Saat Manusia Mengalahkan Tuhan

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 31 Maret 2016
Saat Manusia Mengalahkan Tuhan

Seorang artis berbakat yang kemudian menjadi politisi Senayan, di sebuah pertunjukan seni teater menampilkan tarian sensual dengan hanya berbusana pantai di panggung disaksikan ribuan pasang mata. Kebetulan ia baru saja melangsungkan pernikahan. Saat ditanya tentang penampilannya, dengan santai ia menjawab, "Inikan peran saja, tidak dalam kehidupan pribadi."

"Lalu, bagaimana sikap suami?"

"Suami saya mengerti kok profesi saya. Dan mendukung pekerjaan saya ini."

?

Begitulah kira-kira pola pikir sebagian artis kita, selama itu berkaitan dengan pekerjaan dan profesinya maka, jalani.

?

Sudah menjadi rahasia umum, kalau bangsa kita sangat demen buat film horor. Coba saja googling daftar judul film honor kita. Buaayak bukan? Kasihan pocongnya, dijadikan korban eksploitasi. Sependek pengetahuan saya, ada dua faktor mengapa film horor masih sering diproduksi dan laris. Pertama, biaya pembuatan filmnya murah. Hanya butuh beberapa pemain dan talent saja, sisanya permainan kamera dan musik.

?

Kedua, masyarakat kita masih sangat gemar dengan film yang berbau mistik. Kepercayaan dinamisme dan animisme tidak serta merta hilang dengan datang modernitas. Dan, sebagai bumbu dan pemanisnya adalah wanita-wanita centil nan seksi. Itu pasti ada, seperti menu wajib.

?

Begitu pula genre film komedi, dengan judul yang nyerempet-nyerempet seksual, dipastikan bertaburan artis seksi sekaligus adegang-adegang mesum. Saat sang artis ditanyai tentang adegang mesum, dengan santai mereka menjawab, "Itu kan dilakukan secara profesional." begitu pula mereka yang berpose sensual secara suka rela di majalah dewasa juga melakukannya atas nama profesionalisme. Tergantung bayarannya.

?

Katanya, seorang artis yang profesional harus bisa memerankan semua lakon yang ada dalam alur cerita film tersebut. Jika sutradara menginstruksikan, "ciuman! Pelukan! Buka baju! Beradegang seks!" Maka, sang artis harus sami'na wa atha'na. Kalau tidak "taat" selesai. Sang artis tidak akan dipakai lagi dan pundi-pundi uang akan hilang. Begitu pula sebaliknya, paran protagonis harus dilaksanakan sebaik-baiknya, dihayati bahkan kalau bisa menjadi karakter sesuai tokoh aslinya. Artis seksi yang hobi mengumbar aurat disulap menjadi wanita yang sangat sholihah dan menjaga auratnya. Menjadi istri yang berbakti kepada suaminya, sabar dalam menghadapi ujian, pokoknya manjadi muslimah perfect atau sempurna.

?

Semunya sangat tergantung dari instruksi sang sutradara. Lakukan ini! Lakukan. Tinggalkan ini! Tinggalkan. Titik. Tidak peduli ini melanggar norma agama atau tidak.

?

Pertayaannya adalah, bukankah Allah lebih pantas untuk diikuti dan ditaati tanpa alasan apa pun. Kami dengar dan kami taati. Saat Allah mewajibkan menutup aurat maka tutuplah. Dalam kondisi apa pun itu. Dan, saat manusia ingin agar kita membukanya maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada-Nya. Begitulah seharusnya sikap muslim. Bukan kah rezeki, umur dan hidup kita adalah milik-Nya? Lalu, mengapa kita begitu taat pada manusia mengalahkan ketaatan kita kepada Allah?

?

Bukankah Allah memerintahkan kita untuk menjadi manusia yang baik dan taat kepadan-Nya. Dari ketaatan itu akan ada kebahagiaan, ketenangan batin dan kelapangan rezeki. Tentunya Tuhan tidak pernah mengingkari janji.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita juga melakukan hal yang sama. Kita sangat takut mengecewakan atasan atau bos kita. Datang tepat waktu, melayani dengan prima, mencari perhatiannya karena kita takut dipecat dan ingin diangkat kedudukannya dan ditambah pendapatannya. Mengerjakan syarat-syarat administrasi begitu teliti dan penuh konsentrasi namun, tidak untuk hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan. Sholat sesempatnya, jama'ah sebisanya, sedekah secukupnya, haji semampunya. Giliran meminta dan berdoa, harus sesegera mungkin. Ya, kita memang begitu.

?

Seperti sindiran Allah dalam al-Qur?an layak kita renungkan, ?...dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti... (QS. al Ahzab: 37).