah mereka. Sah!

Seorang pemuda yang keras karakternya dan idealis dalam sikap. Terkadang kasar dengan suara yang meledak-ledak. Saat bercerita suara khasnya berapi-api apalagi jika menyinggung masalah pemerintah yang tidak becus mengurus negara. Beliau juga mendidik anak-anaknya dengan keras. Tidak ada anak-anak beliau yang berani nyantai di rumah. Semuanya bekerja membantu di ladang. Terkadang, tetangga merasa iri, mengapa anak-anaknya nurut-nurut semua. Mereka tidak tahu jika laki-laki ini menggunakan tangan besi.

Petualangan dimulai. Entah mengapa, tidak ada yang tau pasti dari anak-anaknya, mengapa bapak dan mamak -begitulah kami biasa memanggilnya- hijrah ke daerah pelosok Sulawesi Selatan. Tepatnya di desa La Cinde. Membutuhkan waktu sekitar 7-8 jam perjalanan darat dari kota Makassar atau Ujung Pandang. Bersama dengan rombongan beberapa KK dari Solo, dipimpin oleh seseorang yang biasa mereka panggil pak Kyai. Rombongan ini kemudian membabat hutan belantara dan mendirikan sebuah pesantren secara bersama-sama. Mereka kemudian tinggal di pesantren dengan damai dan beranak pinak sana. Bapak termasuk memiliki lahan tanah yang cukup luas dan dengan kehidupan yang boleh dibilang makmur.

Karena ajaran dari Kyai yang mengharamkan KB (Keluarga Berencana) dan sangat diamini oleh pengikutnya termasuk bapak, maka lahirlah dari rahim mamak anak-anak yang cukup banyak dengan rentan waktu yang tidak lama. Jarak antara satu anak dengan anak yang lain sangat rapat. Beberapa anak terlahir di Jawa dan sebagian besarnya di Sulawesi Selatan. Lahirlah 10 anak, di awali perempuan dan di akhiri perempuan, 4 putra dan 6 putri.

Anak pertama sampai keempat kondisi ekonomi bapak masih normal dan cenderung baik. Namun, musibah mendera saat bapak dan mamak pulang ke Jawa. Dengan diiming-imingi hadiah dan keuntungan yang menggiurkan oleh sahabatnya, bapak merelakan sebagian besar tanah untuk dijual. Keuntungan yan dijanjikan itu tinggal janji, sahabat bapak meninggal dunia dengan uang hasil penjualan ilang tanpa bekas. Tertipu.

Akhirnya, saat bapak balik ke Sulawesi yang tersisa hanyalah rumah di lingkungan pesantren dan satu petak tanah yang tidak seberapa. Di sinilah kisah perjuangan dan kesetian seorang ibu rumah tangga tanpa rumah dimulai.

Entah apa yang terjadi –saya pun tidak tahu, bapak dan pak Kyai bersitegang. Perseteruan keduanya berdampak pada keberadaan rumah kami. Dengan wewenang yang dimiliki pak Kyai mengusir bapak dan seluruh keluarga.Tanpa menunggu lama, rumah (rumah yang berbentuk panggung yang bisa dipindah-pindah) digotong beramai-ramai ke tempat yang jauh ke luar dari lingkungan pesantren.

Di tempat yang baru, jauh dari tetangga dan jalan raya. Berada jauh di tengah perkebunan cengkeh dan coklat. Penghasilan dari kebun tidak seberapa ditambah jumlah anak yang sudah 8 membuat mamak harus mengatur keuangan agar dapur tetap bisa mengepul. Pernah suatu hari, dengan lembut mamak memanggil saya -usia saya saat itu kurang lebih 4 tahun-, "Rul... nanti malam kita makan singkong aja ya! Mudah-mudah besok ada rezeki. Ternyata persedian beras sudah habis.

Dua tahun, rasanya berat ditambah rumah yang sudah mulai rusak. Pindah atau mencari tempat lain. Tidak ada pilihan, akhirnya bapak harus meminta belas kasih kepada istri penjual tanah bapak agar bisa diperkenankan tinggal di rumahnya. Itung-itung sebagai balas jasa atas penipuan suaminya. Kebetulan, beliau tidak memiliki anak dan tinggal di rumah dinas yang cukup besar sebagai kepala sekolah. Diperkenankan untuk sementara.

Betapa tidak enaknya numpang di rumah orang lain dengan anak yang banyak serta kondisi ekonomi yang jauh dari cukup. Sangat terlihat ketidaksenangan dari tuan rumah atas kehadiran keluarga besar kami. Terlihat dari perlakuan beliau kepada kami saat di sekolah. Kami selalu mendapatkan hukuman atas kesalahan yang tidak kami ketahui. Cubitan, jeweran, hinaan dan bentakan menjadi makanan kami sehari-hari.

