Berdamai dengan Perbedaan

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Mei 2016
Berdamai dengan Perbedaan

Ada nggak orang yang tidak suka berbeda? Ya ada. Namanya juga manusia pasti ada. Kayaknya hidupnya pasti susah ya. Dan nggak usah dibayangin. Padahal itu sunatullah yang nggak mungkin dihapuskan. Tugas kita adalah menjadi manusia baik dan yang paling bermanfaat bagi kebaikan orang banyak.

Terkadang kita sepakat dengan sesuatu hal dan tidak sedikit kita harus berdamai dengan perbedaan. Bagi Tuhan tidak susahnya menjadikan seluruh manusia di bumi ini menjadi manusia yang baik, taat dan hanya menyembah kepada-Nya. Pertayaannya, Mengapa hal itu tidak dilakukan Tuhan? Pasti ada hikmahnya, ma khalaqta hadza batilan. Tugas kita adalah belajar menggali dan memahami maksud Tuhan tersebut.

Oleh karena itu, dalam mengajak (dakwah) manusia menuju ke jalan Tuhan, seorang pengajak (dai) tugasnya hanya menyampaikan. Titik. Masalah ia mau atau tidak bukan sama sekali campur tangan manusia. Bahkan nabi sekalipun tidak mampu memberi hidayah kepada anak, istri ataupun keluarga terdekatnya. Apalagi kita yang kadang ucapan dan perbuatan bertolak belakang, sholeh hanya di keramaian dan ibadah jarang khusuk. Dengan pemahaman seperti ini maka seyogyanya tidak ada dai yang stress gegara lelah berdakwah. Yang pasti, tidak ada yang sia-sia dimatanya, bahkan ikhlas atau pun tidak tetap Allah perhitungkan.

Nggak percaya? Coba berapa banyak pengusahan non-muslim yang yang meyakini kekuatan memberi (the power of giving). Tentunya mereka tidak mengenal konsep ikhlas dalam Islam. Mereka hanya yakin kalau memberi pasti kembali dengan berlipat. Hanya itu dan terbukti tidak ada yang bangkrut karena rajin memberi.

Dalam perjalanan mudik ke makassar -menghadiri pernikahan saudara, saya melihat ada sesuatu yang menarik yang terjadi di bandara. Ya, kalau kita mau jeli, bandara -bisa terminal, pelabuhan dll- bisa kita jadikan miniatur berdamai dengan perbedaan. Semua jenis manusia ada dengan segala perbedaan yang melekat pada diri masing-masing. Mulai dari kyai dan ustad sampai biarawati dan pastor pun ada. Perempuan dengan wajah bercadar dan tidak berani menatap lawan jenis sampai perempuan barpakaian setengah telanjang pun ada. Ada yang asyik makan, membaca, dengerin musik, ngobrol, tiduran sampai kebingungan juga ada. Dari yang berwajah serem dengan koleksi tatto yang lengkap sampai yang berwajah imut murah senyum. Dari artis terkenal sampai tukang sapu pun ada. Dari yang berpenghasilan jut-jutan sampai yang nggak bisa makan pun ada. Dari yang berhidup mancung berkulit putih sampai yang berkulit hitam nyaris tanpa hidung pun banyak. Dari yang bermata sipit sampai bermata sapi pun bersliweran. Pokoknya lengkap.

Dan, kita saksikan tidak ada sedikitpun gesekan. Semuanya damai menikmati perbedaan. lakum diinukum wal yadiin. Meskipun sang ustad tidak senang dengan wanita yang memamerkan aurat namun, hal itu tidak kemudian menciptakan konflik. Ataupun sebaliknya. Semua bisa menahan diri berdamai dengan perbedaan. Adem.

Satu hal yang penting, Meskipun berbeda, namun semua manusia yang ada di sana harus menaati aturan yang telah disepakati bersama. Misalnya, Tidak boleh merokok. Siapa pun Anda, jika merokok akan ditegur bahkan diusir. Atau membuang sampah sembarangan. Selama tidak melanggar itu semua, Anda bebas berbeda dengan damai.

Dunia kita telah banyak berubah. Dunia medsos membawa perubahan yang tidak sedikit bahkan terkadang membuat kita -generasi tua- terkaget kaget dan melongo. Oh, sudah segitunya kah?. Jika di bandara ada miniatur indahnya perbedaan maka dumay (dunia maya) menampakkan sisi buruknya menyikapi perbedaan.

Ada akun yang memuja idolanya secara membabi buta dan mencaci maki lawan-lawannya tanpa tedeng aling-aling. Followersnya pun ribut berdebat tanpa mengindahkan nilai-nilai tata krama lagi. Persis di kebun binatang. Semua bahasa MCK keluar menyeruak meninggalkan bau busuk yang bertahan lama. Muak. Dan, itu sesungguhnya menunjukkan realitas masyarakat kita. Hem.

Yuk belajar lagi. Mari berdamai dengan perbedaan. Hidup itu indah dengan perbedaan.
Salam, Bandara Juanda, 13 Mei 2016.

Dilihat 144