Menemukan Bahagia

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 08 Juni 2016
Menemukan Bahagia

Dalam sebuah kesempatan, selepas shalat Maghrib seorang dai muda diminta mengisi tausiah. Dari pembukaannya, nampak kefasihannya melafalkan ayat dan hadis. Bukan itu yang menarik, karena bagiku itu harus dimiliki seorang pendakwah. Ada beberapa penggal kata yang cukup menarik dan menusuk sanubari. Mencari kebagiaan. Ya, menemukan bahagia.

Kebahagiaan cacing ada di dalam tanah. Sedangkan ikan kebahagiaanya di dalam air dan harimau di dalam hutan belantara –tentunya- sebagai raja hutan. Apa jadinya jika si cacing mencari kebahagiannya di kasur yang empuk atau si ikan ke gunung refresing mencari ketenangan? Atau si harimau dipaksa ke kebun binatang dengan daging segar –setiap hari- tanpa harus berburu dan kejar-kejaran dangan mangsa, dan tentunya dengan perawatan tubuh yang super wah. Semua kebutuhan terpenuhi tanpa harus bekerja keras dengan segala kekejaman hutan rimba.

Pertanyaanya, apakah mereka akan menemukan bahagia?

Sekarang, kita sebagai manusia dimana sumber kebahagiaan kita? Masihkah kita mencarinya sampai hari ini?

Bahagia adalah bahasa universal yang bisa dipahami setiap manusia. Dan, letaknya dalam hati. Bahagia bukan bahasa fisik. Misalnya, jika kurus dan sakit-sakitan pasti dia menderita. Padahal belum tentu kan? Berapa banyak orang yang fisiknya terbatas namun hidupnya dilingkupi kedamaian. Atau jika tubuhnya atletis, wajah ganteng/cantik, dan segar bugar menunjukkan dia manusia bahagia? Tidak juga bukan.

Oleh karena itu bahasa bahagia adalah bahasa hati. Pemahaman yang keliru akan mengantarkan kita pada cara pandang (paradigma) dan orientasi hidup yang salah. Orang yang meyakini harta kekayaan sebagai sumber kebahagian akan menjalani kehidupan sebagai pemburu harta. Kerja, kerja dan kerja. Begitu pula yang menggantungkan kebahagiaanya pada jabatan tinggi, istri cantik, kendaraan mewah, kerjaan nyaman dengan gaji besar, dan pada popularitas. Maka, nasibnya akan seperti mengejar fatamorgana. Terus mengejar angan-angan tanpa pernah bisa merasakan kenikmatan hidup. Semakin dikejar semakin menjauh. Mengapa? Karena bukan itu kebahagian manusia.

Hakikatnya, kebahagiaan manusia itu sangat dekat. Tidak jauh, bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Ya, Allah. Allahlah sumber kebahagiaan manusia. Maka, manusia yang dekat dengan Tuhannya pasti bahagia. Ya, pasti bahagia. Sebaliknya, yang jauh dari Allah tidak akan pernah merasakan bahagia, senang mungkin bisa. Orang yang terlena gemerlap dunia mungkin akan merasakan kesenangan tapi, sementara. Ada titik jenuh dimana hati meminta untuk didekatkan dengan penciptaNya. Karena di sanalah ia akan merasakan ketenangan.

Benar, Banyak yang bisa dilakukan dengan harta. Tetapi, uang bukanlah segalanya. Uang bisa membeli kasur yang empuk namun tidur pulas tidak. Uang bisa membeli rumah yang mewah namun ketenangan tidak. Oleh karena itu nabi mengingatkan kita akan konsep kaya yang sebenarnya, “Kekayaan bukanlah diukur dengan banyaknya harta. Namun  kekayaan (hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari)

Allah Maha adil tentunya. Jika bahagia itu hanya dengan harta maka, berapa banyak orang yang tidak akan bisa merasakan bahagia. Begitupula berlaku dengan ukuran-ukuran kebendaan yang lainnya. Semua Akan jadi dominasi segelintir manusia. Padahal setiap kita berhak untuk bahagia. Dan, Allah telah memberikan kita jalan seleber-lebarnya untuk mencapainya, dengan satu syarat, MAU. Maukah kita mendekat kepada-Nya? Jangan-jangan kita yang masih enggan. Cukup mendekatlah kepadaNya, maka, bahagia akan menghampirimu. Karena Dia-lah sumber bahagia itu. Jalankan semua perintahnya dan jauhi yang dimurkainya. Utamakan Allah daripada yang lainnya. Dan, itu ada di hatimu. Selamat berbahagia.

  • view 143