Buku yang Mengubah

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Mei 2016
Buku yang Mengubah

 

“Membaca buku-buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik.”

(Buya Hamka)

Kapan Anda mulai bisa membaca? Setiap kita pasti punya pengalaman tersendiri menapaki tangga ini. Saya termasuk anak yang dianggap ‘lambat’ mampu membaca. Disamping latar belakang keluarga yang jauh dari dunia akademik –buruh tani- juga kemampuan intelektual yang standar (baca: biasa-biasa saja). Belajar membaca menjadi horor tersendiri buat saya, di rumah, kakak tidak mengenal kompromi dengan menggunakan cara-cara yang ‘sadis’ dalam mengajari saya. Namun, entah apa, setelah mampu membaca, saya malah ketagihan untuk terus membaca.

Persisnya di kelas 5 SD –di daerah yang sangat terpencil, di pelosok Sulawesi Selatan- saya mulai berkenalan dengan buku-buku bacaan. Khususnya yang ada di perpustakaan sekolah. Dengan koleksi bukunya sangat terbatas, kalau bukan buku paket pelajaran ya, buku-buku cerita petualang atau kisah para sahabat Nabi, itu saja. hampir setiap tiga kali minggu,  saya berkunjung ke perpustakaan untuk mengembalikan dan meminjam buku baru. Sampai-sampai petugas perpustakaan yang nyambi jadi kepala sekolah terheran-heran. Di tengah masyarakat terpencil, kok ada yang doyan buku, itu merupakan sesuatu yang mengherankan. Begitulah kira-kira yang terlintas di kepala bapak sekolah. Karena sebab itu pula, saya sering di sanjung oleh Kepsek di depan seluruh siswa (baca: 30-an anak).

“Ini adalah contoh siswa yang rajin membaca,” kata beliau pada upacar bendera yang membuatku tersanjung.

Seingat saya, semua buku di perpustakaan ludes terbaca, khususnya buku cerita petualang dan kisah-kisah sahabat nabi. selalu saja, setelah membaca buku petualangan muncul imajinasi yang menggebu untuk bisa merasakan petualangan yang sama. Bahkan terkadang dalam bermain pun saya menciptakan suasana petualang.

Sampai masa SMP perkenalan saya dengan buku, terbatas pada buku yang bergenre fiksi. Memasuki sekolah menegah pertama, saya mulai mengenal fiksi luar negeri, Harry Potter karya JK Rowling yang menjadi buah bibir saat itu. seri satu sampai tiga saya lahab habis, tidak puasa saya ulangi hingga beberapa kali. Seperti ceritanya, kita ikut tersihir dan terhipnotis larut dalam kisah petualangan si anak yatim piatu Harry Potter pemilik tanda sambaran kilat di dahinya. Rasa penasaran kita dipicu terus untuk tidak berhenti menyelesaikan lembar demi lembar. Saya rasa, JK rowling sangat luar bisa menggoreskan imajinasinya untuk mengobok-obok instuisi pembacanya. Pernah, karena sangat asyiknya membaca saya tanpa sadar dipanggil oleh bapak guru berkali-kali namun saya tidak bergeming sampai panggilan bernada keras mengagetkan saya, “Syahrul!!!.” “Apa? Oh, maaf Mr. Snape.” Wkwkw.

Masuk SMA, saya mulai membaca dan menyukai buku-buku non-fiksi. Ada satu buku yang banyak mengubah hidupku. Judul dan pengarangnya saya lupa, karena bukunya memang buku lama, ejaannya saja masih ejaan lama. Kertasnya masih kuning kusam ketuaan. Buku ini bercerita tentang kehidupan akhirat kelak, surga dan neraka. Untaian katanya yang mengalir mengajak pembacanya untuk ‘merem melek’ membayangkan surga dan siksa neraka.

Masa SMA, katanya, masa-masa paling indah. Gejolak menyukai lawan jenis berada pada puncak-puncaknya. Karena tidak kuat iman, banyak yang terpaksa tergelincir pada perbuatan nista, seks bebas.

