Manusia Pembelajar

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 01 Mei 2016
Manusia Pembelajar

Sampai kapan kita berhenti belajar? Apakah setelah semua gelar akademik telah kita raih menjadi tanda berhentinya kita belajar? Ya, belajar baru boleh berhenti setelah puncak gelar telah kita capai. Dan tahukah kita apa puncak gelar tertinggi yang dicapai manusia? Almarhum. Ya setelah gelar almarhum/humah melakat pada nama kita, maka belajar baru boleh berhenti. Prof. Dr. Syahrul, M.S.I almarhum.

Di dalam Islam perintah untuk menuntut ilmu dimulai dari buaian sampai liang lahat. Uthlubul 'ilma manal mahdi ilal lahdi. Menuntut ilmu atau belajar jangan dibatasi secara sempit yaitu bangku sekolah semata. Long life education. Belajar itu dimana pun dan kapan pun sepanjang hayat. Belajar di sekolah hanya bagian kecil dari menuntut ilmu. Istilah dunia pendidikan adalah pendidikan formal. Yang paling penting adalah jangan berhenti belajar. Formal atau non formal sama di mata Allah jika niatnya karena-Nya.

Ada kecenderungan sebagian kita merasa puas dengan apa yang telah dipelajari di bangku sekolah/kuliah lalu mandek dari aktivitas membaca, menulis, mengikuti halaqah ilmu dan diskusi. Ini yang berbahaya. Karena ilmu terus berkembang, apalagi jika kita seorang guru. Sedikit saja telat mengikuti perubahan zaman, tamat sudah diri kita dihadapan siswa –guru kudet. Maka adagium lama ini akan tetap selalu relevan, "Jika anda berhenti belajar maka, di saat itu juga anda harus berhenti mengajar." Ngeri kawan.

Namun, ditengah-tengah keprihatinan kita terhadap rendahnya semangat belajar, masih bisa kita jumpai –jumlahnya tidak banyak- orang-orang di sekitar kita yang betul-betul pembelajar sejati. Saya sesekali diundang untuk mengisi pengajian ahad pagi di sebuah balai muslimin milik salah satu ormas Islam –sebagai cadangan tentunya karena pemateri utama berhalangan. Selepas kajian, beberapa jama'ah datang bersalaman. Seorang nenek datang dengan menggandeng suaminya, sudah akik-akik tentunya, yang berjalan sambil terseot-seot dengan tongkatnya, menyapa saya, "ustad ini suami saya. Kami setiap ahad ke sini loh belajar nambah-nambah ilmu agama sebagai bekal."

"Subhanallah mbah. Hebat kalau begitu." Jawabku sambil mengacungkan ibu jari.

Masih satu desa dengan saya, teman ngajar tepatnya. Beliau sudah lama pensiun dari guru agama. Di sisa usianya yang tidak muda lagi, beliau masih berkeinginan kuat mengajar di sekolah. Disamping itu, beliau masih sering mengisi pengajian-pengajian di dusun-dusun terpencil. Dalam suatu kesempatan beliau menyarankan saya untuk melajutkan study, mumpung masih muda. Gayung bersambu, istri mendukung, saya pun masih sangat termotivasi untuk lanjut sekolah. Namun, yang mengagetkan kemudian, beliau juga ingin sekolah lagi.

Finally, kami masuk di kampus dan fakultas yang sama namun, konsentrasi yang berbeda. Saat itu usia saya 27 tahun dan beliau juga berusia sama namun terbalik menjadi 72 tahun. Dan perlua anda tahu berapa jarak rumah kami dengan kampus? Ya, 50 km. Pulang-perginya menjadi 100 km. Setiap kuliah biasanya sampai sore sekitar pukul 17.00 WIB. Sampai rumah menjelang Isya dan beruntung jika tidak hujan. Dalam usia yang sudah senja, dengan segala kesenangan dunia sudah diraih, ibarat ia sudah selesai dengan dunia ini, apalagi yang dicari? Bandingkan dengan saya! Masih begitu banyak pengaruh dunia yang menggelayuti keikhlasan menuntut ilmu.

Meski tidak sekelas, namun saya banyak mendapatkan cerita tentang kakek bercucu ini. Beliau lebih banyak tertidur di ruang kelas. Kemungkinan kecapean dalam perjalanan. Itu pula yang saya saksikan dalam beberapa seminar bersama. Bahkan, saat ujian munaqasah dilangsungkan. Beliau masih tertidur sambil duduk menunggu giliran. Kebetulan kami ujian munaqasah bareng. Mendaftar, ujian dan diwisuda bersama. Tahukah kita apa yang luar biasa pada dirinya? Ya, semangatnya. Semangatnyalah yang mengantarkan beliau selesai tepat waktu di antara puluhan mahasiswa yang masih muda namun tesisnya nggak kelar-kelar. Buka itu saja, nilai IPK-nya pun mendekati sempurna 3.55. Tahukah kita bagaimana perjuangannya menyelesaikan tesisnya?