Kekesalan yang ia dapatkan dimuntahkan kepada kami anak-anak mamak. Betapa sedihnya seorang ibu yang selalu mendapati anak-anaknya mengadu dan memperlihatakan betis dan paha yang hitam kebiru-biruan setiap hari tanpa bisa berbuat apa-apa. Sementara bapak tidak tau menau karena kami tidak berani bercerita.  

Hanya beberapa tahun kami di rumah ibu kepala sekolah. Ayah kemudian menerima tawaran kerja di sebuah perkebunan dengan fasilitas rumah dengan sistem bagi hasil. Dengan memboyong semua anak-anaknya akhirnya kami pindah ke kabupaten Pinrang. Di desa yang cukup jauh dari jalan kota. Sementara kebun yang dijanjikan lebih jauh lagi. Otomatis setiap panen sayur mayur atau buah-buahan maka harus diangkut sendiri ke jalan raya karena tidak ada akses kendaraan.

Ibu dengan setia menemani bapak memanen lalu menggotong hasil panen dan menjualnya. Karena bagi hasil, sekedar mencukupi hidup sehari-hari saja itu sudah sangat kami syukuri. Semakin besar kebutuhan anak, semakin tidak mencukupi hasil pertanian. Untuk mencari penghasilan tambahan kami kemudian harus masuk hutan mencari kayu bakar yang kami jual seikat seharga 5 ribu rupiah. Sangat melelahkan. Ibu pun harus rela pulang dari kebun dengan dibebani seikat kayu bakar di punggung.

Tahun kedua, ibu melahirkan anak yang terakhir. Karena jauh dari rumah sakit dan tidak mampu dengan biaya persalinan. Melahirkan terpaksa dilakukan di rumah dengan bantuan para tetangga.

Musim kemarau yang panjang menambah susah untuk bercocok tanam. Penghasilan semakin menurun sementara tuan tanah semakin banyak menuntut. Pada puncaknya, terjadi perselisihan antara bapak dengan tuan tanah. Dengan nada tinggi tuan tanah mengusir kami sekeluarga. Kami diberi satu minggu untuk memberesi semua barang-barang yang kami miliki. karena belum ada tempat untuk pindah, ada seorang tetangga yang menawarkan jasa, siap menampung kami sekeluarga. Hidup numpang untuk kedua kalinya. Mamak tetap setia menemani bapak dan anak-anak. Tanpa protes sedikitpun.

Rumah diambil, kebun tempat mencari rezeki pun disita. Sementara, makan tidak bisa berhenti anak-anak butuh biaya sekolah. Lengkap! Maka, jalan satu-satunya adalah mencari kayu bakar di hutan untuk dijual. Bapak, ibu dan kami anak-anaknya setiap hari masuk keluar hutan mencari sesuap nasi.

Tidak butuh waktu lama, bapak kemudian mengambil keputusan, balik kembali ke kampung halaman dan numpang di rumah ibu kepala sekolah. Numpang kembali untuk ketiga kalinya. Dengan berat hati ibu kepala sekolah bersedia menampung kami kembali. Sikapnya kepada kami tidak berubah, kebencian tetap ada dalam setiap tatap matanya yang terkadang berbalut keramahan. Cubitan dan bentakan pun tetap berlangsung.

Cukup dua tahun, tawaran kembali datang kepada bapak. Sebuah perkebunan yang membutuhkan penjaga dan pengelola. Bapak hanya diminta merawat tanaman mangga dan mengelola tanah yang kosong. Fasilitas rumah dan alat-alat rumah tangga sudah disiapkan. Meskipun cukup jauh, harus menempuh sekitar 5-6 jam perjalan dan melalui dua kabupaten bapak langsung menyetujui.

Berangkatlah kami sekeluarga ketempat yang baru. Tempat yang jauh dari peradaban kota. Antara satu rumah dengan rumah lainnya berjauhan. Kehidupan bertani dimulai kembali. Bapak seorang pekerja keras yang juga mengharuskan semua anggota keluarga bekerja di peperkebunan.

Karena dikerjakan dengan tekun dan kerja keras, hasil pertanian pun melimpah. Tetapi sayangnya akses kendaraan ke kota sulit maka hasil pertanian dipasrahkan kepada tengkulak yang terkadang menekan dengan harga murah. Terkadang, ibu setiap minggunya ke pasar membawa berkarung-karung buah timun, tomat, dan sayur mayur lainnya. Berjalan menempuh jalan setapak sekitar 2 kilometer, sejak jam 3 dini hari hanya diterangi cahaya rembulan. Dengan disunggi atau dijunjung dan digendong. Terkadang saya yang menemani ibu.

