Para Pencari Tuhan

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 25 April 2016
Para Pencari Tuhan

Siapa yang tidak sedih menyaksikan orang yang sangat dicintainya meninggal dunia. Bukan hanya karena berpisah sementara di dunia ini saja namun, ia akan berpisah untuk selama-lamanya. Ya, di dunia pun di akhirat kelak. Abu Thalib adalah seorang paman yang sangat mencintai keponakannya dan ia mati-matian membela perjuangan Nabi Muhammad saw meskipun beliau tidak mengikuti ajakan Rasulullah saw. Menjelang ajal Rasulullah masih berusaha mengajak pamannya, “Wahai paman, ucapkanlah la ilaha illallah, satu kalimat yang dapat engkau jadikan hujjah di sisi Allah,” Sabda beliau. Rasulullah manangis dan bersedih menyaksikan pamannya memilih ajakan Abu Jahal tetap dalam kemusyrikan. Sampai kemudian Allah menegur beliau yang akan memintakan ampun kepada Allah.

 “Tiadalah sepatutnnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.” (At-Taubah : 113).

Allah juga menurunkan ayat,

Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Al-Qashash : 56)

Betul-betul manusia tiada daya dan upaya. Jangankan kita yang tidak pantas-pantasnya di hadapan Allah, nabi Adam as tidak mampu mendidik anak-anaknya dari sifat kedengkian. Nabi Ibrahim as kekasih Allah tidak mampu membawa ayahnya ke jalan kebenaran. Nabi Luth yang tidak mampu memberikan hidayah kepada Istrinya. Begitu pula sebaliknya, Fir’aun tidak mampu mengkafirkan istrinya. Biyadihi al-mulk, ditangan-Nya lah segala kekuasaan. Allah memiliki sifat –kata orang Jakarta, “semau gue.”

Tugas manusia hanyalah menyampaikan dengan ahsan sisanya adalah urusan Allah. Bukan berarti manusia tidak memiliki peran dalam mendapatkan hidayah. Ada langkah-langkah yang harus ditempuh seseorang pencari Tuhan. Banyak yang berhasil menemukan Tuhannya dengan sangat indah namun, tidak sedikit yang tersesat. Nama-nama seperti Derry Sulaiman –pemilik nama asli Deri Guswan Pramona, adalah mantan mantan gitaris band metal Betrayer. Ia hengkang dari Jakarta ke Bali karena ingin lebih “gila”, ingin hidup bebas jauh dari aturan dan Bali lebih menjanjikan kebebasan itu. namun, ia menemukan Allah di sana.

Ada Sunu eks. Matta Band, yang menemukan kedamaian setelah mempelajari Islam. Sakti gitaris Saila on7, menemukan Allah saat Matanya tertumbuk pada sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”. Hatinya gelisah, bermunculan bayang-bayang ketakutan akan kematian. Belum lama, Lukman drummer Noah, juga kembali kerangkulan Tuhan. Sebelumnya ada Berry Monach, vokalis Saint Loco grub band beraliran rock menemukan Islam setelah saat mempelajari Islam untuk mencari kelemahannya. Subhanallah. Dan masih banyak nama lainnya dari kalangan selebritis. Mereka berhasil menemukan Tuhan dengan sangat indah. Begitulah kehidupan selalu penuh kejutan.

Namun, ada juga yang tersesat. Masih ingat dengan artis cantik muda dan berbakat. Beberapa kali muncul di TV nasional dalam acara talk show pengalaman berjilbab (Jilbab Story). Pernah menjadi ikon iklan busana muslimah, main dalam film islami layar lebar dan menjadi motivator hijrah dengan jilbab. Entah apa yang terjadi dengan kehidupannya, ia berubah 180 derajat dari kehidupan sebelumnya. Semua caci maki dan bully ia tepis dan acuhkan, tetap tanpa bergeming melepas jilbab dan busana muslimahnya, kembali ke titik nol. Seksi.

Begitu banyak kisah para pencari Tuhan, dan terkadang selalu sangat menggagetkan pikiran kita semua. Ada baiknya, tulisan ini akan saya tutup dengan kisah yang saya saksikan sendiri. Seorang jama'ah pernah sms saya, "Ustad saya mau ikut shalat jama'ah di masjid yang ustad imami." "Kenapa?" Jawab saya.

"Saya nggak nyaman di masjid kampung, shalatnya kecepatan dan bacaannya kurang tartil." "Silahkan pak, dengan seneng hati."

Terbayang siapa bapak ini sebelumnya. Seorang mantan preman, malang melintang di dunia kriminal. Dengan tubuh bertato, mulai yang sangar sampai yang seksi ada. Gagal dengan istri pertama kemudian menikah lagi. Tak pernah terbayangkan ia menemukan Tuhannya. Betul. Keesokan harinya ia datang untuk shalat Maghrib, Isya dan Subuh berjama’ah. Terkadang ia datang sebelum kumandang adzan subuh, sesekali ia yang mengumandangkannya. Shalat sunah Fajar dan berdzikir mananti jama'ah berdatangan. Subhanallah.

Sementara siang hari –sepanjang pengetahuan saya- ia berjualan keliling sayur mayur, buah dan macam-macam lauk pauk (ngeyek). Malam harinya, dimulai sebelum Maghrib ia bersama istrinya berjualan angkringan.

Sebuah liku kehidupan yang akan berakhir indah bukan. Selama ruh belum berpisah dengan raga, pintu taubat Allah masih terbuka lebar-lebar. Mari kita jauhkan diri dari menghakimi manusia lain hanya karena mereka belum seagama dengan kita. Kita doakan dan biarkan Allah yang akan menentukan.  Semoga.

  • view 120