Menjual Diri kepada Allah

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 30 Juli 2016
Menjual Diri kepada Allah

Menjual. Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat mendengarkan kata menjual diri. Terdengar sangat asing di telinga, karena menjual diri identik dengan hal yang negatif. Orang-orang yang merelakan dirinya dan tubuhnya untuk dinikmati demi segepok uang. Maka, orang yang menjual diri menyerahkan dirinya seutuhnya, begitu juga waktu dan semua aktivitasnya kepada pembelinya sesuai harga dan waktu yang telah disepakati.  

Namun, menjual diri tidak selamanya negatif. Anda bisa dikategorikan menjual diri saat menggunakan segala potensi diri untuk menghasilkan sesuatu. Bekerja secara totalitas dengan mengerahkan segala kemampuan untuk mempersembahkan kinerja atau pelayanan yang baik kepada manusia lain. Atau “menjual” potensi apa saja yang bisa dijual dalam diri selama itu tidak melanggar norma.

Allah menawarkan sebuah hubungan antara diri-Nya kepada makhluknya (manusia) dengan menggunakan bahasa ekonomi. Bukankah menjual dan membeli adalah bahasa yang paling akrab di dunia perdagangan. Di sana ada transaksi untung dan rugi. Allah jelas-jelas menawarkan sebuah bentuk perniagaan yang tak pernah rugi (laa Tabuur) dan sangat menguntungkan (at-Tijarah ar-Rabihah). Coba kita amati firman-Nya di bawah ini;

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih?” (QS. Ash-Shaff : 10)

“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu Mengetahuinya”. (QS. Ash-Shaff: 11)

Dalam tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaily dijelaskan bahwa Allah bertanya –istifham lit-targhib, pertayaan mengajak-- kepada orang-orang yang beriman tentang sebuah perniagaan yang bermanfaat dan menguntungkan. Perniagaan yang takkan pernah rugi. Keuntungannya adalah selamat dari siksa yang pedih di hari kemudian. Perniagaan seperti apa yang keutungannya terbebas dari api neraka? Tentunya, bebas dari siksa berarti akan mendapatkan surga.

Dalam ayat selanjutnya Allah menjelaskan bahwa perniagaan itu adalah iman dan jihad. Termasuk  semua amalan shaleh yang dipersembahkan hanya kepada-Nya. Dengan selalu berpegang pada keimanan, mengikhlaskan amal perbuatan dan berjihad untuk meninggikan agama Allah dengan harta dan jiwa. (penyebutan harta terlebih dahuku menunjukkan bahwa jihad dimulai dari harta terlebih dahulu dengan berinfak di jalan Allah.) ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa sesungguhnya iman dan jihad lebih baik dari diri dan harta kalian.

Masih di tafsir yang sama, Wahbah membagi jihad menjadi dua:  Jihad nafs,  yaitu tidak memperturutkan syahwat, meninggalkan tamak (kerakusan terhadap dunia), dan berbelas kasih kepada sesama. Dan jihad yang bermakna perang (qital) melawan musuh untuk menegakkan agama Allah.

Keuntungan yang berlipat dari perniagaan dengan Allah Swt., dijelaskan pada ayat selanjutnya;

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ´Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Ash-Shaff: 13)

Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (QS. Ash-Shaff: 14)

Jika kita sudah deal untuk melakukan perniagaan seperti yang Allah kehendaki maka, Allah akan memberikan kita dua keuntungan sekaligus. Keuntungan yang pertama, (QS. Ash-Shaaf: 13) adalah keuntungan ukhrawi yaitu ampunan dosa dan surga. Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sunga, tempat-tempat yang nyaman bagi jiwa, derajat yang tinggi dan kenikmatan yang tiada tara yang tidak akan habis atau dipisahkan oleh maut. Itulah keuntungan yang tidak ada lagi keuntungan di atasnya.

Saat berbicara tentang surga, sesungguhnya kita tidak mampu untuk membayangkannya dengan akal dan pengalaman-pengalaman kenikmatan yang pernah kita rasakan atau saksikan di alam dunia ini. Itu tidak seberapa. Sungguh imajinasi kita akan terbentur pada keterbatasan. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman, “ Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih, sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tak terdengar oleh telingan dan tak pernah terlintas oleh hati manusia...” Bahkan orang yang paling terakhir masuk surga saja akan mendapatkan kenikmatan sepuluh kali lipat dunia dan seisinya. Sampai imajinasinya tidak mampu lagi untuk berimajinasi.

Ada penjelasan yang cukup menarik dari Quraish Shihab, bagaimana cara Allah menggambarkan surga. Seperti orang dewasa yang akan menjelaskan nikmatnya pernikahan kepada anak kecil. Misalnya, seorang anak tentunya tidak akan bisa mengerti indahnya pengantin baru dan berbulan madu. Nalarnya belum sampai. Maka untuk menjelaskan kepada anak kenikmatan tersebut, dibuatlah pertanyaan atau gambaran yang sesuai dengan nalarnya. Misalnya, “Makanan apa yang paling enak yang pernah kamu rasakan?” maka muncullah beberapa jawaban, salah satunya adalah ‘es krim.’ “Nah, nikah itu lebih enak dari es krim.”  