Agar tetap bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak-anak sudah mamak syukuri. Terkadang panen gagal yang membuat bapak uring-uringan. Pernah suatu hari bapak gusar seharian, uang habis sementara persedian rokok habis. Mamak lah yang berbesar hati tidak menambah runyam suasana. Terkadang mamak menagis tersedu-sedu setelah berselisih dengan bapak. Kami anak-anaknya hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Empat tahun kemudian, suasana berubah. Pertanian tidak lagi bisa terlalu diandalkan. Karena bayaran yang lebih menggiurkan, bapak dengan mengajak mamak nyambi membuat batu bata di desa sebelah. Pertanian ditinggalkan sementara waktu. Mamak dengan setia menemani bapak tinggal di desa sebelah untuk beberapa waktu lamanya. Ternyata membuat batu bata bukan perkara gampang, kerja keras dan menguras tenaga. Mengadon tanah, lalu mencetaknya, menjemur dan kemudian membakar. Setelah melalui pembakaran, bata-bata siap dijual. Itu bukan pekerjaan ringan.

Hanya setahun bertahan, bapak dan mamak akhirnya pulang kembali dan melanjutkan bertani. Saya pun kemudian harus melanjutkan tradisi keluarga, setamat SD harus merantau ke pondok pesantren. Kebetulan di kota Pangkep ada pondok pesantren yang menggratiskan anak-anak yang tidak mampu. Semua kakak-kakak saya sekolah di sana. Begitupula saya dan tentunya adik-adikku pun sudah dipersiapkan. Enam bersaudara pernah mencicipi pendidikan di pondok tersebut.

Saya pun merantau. Tradisi membantu di kebun dilanjutkan oleh tiga adikku. Setahun berlalu, kondisi keluarga tetap sama. Dan pada tahun kedua saya di pondok, kondisi desa semakin sulit, kemarau melanda, air susah, dan panen banyak gagal. Muncul berita-berita kriminal. Kondisi desa tidak lagi aman. Dan terjadilah peristiwa yang di luar dugaan. Rumah bapak di datangi delapan pemuda yang bertopeng merampok isi rumah. Mereka dengan kejam menyiksa bapak dan mamak. Semua uang dan perhiasaan dirampasnya.

Tidak ada tempat mengadu di tengah desa yang tidak aman dan penduduk yang jarang. Seperti hidup di rimba, yang kuat yang menang. Perampokan ternyata diulangi untuk kali kedua, dan ini lebih sadis. Bapak dan mamak diikat dipohon dengan golok melekat di leher. Kembali rumah diobrak abrik, ayam yang dikandang disikat semua. Tiga adik saya hanya bisa menangis menyaksikan kebengisan mereka.

Merasa tidak aman, bapak meminta tolong kepada seorang tetangga jauh untuk sudi kiranya bisa menampung hidup keluarga kami di sana. Karena kebetulan, istrinya orang Jawa, maka suaminya mempersilahkan bapak, mamak dan adik-adik pindah ke rumah beliau. Untuk kesekian kalinya mamak rela merasakan hidup numpang di rumah orang.

Beberapa tahun tinggal, satu persatu adik-adik mulai menamatkan sekolah dasarnya, yang berarti harus pergi. Ketika si bungsu masih tinggal sendirian, maka bapak memutuskan untuk kembali ke kampung pertama yaitu Siwa, La Cinde. Dan bapak kembali ditawari untuk menjaga perkebunan durian dan coklat dan ada rumah yang sudah disiapkan dengan akses jalan yang lumayan. Di rumah inilah bapak dan ibu melanjutkan kehidupan berdua, karena si Bungsu pun harus meninggalkan rumah melanjutkan tradisi keluarga.

Setahun-dua tahun, rumah inilah yang menjadi tempat kami anak-anaknya pulang. Pulang ke kampung dan berkumpul dengan bapak-mamak, meskipun rumah ini bukan rumah pribada. Kami anak-anaknya selalu berdiskusi untuk mengusahakan membelikan rumah bagi orangtua. Bagaimana pun juga, mereka semakin tua, dan sampai sekarang belum memiliki rumah yang jelas. Sementara kami anak-anaknya pun membutuhkan tempat untuk kembali.

