Ghibah dan Terapinya

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 28 Juni 2016
Ghibah dan Terapinya

Apa yang akan segera terlintas dalam benak kita saat mendengarkan kata ghiba? Ya, sederhananya ghibah adalah membicarakan orang lain, ngomongin atau ngerasanin orang lain. Dan, kita sadar sesadar-sadarnya hampir pasti kita tidak bisa menghindarinya. Mungkin semua kita sudah tahu apa itu ghibah dan bagaimana hukumnya. Namun, Ketahuan kita tentang ghibah ternyata tidak mengurangi aktifitas kita dalam berghiba ria. Karena ghibah ini sangat halus masuk tanpa terasa dalam setiap perbincangan kita sehari-hari.

Bukan hanya itu, berghibah ternyata menjadi aktifitas yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bagaimana tidak, acara-acara gosip selebritis laris manis bak kacang goreng. Mendulang rating yang tinggi, hampir semua stasiun TV kemudian ambil bagian. Bahkan ada acara ghosip tayang tiga kali sehari -seperti minum obat- di stasiun yang sama. jika mau diamanati, dari pagi sampai sore bahkan malam setiap jamnya akan kita jumpai acara kanibal ini. Dan beritanya itu-itu saja –sekitar perceraian, pacaran, percintaan, skandal dan lainya- diputar setiap hari. Anehnya laris.

Melihat masifnya acara gosip dan rusaknya tatanan masyarakat akibat tontonan yang tidak mendidik ini, MUI tidak bisa menahan diri untuk menfatwakan haram pada acara gosip sekaligus yang menontonya dan yang mengambil keuntungan dari berita gosip. MUI melihat tayangan infotainment yang menceritakan, mengorek, dan membeberkan aib, kejelekan gosip, dan hal-hal lain terkait pribadi kepada orang lain dan atau khalayak hukumnya adalah haram. Tentunya bukan tanpa reaksi perlawanan. Ini masalah uang dan perut, dan sangat sensitif. Nyatanya, fatwa tinggal fatwa gosip jalan terus.

Perbincangan tentang ghiba tidak luput dari perbincangan ulama-ulama islam. Seperti biasa, bukan tanpa perbedaan, seperti yang diutarakan Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahmatullah ‘alaih, “Para ulama berselisih pendapat ketika mendefinisikan ghibah. Ar-Raghib mengatakan, “Ghibah adalah menyebutkan aib orang lain tanpa alasan yang benar.” Imam Nawawi rahimahullaah mengatakan, “Ghibah adalah menyebutkan perkara yang tidak disukai oleh orang lain berkenaan dengan badannya, agamanya, dunianya, posturnya, perilakunya, hartanya, anaknya, pasangannya, pembantunya, pakaiannya, gerakannya, raut mukanya atau perkara lain yang berkaitan dengan dirinya. Baik dengan ucapan, isyarat atau kode-kode tertentu.”

Dengan definisi di atas maka ghibah tidak terbatas dengan lisan saja. Perbuatan, sindiran, tulisan, isyarat dengan mata atau tangan dan semua perkara yang dapat dipahami maksudnya oleh orang yang sedang digunjingkan, seperti meniru gaya berjalannya, masuk dalam kategori ghibah. Bahkan hal seperti ini lebih parah sebab ia lebih menggambarkan orang yang sedang digunjingkan.

Pernah Rasulullah memancing dengan bertanya kepada para sahabat tentang ghibah lalu terjadi dialog. Seperti yang diceritakan oleh Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim.

???? ????? ?????????? ????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- ????? « ??????????? ??? ?????????? ». ??????? ??????? ??????????? ????????. ????? « ???????? ??????? ????? ???????? ». ????? ???????????? ???? ????? ??? ????? ??? ??????? ????? « ???? ????? ????? ??? ??????? ?????? ??????????? ?????? ???? ?????? ????? ?????? ????????? »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim).

 Nah, sangat jelas hadis ini menyebutkan ghibah adalah menceritaka kejelekan –yang kejelekan itu ada pada dirinya- yang ia tidak sukai. 

Ulama sepakat tentang haramnya ghibah. Allah mengecam perbuatan ghibah sebagai aktifitas kanibal, memakan bangakai saudara sendiri. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

???????????? ????????? ?????????? ???????????? ???????? ????? ???????? ????? ?????? ???????? ??????? ?? ??? ???????????? ????? ??????? ?????????? ???????? ????????? ?????????? ??? ???????? ?????? ??????? ??????? ???????????????? ??????????? ???????? ????? ??????? ???????? ???????? ??

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Hujurat: 14)

Kita pernah dikagetkan berita manusia kanibal Sumanto. Pada 2003, pria berusia 40 tahun ini mencuri mayat nenek bernama Mbah Rinah, lalu memakan daging jenazah itu. sebelumnya ia mengakui telah memakan 3 temannya di lampung. Jijik, ngeri, marah bercampur baur dalam diri siapa pun yang mendengarkan dan membaca berita ini. Jijik memakan bangkai saudaranya. Bukankah ghibah tidak jauh beda dengan aktifitas Sumanto. Bukankah Allah menggunakan bahasa pertayaan yang sama dan dijawab sendiri, Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Seandainya ayat ini kita pahami secara mendalam, Insya Allah kita akan berhati-hati dalam menjaga lisan kita.

