Masih Berani Ketemu Orang Lain?

Masih Berani Ketemu Orang Lain?

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 08 April 2016
Masih Berani Ketemu Orang Lain?

Ada satu kalimat yang sering diucapkan oleh Aa Gym sebelum mengawali setiap ceramahnya, "Mengapa kita masih berani tampil di depan orang atau bertemu dengan orang lain? Karena Allah masih menutupi aib-aib kita. Sekiaranya Allah membuka itu semua, masihkah kita berani?" Saya sangsi. Orang yang memiliki aib tentunya akan ditutupi semaksimal mungkin.

Coba kita bayangkan dan rasakan bersama jika kita berada di posisi Arifinto, Anggota DPR dari partai dakwah saat membuka gambar porno di gadgednya ketika sidang berlangsung. Wajahnya disorot kamera disaksikan jutaan mata yang memandang. Betapa malunya bukan? Bukan hanya dirinya, istri, anak-anak, dan keluarga besarnya. Dalam skala yang lebih besar, institusi partai, Lembaga DPR, dan bangsa kita ikut malu. Padahal yang diizinkan Allah untuk diketahui khayalak ramai baru satu. Ngelihat gambar porno. Padahal dosa ini siapa yang belum melakukannya? Saya setuju dengan tantangan Saykoji, ?kalau berani buka foldernya satu-satu? ?judul lagu online. Anda berani? Dan bukan rahasia lagi jika negara kita tingkat akses pornografinya sangat tinggi.

Allah masih menutupi aib dan dosa kita, dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Manusia memang tempatnya salah dan dosa. Maka, kembali ke jalan yang benar adalah kemuliaannya. Salah sekali, dua, sampai tiga kali masih wajar namun, jika tidak ada iktikad baik biasanya aib itu akan terbuka dengan sendirinya. Ketika aib itu terbuka maka, semua yang selama ini ditutup-tutupi akan terungkap.

Seorang pejabat yang mulia, yang dulu diagung-agungkan dan dihormati satu saja aibnya terungkap ke publik, korupsi, langsung semuanya kebuka. Oh, ternyata sang jenderal istrinya banyak, punya simpanan sana-sini, rumahnya dimana-mana.

Begitula, aib hanya akan membawa malu bagi pengidapnya. Dan siksaan permulaan penduduk neraka adalah menyaksikan film dirinya tanpa sensor diputar di hadapan semua manusia. Oh, ternyata. Wah, payah, selama ini kita dikibulin. Katanya dulu dia seorang Ustad? Oo, sedekahnya untuk kampanye to. Dan nada-nada miring lain menyertai pemutaran film tanpa sensor ini. Nauzubillah.

Oleh karena itu, dalam hadis yang populer dikatakan bahwa orang yang menutupi aib saudaranya sendiri maka, Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Bukan hanya mengumbar aib orang tetapi, larangan itu meliputi memata-matai, kepo, mencurigai, dan mencari-cari kesalahan, bahkan terhadap aib jenazah sekalipun. Tentunya berbeda halnya dengan kasus di pengadilan yang memang harus buka-bukaan untuk keadilan dan transparansi.

Seandainya dosa itu berbentuk dan dapat dilihat seperti kudis di wajah maka, bisa dibayangkan betapa rusaknya wajah ini. Tidak ada lagi wajah halus, cantik penuh pesona yang ada hanyalah wajah-wajah bopengan nan menjijikkan. Masihkah berani ketemu manusia lain. Apalagi kampaye, "Pilih saya! Pilih saya!" Alhamdulillah, Allah memiliki sifat maha menunda. Semua ditunda balasannya. Namun, perlu di sadari bahwa meskipun dosa tidak terlihat, ia bisa dirasakan hadirnya. Kegelisahan hidup, kesempitan dan kegalauan hati, hidup yang tidak tenang, tidak merasa cukup, selalu kuatir, merasa sendiri di tengah keramaian dan lain sebagainya itu bisa jadi dosa-dosa kita yang menumpuk.

Sebenarnya dosa itu apa? Para sahabat pernah menanyakan kepada Rasulullah, tentang dosa (al-itsmu). Jawaban nabi sangat singkat namun, memiliki makna yang sangat luas. Al-itsmu ma haka fi shadrika wakarihta an-yaththali'a 'alaihi-nas. Dosa ialah sesuatu yang tersirat dalam hatimu namun kamu tidak suka jika orang lain mengetahui (HR. Muslim). Awal sebuah dosa adalah lintasan dalam hati dan pikiran. Betapa mudah kita melakukan dosa. Siapa yang bisa menjaga lintasan hati dari sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, di dalam ibadah ada obat perontok dosa, dimulai dari wudhu, shalat dan dzikir. Nabi mengibaratkan shalat itu seperti mandi di sungai 5 kali sehari, masihkah ada yang tersisa? Belum lagi, bacaan kalimat istighfar yang saban hari Rasul tidak pernah kurang dari 100 kali.

Masihkan kita berani bertemu orang lain? Iya. Selama nikmat ini belum dicabut. Mungkin ada baiknya sebelum berbuat maksiat, sejenak kita pikir dan rasakan bagaimana sekiranya dosa ini diketahui orang lain. Malu? Jangan lakukan!?

  • view 341