Jangan Membandingkan!

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 April 2016
Jangan Membandingkan!

Pesan orangtua dulu kepada anak-anaknya sungguh seperti ukiran di atas batu. Membekas dan akan teringat terus di hati anak-anaknya. Saat mendengarkan atau membaca biografi orang-orang hebat selalu saja mereka mengutip nasiha-nasihat dari orangtua mereka. Zaman dulu, saat saya dan anak-anak lainnya asik main bola sampai menjelang azan Maghrib, ibu hanya berdiri di ujung lapangan sambil menggerak-gerakkan tangannya memberi arahan untuk mendekat, itu sudah mampu menggetarkan hati dan lutut kami. Sambil berjalan perlahan dengan menundukkan kepala, kami berdiri tegap tanpa bergeming dihadapan ibu kami. “Kalau kalian sama Allah saja berani tidak mengindahkan panggilannya, apalagi sama orangtuamu ini. PULANG!” suara ibu menggelegar dan membuat kami lari terbirit-birit mandi dan ke Musahala.

Begitu hebat orangtua zaman dulu. Rasa-rasanya kita krisis orangtua berkarakter hari ini. lahirlah anak-anak tanpa karakter yang jelas. Perintah, larangan dan nasihat berhamburan tanpa bisa dibendung keluar dari bibir orangtua. Sanga anak yang menjadi objek malah tidak bergeming. Diam saja namun tidak juga melakukan apa yang perintahkan. Bahkan ada yang cuek dan memuntahkannya kembali. Ya, begitulah.  

Masih ingat pesan dan ajaran orangtua kita dulu bahwa jangan sekali-kali membanding-bandingkan hidupmu dengan orang lain. Karena itu tidak akan pernah membahagiakanmu. Itu pun tidak baik. Inilah yang menjadi penyakit masyarakat kita sehingga perlombaan memperkaya diri dengan menghalalkan berbagai cara dilakukan. Maraknya kasus korupsi tidak pernah jauh dari perlombaan ini akibat kegemaran membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Ada adagium lama mengatakan bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Tidak selamanya hidup dalam rumah tangga berjalan mulus semulus jalan tol. Apa jadinya saat terjadi ketidakharmonisan? Akhirnya, yang muncul sikap membanding-bandingkan antara istri sendiri dengan istri orang lain. Segala kekurangan istri atau suami ditutupi dengan kelebihan istri atau suami orang. Tentunya bukan solusi yang muncul, yang pasti ada hati yang tersakiti dan pertengkaran semakin meruncing.

Sialnya, sikap membandingkan menjangkiti orangtua yang suka membandingkan anak-anak kita di rumah. Antara adik dengan kakaknya atau antara anak kita dengan anak tetangga. Yakin, bukan kebaikan yang akan muncul. Kecemburuan dan pemberontakan karena pada dasarnya tidak ada manusia yang mau dibanding-bandingkan. Anda juga bukan? Karena kita semua unik dan merasa lebih nyaman menjadi diri sendiri (self).

Syukuri semuanya, karena setiap kelebihan yang dititipkan pada seseorang, Allah berikan kekurangan. Begitupula, setiap kekurangan Allah lebihkan pada sisi yang lain. Mahfudzat mengatakan, "La tahtakir man dunaka, falikulli syain maziyah." Jangan memandang rendah orang yang di bawahmu karena setiap orang itu ada kelebihannya. Memandang rendah atau sebelah mata saja sudah menunjukkan kesombongan. Dan, Manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin bisa hidup tanpa orang lain lalu mengapa masih ada orang yang memandang remeh profesi yang "dianggap" rendah?

Rasulullah mengajarkan kita cara bagaimana merasakan hidup penuh kesyukuran, dalam sebuah hadis kita diperintahkan untuk melihat ke bawah dalam urusan dunia dan melihat ke atas dalam urusan akhirat. Bagi yang memiliki kendaraan roda empat bersyukur, masih banyak yang hanya beroda dua kemana-mana. Begitu seterus sehingga yang muncul hanya rasa syukur dan menghargai semua pemberian-Nya. Bukankah hati yang penuh dan merasa cukup adalah juga sebuah nikmat. Namun, dalam urusan akhirat lihatnya ke atas. Hingga yang muncul adalah rasa belum berbuat banyak dan masih sangat kurang kebaikannya. Membanding-bandingkan hanya akan bermuara pada ketidakbahagiaan. Selamat menikmati hidup tanpa harus tersiksa dengan hidup orang lain.

                                             

  • view 213