Tidak ada Kesuksesan sebelum Kepayahan

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 April 2016
Tidak ada Kesuksesan sebelum Kepayahan

Mau kaya raya? Jadi manusia berpengaruh? Penulis hebat? Jadi kekasih Tuhan? Tapi, prilakumu, cara kerjamu dan usahamu seperti orang kebayakan atau rata-rata maka, sebaiknya Anda ambil bantal, tarik selimut lalu tidurlah! Kemungkinan besar Anda kurang sehat. Rumusnya jelas, TIDAK ADA manusia hebat yang bekerja rata-rata orang kebanyakan. Mereka adalah manusia-manusia di atas rata-rata. Artinya adalah berlelah-lelah.

Sekedar perumpamaan, Orang rata-rata tidur jam 22.00 maka, manusia sukses harus di atasnya. Bangun rata-rata jam 4.30, manusia sukses harus lebih awal. Saat orang kebanyakan bekerja 9-11 jam maka, manusia sukses harus di atasnya. Rumusnya memang begitu.

"Pernah lihat seorang yang berusia 50 tahun dan bekerja dibayar murah?" Tanya Mario Teguh kepada audiensnya di acara Super Show. Tanpa mau menunggu respon dari pendengarnya yang antusias ia melanjutkan, "Karena ia hidup SALAH selama 50 tahun." Tidak sedikit kita jumpai seseorang di usia yang tidak lagi mudah masih dipaksa bekerja keras untuk mencari rezeki. Bukankah di usia 50-an, seharusnya kita sudah menikmati hasil kerja keras kita selama ini? Menikmati hidup bersama anak-cucu tanpa harus memusingkan urusan materi lagi. Ibarat hidup kita sudah selesai dengan dunia ini. Mempersiapkan kehidupan selanjutnya dengan mengeyangkan spiritual mendekat kepada Tuhan. Jangan-jangan hidup kita salah selama ini?

Ada satu pepatah Arab yang diajarkan kepada saya 16 tahun yang silam di kelas delapan, dulu kelas 1 SMP. Wa ma al-lladzdzatu illa ba'da ta'abi (Tidak akan ada kelezatan sebelum kepayahan). Sebuah mahfudzat yang masih sangat membekas sampai usia saya saat ini. Ini seperti sebuah rumus kehidupan yang pasti bahkan mengalahkan kepastian matematika.

Hanya dunia dongen yang mengajarkan sesuatu terwujud hanya dengan mengacungkan tongkat bim salabim lalu terwujud sesuai keinginan, atau kehidupan di surga yang kenikmatannya tanpa perlu kerja keras. Apa yang terlintas dalam hati akan segera terwujud.

Jika kita mau jujur dan melacak kembali kehidupan manusia-manusia hebat yang pernah di lahirkan ke muka bumi ini maka, kita akan bertemu dengan kisah hidup yang penuh dengan cerita sangat mengagumkan. Butuh berjilid-jilid buku untuk mengukir kisah mereka. Yang pasti mereka telah membuktikan itu. Mereka telah melalui jalan kepayahan itu.

Jika hari ini anda belum bercapek-capek dan bersusah payah maka jangan pernah berharap kenikmatan itu akan datang menyapamu. Bahkan seandainya pun anda terlahir dari orangtua yang sukses yang kekayaannya tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Anda akan tetap dipaksa untuk merasakan kepayahan. Cuman ada dua pilihan. Mau bersusah payah sekarang atau nanti. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kalau tidak maka sebaliknya, bersenang-senang dahulu sakitnya kemudian. Yang paling tidak beruntung adalah yang tidak kedua-duanya.

Berita baiknya adalah kenikmatan dari kesuksesan itu menjadi hak kita semua. Semua kita berhak hidup sukses. Siapa pun kita, dari keluaraga apa pun dan dari profesi apa pun. Yang paling penting adalah tempuh jalan kepayahan itu. Siapa yang kuat dia dapat. Nothing is impossible.

Tetapi, perlu digaris bawahi, berpayah-payah saja belum cukup. Tidak sedikit yang sudah bekerja keras sejak lama namun masih tetap sengsara. Kerja keras harus dibarengi dengan kerja cerdas. Selamat mencoba. Sekali lagi, wa ma al-lladzdzatu illa ba'da at-ta'ab!

 

 

 

  • view 106