Ya Allah, Mengapa Harus Dia?

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 05 Juli 2016
Ya Allah, Mengapa Harus Dia?

Bertanya kepada Allah

 “Jika kau tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupnya, pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah). Ungkapan ini seharusnya membuat kita tenang menghadapi hidup ini. Hati semakin damai dan hidup semakin terarah. Bagaimana tidak, kita memasrahkan hidup kepada Dzat yang maha tahu tentang diri kita.

Mungkin karena keterbatasan ilmu dan imam kita selalu mempertanyakan keadilan Tuhan. Mengapa harus saya ya Allah? Mengapa harus dia? Dan banyak pertanyaan lain yang bernada menggugat. Bukankah Allah yang paling tahu kualitas diri kita dan apa yang kita butuhkan? Sampai Allah menegaskan, tidak akan menguji manusia melebihi kemampuannya. Jika ujian itu tersa berat, sesungguhnya Allah tahu jika kita mampu melaluinya. Keep move on. Terus bergerak.

Saat kita minta kekayaan, kelapangan rezeki kepada Tuhan yang tak kunjung terwujud. Kita protes. Padahal Allah paling tahu seberapa kuat kualitas iman kita. Bisa jadi kekayaan yang berlimpah bukan menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya. Malah menjauhkan darin-Nya. Allah Maha Tahu. Bukankah banyak kita jumpai, manusia yang dulu sangat taat beribadah berubah menjadi sibuk bekerja dan mengurus perniagaannya setelah kesuksesan meliputinya. Ingatlah bahwa Allah mengharamkan kedhaliman atas dirinya. Ingatlah bahwa Allah maha pengasih lagi penyayang. Tidak mungkin menganiaya kita.

Terkadang kita cemburu dengan pencapaian orang lain, dan merasa diri lebih pantas mendapatkannya, “Ya Allah mengapa harus dia? Mengapa bukan saya?”  Kita terkadang sok pintar dan suka mendikte Tuhan. Sampai Allah “harus” menjawabnya dalam al-Qur’an;

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216)

Terkadang kita memang tidak adil kepada Allah. Saat kesusahan kita mengadu padanya namun saat kebagian datang kita lupa. Bisa jadi karena itu Allah sering membuat hidup susah, menimpakan musibah agar kita selalu mengharap dan mendatangi-Nya. Tentang prilaku kekanak-kanakan kita Allah sebutkan dalam Al-Qur’an. Kita mendatangi Allah saat butuh saja.

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. (QS. Al-Isra': 67).

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (QS. Al-Ankabut: 65).

Manusia suka berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan ia kikir.

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. Al-Ma’arij: 20-21)

Berangkat dari ketidaktahuan dan ketidak yakinan kita kepada Allah Swt., kita selalu diliputi buruk sangka atas ketetapan Allah yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Mempertanyakan dan menyangsikan keadilan Allah. Maka sering muncul pertanyaan, “Mengapa dia (saya) yang rajin shalat, jujur, dan suka membantu orang lain, hidupnya kok susah? Sementara si itu, ibadah jarang, suka curang, dan sangat pelit hidupnya kok berlimpah. Bisnis semakin lancar, rumah dan kendaraan semakin bertambah, dan keluarga yang kelihatanya bahagia?” Pertanyaan klasik yang selalu ditanyakan. Anda tidak bukan?

Allah Swt., menjawabnya dalam hadis Qudsi: “Wahai hamba-Ku sayang! Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sesungguhnya Aku menginginkan kebaikan bagi setiap yang Aku sayangi. Tidak akan Aku matikan ia sebelum Aku mengampuni dosa-dosanya dengan penyakit, kesusahan, kerugian, atau kehilangan anggota keluarga. Dan jika masih ada dosanya yang tersisa, Aku akan beratkan sakratul mautnya. Hal ini Aku lakukan agar ia menjumpai-Ku dalam keadaan suci seperti bayi”. (Jami’us Sa’adat)

Sementara mereka yang berlimpah kesuksesan namun bergelimang dengan dosa, Allah menjawabnya dalam sebuah hadis disampaikan oleh Uqbah bin Amir bahwa Rasulullah Saw., bersabda: “Apabila kamu melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah Saw., membaca firman-Nya “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dalam keputus asaan." (QS: Al-An'am: 44)

Allah Maha Tahu tentang manusia. Ada yang Allah izinkan menjadi manusia kaya  harta sekaligus kaya iman. Ada pula yang diberikan kehidupan yang pas-pasan di dunia tetapi memiliki kekayaan hati. Ada yang memaksakan diri mengejar kekayaan dengan cara-cara curang, koruptif dan menipu sehingga ia kaya secara materi tetapi miskin iman. Namun, ada pula yang menceburkan diri pada kemalasan dan kemaksiatan jadilah hidupnya miskin bergeliman dosa. Nauzubillah. Hidup adalah pilihan. Allah membebaskan kita untuk memilih. Namun, karena kasih sayang Tuhan pula terkadang pilihan Allah yang berlaku buat kita. Tetaplah berhusnudzan karena itu yang terbaik.

***