Tanpa sengaja, saya diajak teman mencari buku di kota Makassar, karena memang susah mencari toko buku –harus di kota-kota besar. Dalam proses mencari-cari saya menemukan satu buku dengan judul yang sangat menarik, “pacaran Setelah Menikah.” Katanya ini adalah karya perdana Salim A. Fillah dan buku terbitan perdana Pro-U. Buku ini mengajak kita untuk menertawakan diri sendiri sekaligus menyentil remaja/pemuda yang masih sendiri (jomblo) untuk menjaga kesucian diri sampai nikmatnya pacaran itu halal.

Setelah hijrah ke kota pelajar, Yogyakarta –kota ini memang luar biasa khususnya bagi penuntut ilmu yang haus buku- perkenalan saya dengan buku-buku non-fiksi semakin meluas. Mulai yang dikemas dengan bahasa ringan dan nge-pop sampai yang harus mijit-mijit jidat untuk bisa memahaminya. Segala jenis buku ada, pun buku lama yang sudah tidak terbit lagi dengan harga yang relatif murah. Penulis, penerbit, dan pembaca tumpah ruah di kota ini. lengkap!

Sampai saat ini saya berkeyakinan tidak ada buku yang jelek –mungkin selera pembacanya yang membedakan. Sejelek apa pun sebuah karya tulis pasti telah melalui proses perjuangan yang tidak mudah. Minimal meluangkan waktu menulis di tengah masyarakat yang tingkat membacanya rendah. Namun, tidak semua buku mampu menggerakkan atau pun mengubah pembacanya. Hanya tulisan yang berkualitas, yang mampu memberikan pencerahan. Tulisan yang memiliki ruh.

Oleh karena itu, jika saya harus memilih buku apa yang mengubah dan memprovokasi untuk menulis maka, saya memilih ada tiga buku; satu fiksi dan dua non-fiksi. Pertama, buku 'Wajah Peradaban BaratDari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular Liberal ", karya seorang pemikir muslim Adian Husaini. karya Adian ini sebenarnya ditujukan kepada kalangan akademisi Islam Indonesia yang "terpesona" oleh pemikiran Barat dalam studi Islam (Islamic Studies).

Penjabaran tentang Barat oleh Adian dalam buku ini cukup lengkap, mulai dari siapa yang disebut Barat, pandangan Barat terhadap agama, perselingkuhan Barat dengan zionisme, pandangan Barat terhadap Islam -fundamenlisme--terorisme, benturan peradaban, invasi Barat dalam pemikiran Islam dan the end of the West. Tidak heran jika buku ini merupakan salah satu karya terbaik Adian Husaini

Buku ini sebenarnya berat –karena saya harus membacanya berkali-kali untuk bisa memahami dengan baik- dan full referensi namun, di tangan Adian buku menjadi lebih ringan dan mengalir menggambarkan dan menguliti peradaban Barat tanpa harus kebarat-baratan. Peradaban Barat sejatinya merupakan ramuan dari unsur-unsur Yunani Kuno, Kristen, dan tradisi paganisme Eropa.  Maka, tidak mengherankan jika buku ini menggondol pengharagaan buku terbaik non-fiksi di Islamic Book Fair ke-5 tahun 2006.

Buku inilah yang pertama kali membuatku terkagum-kagum dengan kekuatan kata dan data yang disuguhkan. Hebat ya. Apakah saya bisa menulis buku juga? Minimal buku sederhana. Begitulah kira-kira yang terlintas dalam benak saya saat itu, sebuah perasaan dan keinginan untuk memulai menulis.

