Proses Kreasi Buku Indahnya Hidup Bersama Allah (IHBA)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Buku
dipublikasikan 26 Agustus 2016
Proses Kreasi Buku  Indahnya Hidup Bersama Allah (IHBA)

 

Tidak ada ungkapan yang sepadan untuk membahasakan bagaimana buku ini lahir. ya, mungkin bisa dikatakan berdarah-darah. Karena jalannya yang panjang dan berliku. Lebay! Maklum buku perdana yang diterbitkan oleh penerbit mayor (Quanta). Membayangkannya sih rasa-rasanya nggak mungkin deh. Menjadi penulis dengan buku terpajang di toko buku se-Indonesia trus nama kita tertulis sebagai penulisnya. Wuih.

Namun, ketidakmungkinan itu yang selalu menggetarkan dan menantang hidup saya. Apalagi setelah membaca qoute dari imam Ghazali, "Jika kamu bukan anak raja, atau orang kaya, maka menulislah." Betul. Dan sangat menohok hati saya saat itu. Tidak ada lagi kata tidak mungkin. Saya ini siapa? Anak pejabat? Orang kaya? Pintar? Terkenal? Ganteng? Ah klo yang ini sensitif. Wajah pas-pasan, bukan menjadi pilihan pertama wanita. Nyadar dirilah.

Keinginan untuk menulis selalu gagal di langkah-langkah pertama. Buntu, tersumbat rasanya. Satu dua paragraf tertulis.... setelah itu... macett cett cett... dan bubar! Butuh satu bulan, hanya untuk bisa menyelesaikan satu artikel. Itu pun kadang berhasil, kebayakan gagal. Seperti mata air yang deras tetapi tersumbat. Dipikiran berkecamuk ribuan ide dan gagasan, namun berhenti dan entah mengapa tidak bisa tertulis saat pena sudah di atas kertas.

Impian biasanya akan menemukan jalannya. Seterjal dan se-impossible apa pun itu. Maka, adagium jangan pernah remehkan impian, saya sangat setuju. Bukankah semuan pencapaian manusia modern saat ini berangkat dari sebuah mimpi yang terkadang ditertawakan pada awalnya.

Block itu mulai pecah setelah bergabung di sebuah komunitas penulis, SPN (Sahabat Pena Nusantara) namanya. Namun, komunitas hanyalah alat, aktornya tetap kita. Dalam komunitas tersebut ada yang menawarkan bimbingan menulis sampai terbit. Keren. Tanpa ba bi bu ba saya langsung ikuut. Meskipun tetap mensyaratkan mahar yang tidak sedikit. Bayar! Bayangan akan memiliki buku mengalahkan nilai nominal uang. Namun, sehebat apa pun mentor, pelatih dan lembaga kursus tetap kembali lagi pada kita sebagai aktor dan penentu. Mau jadi penulis ya menulis. Nulis, nulis, dan nulis. Tanpa harus banyak teori. Saya rasa itu harus kita sepakati bersama. Deal!

Atas nasihat pembimbing, mulailah saya menulis tema-tema yang sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata hamparan kehidupan ini berisi berjuta hikmah dan pelajaran bagi mereka yang mau membuka mata. Saya mengamati, seorang teman yang masih muda dengan karir yang cemerlang, namun kecemerlangan karir tidak dibarengi dengan kebahagian. Setiap hari dilaluinya dengan penuh jadwal dan target. Sibuk dari bagun sampai bangun kembali. Sementara ibadahnya keteteran dan terseok-seok. Lahirlah tulisan “Diperbudak Pekerjaan.”

Manusia modern pada dasarnya manusia yang paling sering kuatir. Bayang-bayang kehidupan yang keras, melahirkan manusia-manusia pekerja keras namun, lemah spritualitas. Kerja siang malam, lupa shalat dan puasa. Mengejar sesuatu yang fana melupakan yang kekal. Maka, lahirlah tulisan, "Mengapa Harus Kuatir."

Jadi buku ini berisi catatan-catatan kehidupan yang kemudian melahirkan sebuah kesimpulan bahwa kehidupan ini akan indah dengan menghadirkan Allah di setiap nafas kita. Saat tergelincir hadirkan Allah, bahagia, susah, kuatir hadirkan Allah. Maka, Indahnya Hidup Bersama Allah akan kita rasakan. Terkumpullah sekitar 30 artikel dengan beragam tema. Buku perdana ini memiliki dua kekhasaan, pertama, ini adalah hasil dari sebuah mimpi dan kerja keras untuk mewujudkannya. Kedua, tema-tema dalam buku ini berasal dari kisah sederhana, kecil namun dikupas dengan bahasa bumi (sederhana) dan diselaraskan dengan bahasa langit (al-Qur’an dan Hadis).

Saat anda memilikinya ada dua kebahagian di sana, bahagia bagi penulisnya dan bahagia bagi anda. Selamat membaca!

  • view 410