Setetes Kejujuran

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 April 2016
Setetes Kejujuran

Pernah dengar ungkapan seperti ini, "Jangankan mencari rezeki yang halal, yang haram saja susah." Sebuah Ungkapan yang sangat memprihatikan sebenarnya. Sesulit itukah mencari yang halal? Dan, selemah itukah iman kita terhadap janji-Nya? Ya, begitulah. Bangsa yang terkenal dengan religiusitasnya kekurangan manusia jujur dan berintegritas. Bagaikan mencari satu jarum dalam tumpukan jerami. Bukankah salah satu sifat wajib bagi rasul adalah jujur (siddiq)? Dan, kejujuran adalah nilai yang berlaku secara universal. Ia bagaikan emas yang dihargai mahal oleh siapa pun, dimanapun, dan oleh agama apa pun.  

Miris rasanya menyaksikan krisis moral yang melanda negeri kita. Seandainya agama membolehkan umat untuk berputus asa maka, sudah lama rasanya kita putus asa melihat kelakuan para pemimpin kita. Hampir tiap hari rasa optimisme akan sosok pemimpin yang jujur hilang dalam kamus hidup masyarakat. Setiap hari, ya, setiap hari wajah-wajah gagah berdasi digiring dengan pakaian orange sebagai tahanan KPK.

Harus diakui bersama bahwa ketidakjujuran lahir dari kita semua. Kitalah yang menciptakan dan memproduksi manusia-manusia perampok uang rakyat. Koruptor lahir dalam keluarga yang tidak jujur. Orangtua mengajari anak-anaknya ketidakjujuran sejak mereka lahir. Lalu sekolah yang harusnya menanamkan nilai kejujuran pun berkontribusi merusak nilai kejujuran dengan mempertontonkan kecurangan-kecurang mengolah nilai dan ujian. Nggak usah kita bahas kecurangan-kecurangan dalam UN setiap tahunya yang melibatkan oknum guru bahkan institusi sekolah. Sudah basi dan menjadi rahasia umum.

Meski berkurang namun, rasa optimisme saya belum habis sama sekali. Saya sangat yakin di luar sana masih banyak manusia-manusia yang jujur. Sebuah peristiwa yang saya alami terjadi secara tiba-tiba menumbuhkan semangat optimis itu.

Sore itu saya ada janji dengan seorang teman guru. Dalam rangka mengurus kelanjutan studi seorang siswa yang memilih sekolah berbasis asrama (boardingschool). Karena kesibukan masing-masing, sempat tertunda beberapa minggu. Akhirnya, disepakati senin siang jam 13 sepulang sekolah. Karena saya yang butuh informasi dan beliau dengan suka rela ingin mengantarkan maka saya kemudian yang mendatangi tempatnya mengajar. Dengan berboncengan akhirnya kami menuju sekolah yang dimaksud.

Sesampai di lokasi kami kemudian terlibat perbincangan dengan guru pengajar dan pengasuh asrama. Setelah cukup puas saling bertukar informasi, dan waktu shalat asar sudah tiba akhirnya kami pamit sekaligus shalat Asar di mushalla sekolah. Jam menunjukkan pukul 16.00 sore, dan saya tahu jika teman saya ini rumahnya cukup jauh dari sekolah. Namun, sebelum pulang kami sepakat mampir sebentar ke rumah komite sekolah sekaligus menyambung silaturrahmi, seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani. Beliau menyambut kami dengan ramah plus hidangan ringan di teras rumah yang sejuk dan rindang. Hampir 30 menit terjadi obrolan santai dan tukar pengalaman.

Berhubung sudah cukup sore akhirnya kami pamit. Suasana sore sangat mendung. Betul, setelah menempuh 5 km perjalanan, butir-butir air hujan turun tanpa bisa dibendung. Bresss. Terpaksa tetesan air hujan mengantarkan kami untuk berteduh di sebuah bengkel yang berdampingan dengan angkringan. Sambil menunggu hujan reda –karena mantel (jas hujan) yang terbatas-, ngopi-ngopi menjadi pilihan yang menarik. Setelah secangkir kopi dan beberapa potong gorengan sudah berpindah tempat ke perut kami sementara hujan belum mau berkompromi. Mau tidak mau kami harus pulang. “Berani?” “Berani”, “Ayo!”

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 Kami harus melanjutkan perjalan dengan hujan yang masih deras dan dengan mantel seadanya. Setelah proses pembayaran selesai, motor mulai bergerak perlahan menjauh.

 "Makan berapa pak?"

 "Saya lima potong pak."

"Wah, saya kok ragu ya, antara 4 atau 3."

 "Coba diinget lagi pak. Kalau saya yakin 5."

 "Wah saya ragu. Kita balik yok, mending lebih daripada kurang." sambil memutar motor yang sudah meninggalkan lokasi sekitar 500 meter.

 "Jalok ngapuro yok mbak, kirang artose" kata teman saya meminta maaf dan memberikan uang seribu kekurangannya.

 "Oh, njihh sami-sami. Matur nuwun mas." Jawab si ibu penjual dengan ekspresi bahagia.

 Bukan uangnya yang membuatnya bahagia, tetapi harga dari sebuah kejujuran. Ternyata Masih ada kejujuran di tengah-tengah masyarakat bangsa yang sangat toleran dengan KKN.

Di tengah derasnya air hujan membasahi tubuh kami, tetes air hujan yang mulai menembus kain dan mengaliri kulit-kulit dengan sentuhan dinginnya, di antara desingan kendaraan yang kejar-kejaran dengan waktu, keluar seuntai doa, "Ya Allah masih ada harapan. Munculkanlah pemimpin-pemimpin yang jujur di negeri ini. Amin."

Dari seorang bapak yang jujur akan lahir anak-anak yang jujur. Dari seorang guru yang jujur akan lahir murid-murid yang jujur. Semoga.

  • view 98