Begitulah kira-kira kita dengan Allah. Gambaran surga dengan sungai dan bidadarinya hanya ibarat atau perumpamaan. Kenikmatan surga jauh di atas itu semua. Dan sangat banyak sekali Allah dan Rasul-Nya menggambarkan surga secara vulgar di dalam Al-Qur’an dan hadis. Tidakkah tertarik?

Keuntungan yang kedua, (QS. Ash-Shaaf: 14) adalah keuntungan dunia. kemenangan dan kejayaan di dunia, seperti yang pernah terjadi pada masa Rasulullah bagaimana Mekkah dapat dikuasai begitu pula kerajaan Persia dan Romawi mampu ditundukkan oleh kaum muslim. Beberapa abad kemudian kemenangan demi kemenangan diraih, hampir separuh bumi ini dikuasai oleh kaum muslimin yang telah menjual dirinya kepada Allah. Maka, orang yang berniaga dengan Allah akan dibukakan kesuksesan dunia ini dengan seluas-luasnya.

Manusia yang telah berniaga dengan Allah pada hakikatnya telah menjual dirinya; 

?????? ??????? ????????? ???? ?????????????? ??????????? ?????????????? ??????? ?????? ??????????? ... ???

Sesungguhnyà Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka....” (QS. At-Taubah: 111)

Pada hakikatnya Allah tidak pernah membeli sesuatu. Karena Dia pemilik segala sesuatu. Bagaimana bisa, Dia membeli jiwa kita yang jiwa itu sendiri ciptaan-Nya. Bagaimana bisa, Dia membeli harta kita, yang harta itu Dia yang merizkikan?  Sesungguhnya tawaran ini hanya untuk memuliakan manusia dengan –seolah-olah- menempatkan diri pada posisi yang sederajat. Subhanallah.

Tidakkah kita bangga jika barang dagangan kita dibeli oleh seorang terkenal? Diliput media dan semua orang menyaksikan bagaiman seorang presiden duduk dengan santainya melahap hidangan jualan kita? Bukan hanya bangga namun, sebentar lagi akan menjadi rumah makan yang dicari-cari. Rezeki berlimpah. Lalu, bagaimana jika Allah yang jadi pembelinya?

Jika kita menggunakan ukuran rukun jual-beli maka, semua syarat dan rukunya sudah terpenuhi. Pertama, ada pembeli yaitu Allah Swt. Kedua, ada penjual, yaitu kita manusia. Ketiga, ada barang yang dijual yaitu jiwa dan harta. Keempat, ada harga jual yaitu surga. Dan kelima, ada aqad yaitu, ucapan syahadat kita. Salah satu syarat dalam jual beli adalah adanya kerelaan dari kedua belah pihak. Allah sama sekali tidak memaksa dan manusia bebas menentukan pilihannya. Mau atau tidak. Namun, semuanya ada konsekuensi logisnya. Menjual diri dan harta untuk kepentingan agama Allah bukanlah perkara yang ringan, ia dikelingi oleh hal-hal yang tidak sejalan dengan maunya nafsu. Di sinilah tantangannya.

Pada umunya pembeli akan menawar barang jualan dengan harga yang paling rendah, agar bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat dan sebaliknya penjual akan menawarkan harga yang paling tinggi. Di sini, Allah langsung memberikan harga dan tidak tanggung-tanggung, penawaran harganya langsung yang paling mahal. Surga. Keuntungan apa lagi yang yang lebih untung melebihi surga dan terbebas dari neraka. Tidak ada bukan.

Terlepas dari pembagian tingkatan kualitas ibadah seorang hamba kepada Allah, ada yang membagi tiga tingkatan; ibadah karena imin-iming, ibadah karena kebutuhan, dan ibadah karena cinta. Tentunya tidak ada salahnya mengharapkan surga dan menghindari neraka dalam setiap ibadah kita? Mencintai seseorang bukan berarti kita tidak pernah berharap dan menuntut. Kurang cinta apa Rasulullah Saw., kepada Allah Swt.? Namun, kita juga mengetahui bahwa doa yang paling sering beliau panjatkan adalah doa meminta kebaikan di dunai dan akhirat serta terbebas dari api neraka.

  Mari kita jadikan –sebagai kesadaran- semua aktivitas hidup dan amal kebaikan hanya untuk-Nya. Bersedekah, berjihad fi sabilillah, bekerja, belajar, mengajar bahkan istirahat sekalipun kita persembahkan kepada-Nya. Itulah yang Allah beli dari diri seorang mukmin. Persis seperti tugas kita dan tujuan kita tercipta di dunia ini adalah untuk ibadah (QS. Adz-Dzariat: 56). Nikmat rasanya. Tidak ada duka dan nestapa. Tidak ada kecewa dan dendam. Tidak ada rugi dan tertipu. Semuanya kita jual, dijual kepada Allah. Bukan hanya kesuksesn akhirat menanti namun, kemenangan dan kejayaan dunia ikut menyertai.

???? ????? ???????? ????????? ??????????? ?????????? ??????? ????? ????????????? ???

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-An’am: 162)

 

Saya kutip kalimat seorang Kyai, Muhammad Ishom namanya, “Berikan seluruh hatimu kepada Tuhan hingga engkau tak lagi memiliki hati. Dengan begitu, pastilah tak seorangpun akan mampu sakiti hatimu meski dengan beribu hinaan sekalipun. Kau akan menjadi laksana batu karang yang tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan.”

Beginilah seharusnya manusia kepada Tuhannya. selamat menjual diri!

  • view 480