Belajar dari Seorang Pastor

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 09 Mei 2016
Belajar dari Seorang Pastor

Sesungguhnya bangsa kita sudah sangat dewasa menyikapi perbedaan. Tidak berlebihan jika Indonesia bisa menjadi role model dalam merawat pluralitas. Meskipun selalu akan diuji dan terus diuji kedewasaan kita dalam menyikapi perbedaan. Sesekali sayatan luka lama menganga kembali oleh prilaku segelintir orang yang gemar menyebar kebencian. Saya sangat yakin mayoritas kita mencintai kedamaian dan tidak ada satu agama pun mengajarkan kekerasan dan kericuhan.

Sesungguhnya perbedaan bisa disatukan oleh kesantunan. Kemarahan dan kebencian akan tunduk di hadapan ketenangan. Akhlak mulia yang bisa menyatukan kita. kemulian akhlak bagaikan air. Kerasnya batu, kasarnya krikil, lemahnya pasir dan lembutnya semen bisa disatukan oleh air menjadi bangunan, jembatan, jalan dan gedung pencakar langit yang kokoh. Begitulah kira-kira akhlak Rasulullah saw yang mampu menundukkan kerasnya hati kafir Quraisy.

Mari sejenak saya mengajak pembaca merenungkan bagaimana kelembutan mampu melunakkan hati yang keras. kisah ini saya dengar dalam sebuah ajang silaturrahmi antara guru-guru. Bercanda dan saling melempar guyon seperti biasa menambah suasana keakraban. Mencoba melupakan sejenak semua masalah siswa dan sekolah. Namun susah rupanya. Namanya guru, ya, humornya tidak jauh-jauh dari dunia sekolah. Sampailah kemudian, saat seorang kepala sekolah melontarkan cerita lucu -bagi saya serius- tentang seorang siswa muslim yang sekolah di institusi Kristen.

Siswa muslim ini memang di desanya terkenal "mbiying" (nakal dan susah diatur). Dalam acara keagamaan yang syahdu, tiba-tiba anak tersebut berdiri dan masuk gereja kemudian mengumandangkan azan dengan lantangnya. Sontak, semua jamaah kaget dengan beragam ekspresi. Namun, sang pastor hanya tersenyum sambil memberi aba-aba ke jamaah untuk tidak memberi reaksi dan membiarkan siswa tersebut menyelesaikan azannya. "Ehem, ia hanya belum tahu saja." Gumamnya dengan tenang.

Kisah ini kemudian sampai di telinga sang kepala sekolah yang juga tetangganya. Saat ditanya, "apakah setelah itu pastor marah?"

"Tidak. Malah saya sering dipanggil dan ditanya-tanya tentang tempat tinggal, keluarga dan uang jajan. Sesekali uang jajan saya ditambahi. Saya jadi nggak enak sendiri." Jawab siswa tersebut.

Jleb. Bukankah ini ajaran rasulullah dalam menyebarkan islam dan sudah sangat jarang kita praktikkan di sekolah-sekolah yang notabenenya islam. Mengajar dengan hati dan kelembutan. Mungkin bentakan yang akan terlontar dari bibir kita terhadap siswa yang adzan jam 10 pagi di masjid sekolah.

Sekilas saya teringat sebuah berita dari teman di sosmed, kisah seorang anak yang dibentak oleh jamaah hanya karena ia ribut, lari kesana-kemari, sambil guyonan saat di masjid. Apa yang terjadi? Anak itu kini sudah berusia 60 tahun, –berdasarkan pengakuannya- ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di masjid semenjak peristiwa itu. Selama 55 tahun ia trauma ke masjid. Salah siapa?

Seyogyanya masjid harus ramah anak. Dan, pengurus masjid harus memahami hal ini. Sehingga siap dengan segala konsekuensinya, bekerja, membersihkan dan merapikan masjid lebih ekstra. Hari ini kita saksikan bukan, masjid-masjid kita sepi dari suara anak-anak. Jauh dari diskusi dan kegiatan keremajaan? Mungkin kita -generasi tua ini- ikut berkontribusi menyepikan masjid. Masjid kita seperti kuburan. Remajanya lebih asyik ke mall dan bioskop karena di sana mereka bebas tanpa tekanan.

Sejak Sekolah Dasar, bukankah di masjid dan surau guru ngaji kita tidak pernah lupa menyelibkan kisah kemuliaan akhlak rasullah dalam menyampaikan islam. Dengan akhlak yang mulia pula islam berkembang dengan pesatnya. Nabi hanya membutuhkan 23 tahun untuk membalik kejahilan bangsa Arab dengan kemusyrikan yang telah mendarah daging menjadi bangsa yang mulia.

Diceritakan dalan sebuah hadis –dalam riwayat Bukhari dan Muslim- suatu ketika, tiba-tiba datang seorang Badui ke masjid rasulullah lalu dengan santainya ia pipis di salah satu sudut masjid. Melihat hal tersebut para sahabat teriak dan hendak mencegahnya. Namun, rasulullah mencegah tindakan sahabatnya dan membiarkan Badui tersebut menyelesaikan hajatnya. Setelah selesai, nabi memerintahkan para sahabat untuk membersihkan masjid. Nabi kemudian memanggil dan menasihati dengan lembut dan penuh kesantunan bahwa masjid adalah tempat suci dan tempat beribadah.

Kemulian akhlak Rasul beliau tunjukkan saat datang dengan kasar seorang penagih hutang dari Yahudi yang langsung memegang kerah baju nabi sembil membentak, “Hai keturunan Abdul Muthalib, engkau adalah dari golongan orang yang suka menangguh-nangguhkan hutang.” Sungguh kasar dan keterlaluan membuat Umar berang dan emosi. Bukanya emosi, rasul malah memarahi Umar atas sikapnya tersebut. Melihat kemulian akhlak rasulullah si Yahudi takjub dan mengantarkannya memeluk agama damai ini.

Kemulian akhlak inilah yang mulai perlahan hilang pada bangsa berpenduduk muslim terbesar sedunia. Banyak masalah berakhir kekerasan dan hancur-hancuran. Sekolah-sekolah islam setali dua uang, tidak jauh beda. Sumbu kesabaran guru-guru terlalu pendek, mudah marah dan tersulut emosi. Maka, kisah sang pastor menggelitik hati terdalam kita, “Seharusnya kita yang berhak mewarisi prilaku nabi. bukan dia.”  

Yuk belajar dari mana pun hikmah itu berasal, walaupun dari seekor anjing yang najis. Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi). Salam

  • view 110