Menciptakan Pemantik lalu, Melejitlah Bersama Tuhan!

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 April 2016
Menciptakan Pemantik lalu, Melejitlah Bersama Tuhan!

Pernah ketemu meme Superman lagi tidur berbantal. Superman saja butuh istirahat apalagi Suparman. Begitulah kira-kira pesannya. Selama kita masih manusia biasa rasa capek, lelah, letih, jenuh, malas dan rasa-rasa yang lainnya yang menghambat produktivitas pasti pernah kita alami. Itu fitrah atau sunatullah yang menjadi satu paket yang ada dalam diri manusia.

Seperti sindiran Allah dalan Al-Qur'an surah al-Ma’arij.  

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. al-Ma’arij: 19-210)

Yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya adalah cara menyikapinya. Ada yang saat lelah menyergap dibiarkan rasa itu membelainya dan berlama-lama dengan kemalasannya. Namun, ada juga yang mencoba melawan rasa malas itu dengan menciptakan pemantik. Apa pemantik itu? Pembakar semangat. Ya, pemantik buatan yang akan melecut untuk bangkit lagi dan bekerja lagi. Apa pemantik kita? Setiap kita bisa menciptakannya sendiri. Bisa dari hinaan orang lain, cita-cita besar ataukah keinginan membahagiakan orang-orang tercinta.

Saat saya masih duduk di Sekolah Dasar, masih terngiang-ngiang di telingan bagaimana ayah saya dihina karena kemiskinannya. Dasar anak miskin. Ini kemudian menjadi pemantik bahwa saya harus sekolah ke jenjang selanjutnya. Akan kubuktikan kepada mereka jika anak dari orang miskin ini bisa sukses. Maka, setamat SD tidak ada pilihan, harus meneruskan ke jenjang selanjutnya. –meskipun di desa saya saat itu tradisi melanjutkan sekolah masih jarang. Kerja atau menikah.

Saat saya berada pada titik nol dalam pelajaran bahasa Inggris –bahkan melihat buku paketnya saja bisa memualkan perut dan memusingkan kepala- maka, nasihat guru saya kemudian menjadi pemantik. "Jika kalian menguasai bahasa Inggris maka kamu akan menjadi bagian dari penduduk dunia ini. Bukan itu saja, kalian berpeluang memburu beasiswa ke luar negeri. Bayangkan kalian akan kuliah bersama mahasiswa dari berbagai negara!" Hem, pemantik yang menggetarkan. Maka, belajar, membeli buku, melatih ngomong, menghafalkan percakapan menjadi aktivitas yang menggairahkan.

Saat lelah dan kebosanan menjelar di seluruh tubuh, saya pejamkan mata ini lalu saya biarkan pikiran bebas berimajinasi membayangkan sedang duduk mengikuti kulian di Harvard University. Seperti terkena strum dan mampu membuka kelopak mata yang mulai layu. "Are you oke?"

Saat ini ketika sudah memiliki istri dan anak-anak, pemantik terbesar saya adalah kemampuan ekonomi. Mereka harus hidup yang layak, memiliki rumah dan kendaraan yang pantas. Ya, membahagiakan orang-orang tercinta. Maka, saat rasa malas menghadang, saya membayangkan wajah-wajah cantik penuh senyum sedang menuju ke tempat rekreasi keluarga di dalam kendaraan yang sejuk, nyaman dan anti mentul, sangat nyaman. Hem, seperti kestrum kawan. Berkerja penuh gairah dan semangat, tidak ada waktu bersantai apalagi membuang-buang waktu. Berharap segera terwujud. Berkejaran dengan waktu.

Pemantik juga bisa dengan menyaksikan kesuksesan orang lain. Bergabunglah dengan orang-orang hebat maka kamu akan dipaksa menjadi hebat. Yang ingin jadi penulis maka tidak cukup latihan menulis saja. Harus dipercepat dengan bergabung dalam komunitas penulis yang setiap hari mereka memamerkan karya yang akan segera terbit. Seperti dilecut rasanya. Betapa banyak orang yang dulunya membiasa kemudian menghebat karena berada dalam lingkungan yang hebat. Dan tidak sedikit yang hidupnya melambat dan hanya berharap pada keberuntungan karena ia berada dalam lingkungan yang pesimistis.

Jika hidup kita biasa-biasa saja hari ini. Antara hidup dan mati. Tidak kaya juga tidak miskin. Tidak bodoh tapi juga tidak pintar. Mau usaha takut resiko. Mau nikah belum siap. Serba nanggung. Rasa-rasanya kita perlu dicambuk dengan hinaan atau caci maki orang lain. Betapa nggak enaknya menjadi orang yang tidak dianggap, diperhitungkan dan dipandang sebelah mata. Bukankah Tuhan sudah mengirimkan "para pelecut" itu? Kita mungkin yang tidak peka atau menyikapinya salah. Kita marah saat dikatakan miskin, mengapa? Bukankah bagi orang kaya nggak perlu pengakuan itu, yang penting adalah bukti. Simpan penghinaan itu sebagai energi, dan buktikan saja. Bukti itu lebih menjawab daripada seribu kata. Inilah pemantik. Meminjam istilah Tung Desem membunuh malas.

Namun, yang paling penting dan perlu dicamkan baik-baik bahwa pemantik yang dahsyat dan kuat daya dorongnya hanya akan tercipta jika disandarkan kepada sang Maha Perkasa. Jadi, ayo menciptakan pemantik! Lalu melejit bersama Tuhan!

  • view 111