Man Proposes but God Disposes

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 19 April 2016
Man Proposes but God Disposes

Masih ingat pepatah bahasa Inggris ini, Man Proposes but God Disposes (Manusia Berencana, Tuhan Menentukan)? Tulisan ini pernah nempel lama di kamar asrama putra waktu mondok dulu. Manusia punya rencana, ambisi, visi, misi, dan strategi namun semunya harus takluk di bawah kehendak Tuhan. Innallaha ala kulli syain qadiir. Bahkan Allah menjawab makar orang kafir, “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (Q.S. Ali Imran : 54)

Dalam Islam, semua rencana harus disandarkan dengan kata Insya Allah, jika Allah menghendaki. Ini merupakan komitment keimanan kita. Dalam kasus ini, Nabi pernah ditegur Allah hanya karena tidak mengucapkan insya Allah saat ditanya tiga pertayaan oleh an-Nadhr ibn Harist dan Uqbah bib Abi Mu’aith utusan kafir Quraisy. Dengan sangat yakin beliau menjawab, “Besok.” Numun, wahyu yang ditunggu-tunggu tidak juga turun. Sampai 15 hari kemudian Jibril turun membawa firman-Nya yang bukan jawaban yang ditunggu selama ini. namun, teguran langsung Allah.

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini." (QS. al-Kahfi : 23-24)

Berapa banyak kejadian dalam hidup kita yang tidak berjalan sesuai rencana namun, kita salah menyikapinya. Keluarlah kata-kata, “seandainya,” “hari yang sial,” “payah,” “lagi tidak beruntung.” Padahal Allahlah yang menghendaki semuanya terjadi. Tidakkah itu termasuk menyalahkan Tuhan?

Dari sekian banyak cerita, saya akan menceritakan satu pengalaman yang benar-benar mengantarkan saya untuk mengatakan, "Hanya Allahlah yang maha berkendak dan berencana. Semua rencana manusia berada dalam genggamanmya. Iya atau tidak. Batal atau deal."

Menjelang Ujian Nasional ada sekolah yang meminta saya untuk mengisi motivasi dan doa bersama. Karena jam terbang masih belum banyak maka, saya harus mempersiapkannya lebih baik dan lebih matang. Jangan sampai mengecewakan, bisa-bisa belum jadi motivator terus pensiun dini. Persiapan dimulai dari belajar dari para motivator senior. Kemudian yang paling penting adalah menyiapkan materi semenarik mungkin dalam bentuk power point –kalau bisa mengagumkan. Dua hari dua malam komputer saya otak atik, gambar indah dan bergerak, sound pengiring, vidio saling mengisi setiap slide presentasi.

Saat hari H tiba, dengan sedikit poles, presentasi siap dieksekusi. Pokoknya sempurna dan harus mampu menggetarkan audiens. Hem, dengan berbaju kemeja merah hati berbalutkan jas hitam membuat penampilan semakin menyakinkan. Dengan menenteng tas berisi peralatan presentasi saya melangkah dengan mantap ke ruang kepala sekolah. Dengan sedikit promosi karya tulis yang belum seberapa, terjalin obrolan hangat berkaitan sekolah dan ujian nasional.

"Oh, ya bisa kita mulai? Peserta -siswa dan wali murid- sudah siap menunggu di tempat."

"Oke pak." Jawabku sambil mulai menghidupkan laptop. Sambil menunggu loading, terdengar suara Peet. Lapu mati.

"Wah, mati lampu ya pak?" Tanyaku kemudian.

"Iya nih. Tapi, kita ke ruangan saja dulu, sambil menyiapkan peralatan."

Akhirnya, kami ke ruangan lantai 2 dari masjid sekolah. Kebetulan speaker yang disediakan menggunakan model charger-an. waktu semakin berjalan, 30 menit sudah melewati jadwal undangan. Peserta sudah hadir semuanya, mau tidak mau acara harus dimulai. Sambutan dari kepala sekolah sudah hampir selesai sementara listrik masih belum menunjukkan keberpihakannya. Acara inti dimulai, dan saya harus memulai acara tanpa memprediksikan kemungkinan mati lampu. Betul-betul di luar prediksi. Dengan menggunakan sisa baterai laptop dan speaker acara dimulai.

"Maaf bapak ibu semua, guru zaman sekarang itu ilmunya di laptop dan internet. Kalau laptopnya mati terus tidak bisa internet ilmunya juga mati. Saya mohon maaf jika nanti laptop mati acaranya berhenti. Setuju?"

Geeerrrrr...

Akhirnya dengan persiapan seadanya acara berakhir dalam waktu satu jam setengah. Sebagian materi gambar dan film tidak bisa ditayangkan. Namun, Alhamdulillahnya, baterai laptop mampu bertahan –biasanya nggak sampai 1 jam sudah mewek minta dicharger- sampai sesi doa dan renungan. Doa berjalan khusuk, sebagian peserta meneteskan air mata. Ini juga diluar prediksi.

Setelah kegiatan selesai, saya harus pamit dan dijamu di kantor kepala sekolah terlebih dahulu. Baru saja saya mendudukkan diri di kursi, byarrr, lampu menyala. Subhanallah, semuanya dalam genggaman kehendak-Mu. Ya, Allah saya belajar hari ini untuk selalu menyiapkan alternatif pilihan dan menyesuaikan rencana diri dengan rencana-Mu. Rencana-Mu lah yang berlaku dan yang itu yang terbaik. Insya Allah, jika Allah menghendaki.

 

  • view 422