Mencintai Masjid Sejak Dini

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Mencintai Masjid Sejak Dini

Siapa yang tidak ingin mendapatkan perlindungan dari Allah saat tidak ada lagi perlindungan selain-Nya. Tentunya, semua kita mau. Allah menjanjikan tujuh golongan, salah satunya adalah seorang yang hatinya bergantung ke masjid (rajulun qalbuhu muallakun fil masajid). Ternyata mencintai masjid dengan sering mendatanginya sehingga hati bergantung padanya bukanlah perkara gampang. Tidak ujug-ujug. Ada proses pembiasaan yang panjang.

Nah, sebagai orangtua mempersiapkan generasi pecinta masjid harus masuk daftar prioritas. Saat hijrah ke Madinah, bangun yang pertama kali dibangun adalah masjid. Bukan rumah beliau sendiri. Ini menunjukkan pentingnya masjid bagi ummat. Mari kita ambil bagian di tengah-tengah banyaknya problem masjid-masjid kita hari ini. Sungguh ironis memang saat ini, ketika masjid mulai sepi dari suara anak-anak dan remaja. Masjid hanya dominasi orangtua yang tidak kreatif. Masjid hanya menjadi tempat “ibadah” saja. Buka dan tutup menyesuaikan dengan jam shalat 5 waktu. Sisanya sepi bak kuburan.

Sepinya masjid dari aktifitas anak dan remaja juga tidak pernah lepas dari  kesalahan generasi orangtua. Tidak usahlah kita mencaci maki kemajuam zaman dan menentang hiburan malam. Merana melihat anak kita lebih asyik-masyuk di sana. Mari kita ambil bagian! Sebagai seorang ayah yang telah dikarunia anak –satu putri dan satu putra- saya dan istri mulai memperkenalkan anak-anak dengan masjid sejak mereka kecil. Setiap shalat maghrib dan Isya mereka kami bawa ikut shalat berjama’ah. Terkadang saat shalat Subuh, si Sulung yang berusia 4 tahun saya gendong dalam keadaan ngantuk. Meskipun awalnya hanya pindah tempat tidur saja, lama kelamaan mulai ikut shalat dan berjama’ah. Begitu pula si bungsu, umur dua tahun sudah kami ajak untuk berjama’ah shalat Subuh.  

Tentu tidak hanya sampai di situ, setiap kami melakukan safar baik jauh maupun dekat, maka setiap azan berkumandang dan waktu shalat telaht tiba, hal yang pertama kami lakukan adalah mencari masjid. Di sana kami shalat berjamaah, istirahat dan ngobrol santai antara anggota keluarga. Pernah suatu hari, saat suasana mendung, karena hanya menggunakan kendaraan bermotor istri menawarkan untuk shalat di rumah saja. Sementara itu, azan yang tidak begitu jauh terdengar memanggil-manggil dengan lembut.

"Tidak. Kita mampir shalat bu. Saya ingin anak-anak kita mencintai ibadah. Mencintai masjid sejak kecil. Kelak saat mereka dewasa, bekerja dan bergelut dengan hingar bingar dunia, melihat megahnya gedung pencakar langit dan indahnya kota-kota dunia, mereka tidak lupa dengan rumah ini. Baitullah. Masjid. Kita mampir!"

Dalam proses pembiasaan ini, tentunya kami lebih mendahulukan dialog. "Ayo ke masjid semua ya! Allah akan cinta kepada orang yang sering mendatangi rumah-Nya." Terkadang mereka menolak dengan alasan-alasan tertentu. Namun, jika ayah dan ibunya kompak maka anak-anak ikut saja.

Rasanya adem dan damai saat ajakan shalat dijawab dengan antusias oleh anak-anak, “Abi tunggu, Raisa wudhu dulu.”

“Jiddy ikut abi...” jawab si bungsu tidak mau kalah.

Dengan menggendong si bungsu, dan menuntun si sulung diikuti istri di belakang, sungguh kenikmatan surga itu sudah terasa.

Sayangnya, sebagian masjid kita tidak ramah dengan anak. Pernah suatu hari kami singgah di  sebuah masjid terminal, menjelang subuh. Perjalanan menuju Makassar. Di dalam masjid sudah ada seorang ibu paruh baya duduk berzikir. Raut wajahnya berubah tidak senang melihat istri membawa ana-anak memasuki tempat shalat wanita. Bahkan saat anak-anak mulai bermain, dengan suara dan telunjukknya ia mengusir anak-anak keluar masjid.

Pernah juga istri berkeluh kesah tentang sikap beberapa jama’ah ibu-ibu yang tidak mau menyapa dan bermuka cuek saat istri ke masjid membawa anak-anak ke masjid. Ya, begitulah. Bukankah Rasulullah Saw., sangat lembut memperlakukan cucu-cucunya yang bermain dan menaiki punggung beliau ketika shalat berjama’ah. Bahkan beliau memperpanjang sujudnya sampai cucu-cucunya turun.

  • view 227