Salam Kreatif

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Mei 2016
Salam Kreatif

Salam Kreatif
-------------
Sebagian pemerhati pendidikan melihat sistem pendidikan bangsa kita kurang memunculkan jiwa kreatif dalam diri siswa. Sejak TK anak- anak sudah diseragamkan seragamnya, sampai SMA pun ujian penentu kelulusan adalah multiple choose. Sebuah pertaruhan yang tidak menantang kreatifitas. Hanya ada empat alternatif jawaban. Dan, deretan angka di atas kertas yang menjadi penentu kelulusan.

Kreatif itu apa sebenarnya? Hal ini penting dipahami. Saya pribadi lebih suka memaknai kreatif secara simple. Saat kita mampu melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang kebanyakan itulah kreatif. Orang mungkin melihatnya biasa, bagi orang kreatif menjadi sesuatu yang tak ternilai. Ke depan, kesuksesan milik mereka yang kreatif. Kita terkaget-kaget melihat ada seorang pemuda biasa menjadi kaya raya hanya karena ia mampu milihat sampah berbeda dengan kita melihatnya. Dan, masih banyak lagi pengusaha, pekerja seni, dan pendidik yang sukses melihat sesuatu yang tidak dilihat manusia kebayakan.

Semua orang pasti pernah melihat benda jatuh. Bahkan menjatuhkan benda hampir tiap hari kita lakukan. Namun, hanya di mata Sir Isaac Newton yang mampu melihatnya berbeda. Ya, yang kemudian menjadi embrio lahirnya hukum grativitas.

Sewaktu SD dulu, ayah saya seorang petani ulet, hampir tiap tahun panen tela, bahasa jawanya telo atau lebih dikenal dengan sebutan singkong/ubi kayu. Makanan yang banyak mengandung karbohidrat ini identik dengan makanan orang desa, tidak berkelas. Di desa kami saat itu singkong hanya diolah secara konvensional dibuat kue-kue basah. Dengan harga jual yang tidak seberapa. Maka, hasil pertanian pun tak seberapa, sekedar bisa menutupi ongkos produksi kami anggap sudah tidak mengapa. Termasuk ongkos jaga babi hutan yang tidak pernah gentar menyatroni makanan favoritnya yang siap panen.

Beberapa tahun kemudia singkong, di tangan manusia-manusia kreatif, singkong telah menjadi makanan berkelas dan masuk toko-toko besar dengan nama yang keren, Qtela. Di rumah-rumah mewah makanan ini nangkring, di kendaraan-kendaran yang sejuk, makanan ini jadi cemilan, di tempat-tempat rekreaksi pun mampang. Si anak singkong naik kelas.

Dunia literasi (tulis-menulis) adalah dunia kreatifitas. Pertayaan yang selalu menggangu pikiran saya saat melihat banyak penulis yang mampu menerbitkan bukunya hampir tiap bulan, dari mana idenya ya? Pertanyaan ini dijawab singkat oleh seorang penulis, "menulislah!" "Menulis apa?" "Jangan banyak tanya. Menulislah!"

Betul saja, saat kita memaksa dan melatih diri untuk menulis maka, Pertanyaan ini terjawab. Oh, ide menulis itu ternyata ada di sekitar kita. Semakin digali semakin banyak ide itu bersliweran, tak terbendung. Bagaimana bisa? ada kreativitas di sana. Saat jalan-jalan di Mall lalu muncul kejadian unik, jadilah satu judul tulisan. Meski kejadian tersebut puluhan orang ikut menyaksikan namun, hanya yang kreatiflah yang mampu menangkapnya lalu mengikatnya menjadi lebih bermakna. Bukankah setiap hari kita mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan yang penuh makna?

Sesungguhnya manusia kreatif tidak pernah kehabisan akal. Ia mampu melihat peluang dalam kegelapan, melilahat jalan dalam kebuntuan, dan melihat ide dalam ruang yang hampa. Maka kreatiflah! Pertanyaannya bagaimana kreatifitas itu bisa dimiliki? Jawaban singkatnya, memulailah! Titik. Salam kreatif.