Zuhud

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 15 Juni 2016
Zuhud

Pernahkah kita mendengar kata zuhud? Kemungkinan pernah namun tidak sering. Karena tema ini memang tidak begitu populer dibahas di tengah-tengah masyarakat yang terlalu mengagung-agungkan materi. Mungkin ada yang tahu namun terbatas pada pemaknaan yang sempit. Sikap seperti apa yang akan terlintas dalam benak kita saat disebutkan kata zuhud? Manusia sederhana? Orang yang menjauhi hidup mewah? Orang yang berpakaian compang camping? Atau orang yang tidak suka dunia dan memilih hidup miskin? Mungkin begitulah kira-kira.

Dalam sebuah pengajian, sang ustad mengutarakan makna zuhud dengan sedikit berbeda dengan yang selama ini kita asumsikan, dengan mengutip pendapat imam Ahmad bin Hambal. Salah satu imam mahzab. Zuhud dibagi menjadi 3 tingkatan; pertama, tingkatan paling bawah. Yaitu orang yang merasa cukup dengan sesuatu yang halal saja. Ia akan menjaga dirinya dari hal-hal yang haram masuk dalam diri dan keluarganya. Tingkatan paling rendah saja sudah sangat luar biasa bukan? Betapa banyak diantara kita yang dengan sadar dan suka rela menenggelamkan dirinya dari hal-hal yang haram. Atau tidak rela meninggalkan yang haram karena terlanjur nyaman di sana.

Kedua, tingkatan pertengahan. Yaitu mereka yang tidak berlebihan dalam hal yang halal. Sesuatu yang diperbolehkan namun ia tetap menjaga diri dari berfoya-foya dan bermegah-megah. Sebenarnya ia mampu memiliki rumah seindah istana, tapi kezuhudannya mengantarnya memiliki rumah yang bersahaja. Agar lebih konkrit, kita ambil contoh dalam jamuan pernikahan dengan konsep prasmanan (ambil sendiri), tersedia berbagai macam jenis makanan. Tentunya dengan warna dan rasa yang menggoyang lidah. Sajian makan beratnya tidak kalah lezatnya dengan aneka lauk pauk yang menggoda lemak menumpuk. Dan tidak ada yang melarang untuk mencoba semua makanan tersebut. Semuanya halal dan diperbolehkan. Namun, bagi manusia zuhud tingkat pertengahan, ia tidak akan mengambil semuanya. Ia hanya akan mengkomsumsi secukupnya dan seperlunya saja.

Tingkatan yang ketiga, masuk kategori zuhud spesial. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang menjauhi hal-hal yang dapat melalaikannya dekat dengan Allah swt. Kita akan jumpai pada diri Rasulullah saw. Nabi Muhammad lebih memilih hidup sederhana, dengan rumah, alas tidur dan perabot rumah tangga yang jauh dari kesan mewah. Membiasakan diri berpuasa, terkadang berminggu-minggu dapur beliau tidak mengepul. Seorang pemimpin yang sangat bersahaja dengan dunia dalam genggaman.

Bukan karena kemiskinan yang membuat beliau menjalani hidup seperti "prihatin." Saat ditawari emas sebukit Uhud nabi tetap menolak, karena bukan itu yang beliau cari. Semua yang menjauhkan dari Allah akan beliau tinggalkan. Zuhud itu sederhana dalam kelimpahan. Bukan berarti Islam anti kekayaan atau Rasul menganjurkan hidup miskin. Bukan begitu. Raih dunia setinggi-tingginya lalu letakkan ia di tangan. Stop! Ditangan saja, jangan sampai masuk ke hati. Di hati cuman ada Allah, Allah, Allah Akbar. Akhirnya, sifat zuhud hanya bermuara pada kebaikan. Dalam kondisi apa pun kita sekarang, miskin, harus zuhud! Kaya, pun sama. Minimal pada tingkatan pertama, menghindarkan diri dari yang haram. Bisa.

  • view 106