Cemas terhadap Dunia

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Juni 2016
Cemas terhadap Dunia

Apa yang paling dicemaskan oleh anak-anak muda –meskipun bukan dominasi anak muda- dalam menghadapi masa depan? Atau mereka yang selalu menunda pernikahannya? Umumnya akan ditemukan kegelisahan yang sama yaitu masa depan yang tidak pasti. Nanti kerja dimana? Mau makan apa? Apakah penghasilan mencukupi? Dan, rupa-rupa persoalan kehidupan lainnya.

Saat saya harus melamar seorang gadis, ketika itu pertanyaan yang paling mendebarkan adalah mau diberika makan apa? Nasi lah ya. Masak batu. Tapi, tidak sesedarhana itu. Padahal sekolah belum kelar, masih mengandalkan beasiswa dan nyambi kerja serabutan yang hanya cukup buat beli pulsa. Tentu akan berbeda halnya jika Anda anak pengusaha sukses, anak pejabat bahkan presiden atau anak juragan kaya pemilik ribuan hektar tanah yang tidak akan habis dimakan oleh tujuh turunan.

Kira-kira apakah Anda masih kuatir tentang masa depan? Masihkan Anda ragu untuk melamar gadis yang orangtuanya saja tidak ragu sedikitpun menyerahkan putrinya untuk Anda miliki. Tidak bukan. Kalau keraguan pada kesholehan calon istri sih, itu beda soal. Anda salah nyari aja.

Sekedar sharing pengalaman, apa yang membuat saya –mahasiswa yang tidak ada yang bisa dijadikan jaminan selain sedikit status sebagai pelajar yang itu pun nama baiknya tercoreng karena ribuan sarjana jadi pengangguran, lah ini belum sarjana- memberanikan diri melamar dan menendang jauh-jauh semua keraguan itu? Ya, karena saya memiliki Tuhan yang Maha Kaya (al-Ghani). Saya mengandalkan-Nya. Jika Anda ditanya, "Mau diberi makan apa?" "Bapak saya presiden atau pengusaha H." Beres kan?

Saat itu, saya sudah siapkan jawabannya, "Kamu punya apa, berani-berani melamar anakku?" Akan saya jawab, "Allah." Alhamdulillah ternyata calon mertua nggak sampai hati menanyakannya, mungkin sudah terharu melihat wajah saya memelas sangat mencintai putrinya. Tapi untuk meyakinkan camer tetap saya gunakan aji pamungkas, "Insya Allah kami akan baik-baik saja jika tetap bersama Tuhan." Lamaran sukses, tiga bulan nikah.

Saya ulangi lagi pertayaannya, apakah Anda masih cemas terhadap masa depan jika orangtua Anda adalah pemilik ribuan hektar? Segitu saja, kita sudah bisa merasa tenang dan tidak risau terhadap dunia ini. Lalu, apakah masih pantas bagi kita, yang memiliki Tuhan pemilik langit dan bumi?

?????? ??? ??? ????????????? ????? ??? ?????????? ??????? ??????? ?????? ?????????? ?????????? ??      

Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Q.S. al-Hajj: 64)

 

Coba kita cermati! Sangat banyak ayat-ayat, dimana Allah mendeklarasikan kepada manusia bahwa milik Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi, pemegang kunci-kunci kekayaan. Dia memberikan dan mencabut kekuasaan kepada siap yang dikehendaki. Begitu pula rezeki ada dalam genggaman-Nya. Sekehendak-Nya. Istilah betawinya,semau gue. Sebagai Tuhan tentunya wajar dan begitulah seharus Tuhan yang tak terbatas.

Namun, jika kita renungkan lebih mendalam, seolah-olah Allah ingin mengatakan kepada kita, “Wahai manusia, hambaku! Apa yang membuatmu risau? Milikku langit dan bumi ini. Akulah Tuhan yang paling tahu apa yang menjadi kebutuhanmu. Mengapa masih kuatir dan cemas.

Masihkah kita meragukannya? Untuk meyakinkan kita yang selalu ragu akan janji-Nya, Allah sampai menyebutkan berkali-kali deklarasi ini. Saya mencoba mencari dan menghitung berapakali Allah menyebutkan kata, “Milik-Nya” dalam al-Qur’an. Ada sekitar 56 ayat ber-tag "Segala sesuatu milik allah." Bisa kita cek sendiri dalam al-Qur’an!

Surat Al-Fatihah (1) Ayat 4, Surat Al-Baqarah (2) Ayat 107, Surat Al-Baqarah (2) Ayat 142, Surat Al-Baqarah (2) Ayat 284, Surat Ali 'Imran (3) Ayat 26, Surat Ali 'Imran (3) Ayat 109, Surat Ali 'Imran (3) Ayat 129, Surat Ali 'Imran (3) Ayat 180, Surat Ali 'Imran (3) Ayat 189, Surat An-Nisa' (4) Ayat 53, Surat An-Nisa' (4) Ayat 126, Surat An-Nisa' (4) Ayat 131, Surat An-Nisa' (4) Ayat 132, Surat Al-Ma'idah (5) Ayat 40, Surat Al-An'am (6) Ayat 12, Surat Al-An'am (6) Ayat 13, Surat At-Taubah (9) Ayat 116, Surat Yunus (10) Ayat 55, Surat Ibrahim (14) Ayat 2, Surat Al-Hijr (15) Ayat 21, Surat Maryam (19) Ayat 40, Surat Ta Ha (20) Ayat 6, Surat Al-Anbiya (21) Ayat 19, Surat Al-Hajj (22) Ayat 64, Surat Al-Mu’minun (23) Ayat 85, Surat Al-Mu’minun (23) Ayat 87, Surat Al-Mu’minun (23) Ayat 88, Surat Al-Mu’minun (23) Ayat 89, Surat An-Nur (24) Ayat 42, Surat An-Nur (24) Ayat 64, Surat Al-Furqan (25) Ayat 26, Surat Ar-Rum (30) Ayat 26, Surat Luqman (31) Ayat 26, Surat Saba’ (34) Ayat 1, Surat Ya Sin (36) Ayat 83, Surat Sad (38) Ayat 9, Surat Sad (38) Ayat 10, Surat Az-Zumar (39) Ayat 63, Surat Al-Mu’min (40) Ayat 16, Surat Asy-Syura (42) Ayat 4, Surat Asy-Syura (42) Ayat 49, Surat Az-Zukhruf (43) Ayat 85, Surat Al-Jasiyah (45) Ayat 27, Surat Al-Fath (48) Ayat 7, Surat Al-Fath (48) Ayat 14, Surat An-Najm (53) Ayat 25, Surat An-Najm (53) Ayat 31, Surat Al-Hadid (57) Ayat 2, Surat Al-Hadid (57) Ayat 5, Surat Al-Munafiqun (63) Ayat 7, Surat At-Tagabun (64) Ayat 1, Surat Al-Mulk (67) Ayat 1, Surat Al-Buruj (85) Ayat 9, Surat Al-Lail (92) Ayat 13, Surat An-Nas (114) Ayat 2.

 

 

 

  • view 92