Rencana terus digulirkan. Mulailah beberapa kakak menabung dan merencanakan membeli rumah. Karena anak-anaknya lebih banyak tinggal di Kota Makassar, agar tidak begitu jauh dari anak-anak, rencana rumah yang akan di beli di sekitar Makassar. Namun, membeli rumah bukan semudah membalik telapak tangan. Harga sangat mahal. Maka, membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Ibu sudah mulai banyak mengeluhkan sakitnya, gulanya terlalu tinggi begitu pula tekanan darahnya. Namun, mamak bukanlah wanita yang bisa duduk santai-santai. Beliau terlahir sebagai wanita perkasa. Meskipun sempat dilarang oleh kakak akan keinginannya bersama bapak memetik cengkeh mamak tetap bersikeras. Dan, di sinilah musibah itu dimulai.

Mamak tertusuk kayu di kakinya. Awalnya hanya sakit biasa namun, lama-kelamaan luka kecil tersebut mulai bernanah. Ternyata gula mamak terlalu tinggi sehingga lukanya yang sudah mulai infeksi tidak bisa segera ditangani. Kaki mamak mulai membusuk, beliau sudah tidak bisa lagi bergerak, untuk beberapa hari mamak harus nginep di rumah sakit. Kaki mamak bolong dan dengan jelas terlihat tulang belulang.

Pada akhirnya, mamak harus tinggal di kota Makassar bersama kakak di rumah kontrakannya. Biaya untuk pengobatan, kontrol dan sebagainya tidak sedikit. Rencana membeli rumah kembali tersendat. Mamak terkadang sehat, terkadang sakit dan harus dirawat. Dua tahun mamak harus tinggal bersama kakak karena harus rutin mengontrol kesehatan.

Pada pagi yang cerah, tepatnya 14 Agustus mamak terjatuh saat sedang mengurus dapur. Kakak yang menyaksikan segera membawa mamak ke rumah sakit untuk memastikan apa yang terjadi. kondisi mamak sudah tidak stabil lagi. terkadang sadar, dan tidak bisa lagi mengontrol ucapannya antara sadar atau ngigau. Salah satu permintaannya adalah ingin mandi. Mandi dan mandi. Sebelum koma dan masuk ICU, beliau meminta shalat. Setelah itu beliau tak sadarkan diri.

Setelah istiraha sejenak, selapas perjalanan Jogja-Surabaya-Makassar, tepatnya pukul 06.00 WIT dengan hati yang mulai sesak dan mata yang mulai berat dan memerah. Perlahan saya melangkahkan kaki memasuki ruang ICU. Terbujur dengan selang oksigen di mulut dan infus di tangan, saya jabat dan cium tangannya yang masih hangat ini. Tangan wanita yang dulu mengelus-elus kepalaku, menjewer kupingku, menyuapi dan menghidupiku kini tangan ini tidak merespon lagi.

Assalamualaikum Mamak!!!

Tidak ada jawaban, hanya getaran nafas yang semakin melamban. Kucium keningnya, lalu pipinya. Ku ambil tissu dan mulai mengeringkan cairan yang keluar dari mulut mamak. Laa ilaaha illallah. Laa ilaaha illallah. Laa ilaha illallah. Suaraku lirih di dekat telinganya. Tidak ada respon. Tim dokter mulai berdatangan. Mencoba untuk memompa dan menekan dada mamak.   

Pada Kamis pagi pukul 07.00 WIT. Kalimat-kalimat tahlil mengiringi hembusan nafas yang terakhir, bulir-bulir air mata semakin deras membanjiri diikuti isak tangis kami anak-anaknya. Selamat jalan mamak! Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.

Mamak bukanlah seorang sarjana yang hafal puluhan teori, bukan pula ustadzah yang mengerti puluhan dalil, bukan pula psikologi yang mengerti kejiwaan manusia. Beliau hanya perempuan biasa yang tidak tamat sekolah dasar. Namun, sungguh beliau bagi kami melebihi itu semua. Kepasrahannya menjalani taqdir, kesabaran dalam berjuangan, keikhlasannya mendidik anak-anak dan kesetiannya membersamai suami menempatkannya bagai cahaya bagi anak-anaknya.

Satu dari sekian banyak yang kami sesalkan, kami belum mampu membuatkan mamak sebuah rumah. Ya, sebuah rumah. Kami terlalu lama. Sementara rumah yang dibuatkan Allah sudah lama jadinya. Allah tidak ingin melihat mamak lebih lama terlunta tanpa rumah di dunia ini. selamat mamak! Betapa indah rumah yang Allah buatkan untuk mamak di sana. Doakan kami semua bisa berkumpul di rumahmu itu. amin.

  • view 275