Mungkin sekelumit perjuangannya mampu menyemangati kita yang masih muda-muda ini. yang pernah berhadapan dengan Tugas Akhir (skripsi, teisi, desertasi) pasti tahu bagaimana susahnya bertemu atau membuat perjanjian dengan pembimbing. Karena mahasiswa yang butuh, maka konsekuensinya harus mengikuti jadwal waktu laung pembimbing. Iya kalau tidak di-cancel di tengah jalan atau pembimbing lupa. Atau-atau yang lain.

Saat pulang bimbingan, mungkin kesoren dan kelelahan beliau kehilangan konsentrasi. Tanpa sadar, saat ingin mendahului sebuah mobil, tiba-tiba muncul dari arah belakang sebuah motor nyalip dengan kecepatan tinggi. Braaakk. Saat siuman, beliau sudah terbaring di rumah sakit. Kaki patah, lengan robek, bagian kepala harus dijahit beberapa cintimeter. Dan, saat mendengar kabar kecelakaan ini, sempat terlintas bayang-bayang yang paling buruk. Soalnya, lawan kecelakaan atau yang nyerempet meninggal dunia.

Saat menjenguk, beliau terbaring tanpa bisa bergerak, dengan satu kaki di atas kursi, dengan refleks kupeluk tubuhnya lalu kubisikkan, "Yang sabar pak. Ini ujian Allah." Sambil saya kuat-kuatkan untuk tidak meneteskan air mata.

Beberapa bulan beliau tidak melanjutkan penelitiannya. Setelah merasa cukup sehat --dan semua urusan dengan kepolisian selesai serta pelunasan uang santunan kepada korban yang meninggal selesai-- beliau melanjutkan penelitiannya. Mencari data, menganalisis dan menuliskannya. Dan, luar biasanya selesai tepat waktu. Alhamdulillah, manusia pembelajar ini di usia yang ke 75 tetap diberikan kesehatan, masih mengajar dan mengamalkan ilmu serta tetap aktif menulis buku.

Mari kita lanjutkan melihat manusia pembelajar lainnya. Ia seorang ibu rumah tangga, memiliki dua anak laki-laki. Berstatus sebagai pegawai pemerintah di institusi kesehatan sebagai dokter gigi. Suaminya bekerja sebagai pegawai perpajakan di ibu kota negara. Karena tempat bekerja yang berjauhan, keduanya memilih hidup berpisah untuk sementara waktu. Hanya hari libur mereka mampu berkumpul bersama. Sang ibu yang mengurus kedua putranya.

Secara ekonomi, keluarga muda ini sudah lebih dari cukup. Mungkin berlebih. Rupanya sang ibu sangat perhatian dengan pendidikan anak-anaknya. Sayalah yang diminta membimbing anaknya baca-tulis al-Qur'an dan sedikit hafalan. Beliau sangat care, selalu menanyakan kabar perkembangan putranya.

 "Pak guru, klo Verilnya malas dicubit saja."

Setelah lewat beberapa bulan mengajar ngaji, keluar dari bibirnya ucapan yang cukup mengagetkan, "Pak ustad, mulai besok saya ikut belajar ngaji ya. Masih terbata-bata soalnya."

 "Oh, iya bu silahkan, dengan senang hati."

Betul saja, pertemuan selanjutnya, beliau sudah siap dengan al-Qur'annya. Kemampuan membacanya sebenarnya cukup baik seukuran seorang dokter. Sedikit pembenahan makhraj dan tajwidnya, sisanya god job. Itu pun bisa dilakakukan sendiri tanpa harus ikut bimbingan saya. Sempat iseng nanya, "Sebenarnya cara ngaji ibu sudah baik, tinggal dipoles sedikit saja."

 "Hehehe, ah belum lah pak ustad. Setidaknya buat nambah-nambah semangatnya anak saya."

Di tengah kesibukan mengurus anak dan kerjaan yang tidak sedikit tentunya, beliau masih menyiapkan waktu untuk belajar agama. Saat dunia ini sudah dalam genggaman. Begitulah kita seharusnya sebagai manusia pembelajar. Dan saya masih sangat yakin di luar sana masih banyak manusia-manusia pembelajar seperti ini. Termasuk Anda bukan? Kalau tidak, mengapa Anda masih kuat membaca tulisan ini sampai selesai. hehe