Namun, tidak semua ghibah menjadi haram dan tercela. Ada situasi-situasi tertentu yang yang membolehkan. Dari berbagai literatur online yang saya baca ada enam kondisi ghibah menjadi boleh bahkan harus. Sebagai berikut:

  1. Dalam kasus penganiayaan. Orang yang dianiaya boleh mengadukan orang yang menganiaya dirinya kepada pihak terkait. Semisal seorang melapor ke polisi, “Si A telah menganiayaku atau telah memukuliku”.
  2. Meminta pertolongan untuk mengubah kemungkaran dan menyadarkan pelaku kemaksiatan agar kembali ke jalan yang benar. Semisal kita katakan kepada orang yang diharapkan mampu mengingatkan, “Si A melakukan demikian tolong disadarkan”.
  3. Meminta fatwa, dengan berkata kepada seorang ulama atau ustadz, “Si A, bapakku atau saudaraku telah menganiayaku…. Apakah dia berhak melakukan hal tersebut? Solusi apa yang bisa aku lakukan agar terhindar dari penganiayaannya?”
  4. Guna memperingatkan kaum muslimin dari suatu bahaya. Contoh ghibah yang dibolehkan karena alasan ini adalah terhadap para perawi hadits.
  5. Orang yang terang-terangan melakukan berbagai dosa besar atau kebid’ahan. Dalam kasus seperti ini dibolehkan menceritakan kejelekan yang dia lakukan dengan terang-terangan, namun tidak diperkenankan menyebutkan kejelekan yang lain kecuali berdasarkan alasan yang bisa dibenarkan.
  6. Untuk memberi penjelasan. Jika ada seseorang yang terkenal dengan julukan tertentu seperti, “si buta, si pincang, si cebol dan semisalnya” maka dibolehkan menyebutkan julukan tersebut untuk memberi penjelasan tentang orang yang dimaksudkan. Namun hukum hal ini berubah menjadi tidak boleh jika orang yang menyebutkan julukan tersebut bermaksud mencela. Akan tetapi lebih baik jika bisa menjelaskan orang yang dimaksudkan tanpa menyebutkan julukan tersebut.

Perlu disadari bahwa ghibah atau menggunjing orang lain merupakan penyakit hati. Ia tidak nanpak namum memberikan dampak yang luar biasa. Lidah memang tidak bertulang begitu pula tidak setajam pedang namun, jika ia keseleo dampaknya lebih sadis dari goresan senjata tajam. Ibarat penyakit, jika dibiarkan akan menjalar dan mengganas lalu membunuh si pemilik penyakit. Yang dibunuh adalah hati nurani, sehingga ia tidak peka lagi terhadap petunjukk Ilahi. Hati menjadi keras dan mati. Bisa jadi tubuhnya segar bugar.

Karena penyakit hati maka harus diobati –bukan dengan obat medis- dengan mendekatkan diri dengan bertaubat kepadaNya. Ada langkah-langkah atau tips sembuh dari penyakit hati ini, diantaranya;

  1. Bergaul dengan orang yang baik. Mencari sahabat atau teman harus selektif. Tidak semua orang bisa dijadikan teman. Berapa banyak manusia yang tersesat awalnya dari pengaruh sahabatnya. Maka, hindari Komunitas atau kelompok yang memang hobi ngegosip. Selektif memilih teman termasuk ajaran Rasulullah.
  2. Menjaga lisan. Banyak sekali hadis nabi yang mengharuskan kita menjaga lisan ini. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Menjaga lisan ini memang sulit namun bukan berarti tidak bisa.
  3. Intropeksi diri. Manusia tidak ada yang sempurna. Semakin kita melihat diri sendiri maka semakin sadarlah kita jika kita ini bukan siap-siap. Maka, beruntunglah orang yang sibuk menilai diri sendiri sampai ia lupa mengoreksi orang lain.
  4. Mengingat kebaikan orang lain. Sering-seringlah mengingat kebaikan orang lain. Hal ini akan mengurangi sifat benci, dendam dan hasud yang direfleksikan menjadi perbuatan ghibah.
  5. Banyak berpikir positif. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Semakin positif kita melihat setiap kejadian semakin bijak hidup kita. Begitu pula sebaliknya. Setiap melihat seseorang melakukan sesuatu yang menyimpang maka, jangan langsung mencurigai lalu menceritakan kepada semua orang tanpa melakukan tabayyun. Inilah yang mengantarkan pada ghibah dan ujungnya fitnah.
  6. Saling mengingatkan. Ini menjadi penting untuk dilakukan. Saat perbincangan sudah mulai menjurus pada ghibah maka, saliang mengingatkan menjadi harus. Nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.

Sebagai kesimpulan, ghibah adalah perbuatan membicarakan aib orang lain yang ia benci itu dibicarakan. Hukum ghibah dari kesepakatan ulama adalah haram. Al-Qur’an memberikan permisalan aktifitas ghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri yang telah mati. Namun, tidak semua ghibah diharamkan. Ada kondisi-kondisi tertentu ghibah menjadi boleh, sunah, bahkan wajib. Sebagai penyakit dalam (hati) ghibah harus diobati dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan selalu intropeksi diri. Walahu’alam.

  • view 87