Kedua, adalah buku fiksi, karya Ahmad Fuady dengan judul Negeri 5 Menara (N5M). Sependek pengetahuan saya, ini adalah buku perdana –terbitan PT Gramedia Pustaka Utama- Ahmad Fuadi yang langsung bertengger di deretan bestseller tahun 2009. Perjalanan hidupnya di pondok pesantren ditulis dengan sangat mengalir. Kekuatan novel ini terletak  pada kuatnya ruh penulis masuk dalam cerita. Terlalu banyak bertebaran nilai-nilai pendidikan dalam setiap lembarnya –dengan ketebalan xii+423. Petuah-petuah pondok pesantren seperti man jadda wajada, man shabara zhafira, dan man sara ala dharbi wa shala menjadi familiar di telinga masyarakat yang tidak pernah mengecap dunia pesantren dan menjadi nostagia tersendiri bagi yang pernah merasakan kehidupan pesantren. Rasa penasaran –bagi yang tidak tahu kehidupan pondok- terjawab di dalam novel ini. Pantas bila kiranya N5M ini pernah masuk nominasi Khatulisiwa Literary Award sehingga ada salah satu penerbit di Negeri Jiran Malaysia, yaitu PTS Litera tertarik untuk menerbitkan di negaranya dalam versi Bahasa yang berbeda, yaitu Bahasa melayu.

Rasa ingin menulis buku kemudian mendapatkan momentumnya setelah membaca novel ini. bukan hanya karena inspirasi buku ini yang luar biasa juga tidak kalah pentingnya ketenaran dan kepopuleran penulisnya juga menjadi pemicu gairah untuk menulis. Belum lagi pundi-pundi rupiah yang mengalir deras. Apalagi N5M pernah diangkat ke layar lebar. Lengkap.

Gayung bersambut, dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian skripsi yang akan membedah novel N5M karya Ahmad Fuadi. Dengan judul, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Novel N5M karya Ahmad Fuadi dan relevansinya dengan Pendidikan Karakter.” Lahirlah karya tulis perdana dari mengkaji novel ini meskipun berbentuk penelitian ilmiah yang tidak dipublikasikan secara luas.

Ketiga, buku motivasi inspirasi Islam karya Felix Y. Siauw. Dengan judul yang keren dan desain cover yang elegan telah mampu menyedot pembaca untuk tidak hanya membolak-balik dan membaca sekilas lalu ditinggal tetapi, mampu memaksa pembeli untuk merogoh saku celananya lalu ke kasir. Seperti itulah yang saya rasakan, maka tidak mengherankan buku how to master your Habist telah memasuki cetekan ke-9, pada bulan Desember 2014 yang cetak pertamanya baru setahun yang lalu, Maret 2013. Luar biasa. Bukan hanya angka penjualannya yang fantastik, kontennya pun betul-betul “nonjok.”  

Buku yang sangat sistematis, runtun dalam mengantarkan pembacanya dalam memahami apa itu Habbit dan bagaimana habits itu tercipta. Bagaimana seseorang bisa menguasai suatu keahlian? Bagi sebagian besar manusia. Keahlian adalah perkara bakat. Sebagian yang lain. Keahlian adalah masalah latihan dan pengulangan.

Salah satu bab yang dalam buku ini kemudian yang meluncurkan saya –dari bermimpi kemudian semangat, lalu meluncur- pada azam untuk memulai, “Ya, saya harus memulai menulis. Dan, tidak ada yang mustahil selama kita mau.” Puncak habits adalah menjadi ahli, to be an expert. Bagaimana kemudian kebiasaan ini melekat dalam diri kita dan menjadi keahlian kita. Ada caranya yaitu mengikuti sebuah teori the rules of 10.000 hours yang dicetuskan oleh Malcolm Gladwell. Ya, jika Anda ingin ahli dibidang apa pun maka lewatilah waktu latihan 10.000 jam. Semua manusia ahli telah melewatinya pun Ronaldho maupun Messi.

Apalagi Anda yang bercita-cita menjadi penulis. Latihan dan pengulangan sampai 10.000 jam. Jika sehari kita mampu latihan selama 6 jama maka, kita membutuhkan 5 tahun menjadi manusia ahli. Mau lebih cepat maka, tambahi sendiri.

Buku-buku inilah kemudian yang menggugah dan mengubah saya menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dalam dunia tulis-menulis, buku-buku ini menjadi inspirasinya untuk segera mengangkat tangan dan menggerakkannya menjadi kalimat-kalimat yang bermakna dan bisa dibaca. Dari terinspirasi, kemudian termotivasi lalu terbukti. Ya, buku yang menggugah dan mengubah. Setia berproses menuju 10.000 jam.

 

  • view 162