Lambat, Digilas dan Dibanding-Bandingkan!

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juni 2016
Lambat, Digilas dan Dibanding-Bandingkan!

Apa yang paling tidak enak dari penilaian orang lain terhadap diri kita? Saya pribadi sangat tidak nyaman saat harus dibanding-bandingkan dengan orang lain. Anda? Saya rasa kita sepakat. Coba bayangkan seandainya wajah kita ini dianggap jelek setelah dibandingkan dengan orang lain. Artis lagi. Atau kinerja kita dianggap tidak bermutu –meskipun telah dilakukan secara maksimal- dan dibanding-bandingkan dengan kinerja teman sekantor. Sakit bukan? Namun, begitulah adanya.

Kita akan selalu diukur atau dibandingkan dengan orang lain. Kita akan dianggap baik jika ada ukurannya yaitu, manusia jahat. Kita dianggap muslim karena ada kafir. Kita dianggap pintar karena ada yang bodoh dan begitu seterusnya.

Dunia kerja adalah dunia penuh persaingan. Semakin banyak pilihan semakin ketat persaingan. Usaha yang tidak menjanjikan akan segera ditinggalkan. Pelayanan yang buruk akan segera digeser oleh pelayanan yang baik. Lalu good bye.

Inovasi dan kreatifitas selalu dituntut. Jika ada 10 pejual ayam potong berderet di jalan maka yang paling berbeda atau kreatiflah yang akan dilirik. Ciptakan perbedaan dengan yang lainnya. Bisa dalam bentuk pelayanannya yang sopan dan ramah atau ada tips-tips tertentu bagi pelanggan tetap.

Bukan hanya bidang bisnis yang dituntut kreatif. Tetapi, Usaha jasa seperti rumah sakit, sekolah bahkan tempat ibadah pun harus. Sekedar contoh, kota Makassar dikenal cukup panas udaranya karena memang berdekatan dengan pesisir pantai. Menggunakan kipas angin rasa-rasanya sudah tidak memadai lagi untuk mengusir gerah. Gedung-gedung perkantoran lebih memilih menggunakan AC daripada harus kepanasan.

Di samping kiri dan kanan rumah ada dua mesjid yang cukup besar. Beberapa tahun yang silam -sebelum saya hijrah ke Jogja- kedua masjid tersebut masih menggunakan kipas angin sebagai alat penyejuk ruangan. Beberapa tahun kemudian saat mudik, masjid sebelah kanan telah menggunakan AC sementara yang kiri belum. Saat memasuki masjid yang kanan terasa adem dan betah berlama-lama di dalam. Dan, ternyata jama'ah shalatnya pun hampir memenuhi masjid. Saya pun lebih sering shalat di masjid kanan. Suatu hari, saya sempatkan untuk shalat di masjid kiri –yang masih menggunakan kipas angin-, dan jama'ahnya lebih sedikit tentunya.

Karena pembeli raja maka penjual harus mampu memahami itu. Hampir semua sektor usaha tidak pernah berdiri sendiri, semuanya ada pesaingnya. Bagi yang berpikir maju, pesaing adalah mitra untuk meningkatkan kualitas usaha. Saya ada sedikit pengalaman dengan usaha kuliner. Bukan sebagai penjual tetapi pembeli. Saat ada kegiatan makan malam di luar rumah, sasaran kita adalah makanan khas kota Makassar. Yup, Coto Makassar. Untuk memuliakan tamu dari Jogja, katanya.

Konsepnya sih sederhana, seperti kaki lima dengan lesehannya, hanya ditutupi banner bertuliskan Coto Makassar. Namun, pelayanannya sangat cepat. “Mesan apa pak?” “Ini coto Makassar. Ini campur hati, dan ini, ini, ini.” cek-cek-cek. Selesai. Kami yang berjumlah 7 orang dilayani Gak Pake Lama (GPL). Disamping harus melayani pengunjung lainnya yang terus berdatangan, pantesan ramai. Makan malam semakin joss dengan suasana pinggir kota yang nyaman, pelayanan memuaskan plus rasa gurih yang nonjok. Puas dan pengen mengulangi lagi.

Beberapa hari kemudian, karena lapar kami ingin mengulangi nuansa makan coto di tempat yang lain. Sayangnya, pelayanannya terlalu lama, sambil menunggu disajikan, dengan santainya salah seorang dari kami nyeletuk, "Wah nggak kayak yang di sana ya. Kelamaan." Tanpa menurunkan volume suaranya. Saya sangat yakin penjualnya bisa mendengarkan obrolan kami.

Begitulah dunia usaha. Memuaskan akan dicari, mengecewakan bersipalah untuk ditinggal. Anda lambat bersipalah digilas. Di zaman manusia super sibuk ini, pembeli terkadang membutuhkan kecepatan pelayanan. Orang akan merasa rugi jika harus menunggu bermenit-menit hanya untuk seporsi makan siang. Hem. Bersiaplah!

  • view 61