Syukur itu Soal Rasa

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 27 Maret 2016
Syukur itu Soal Rasa

Kapan kita merasakan sehat itu penting? Saat sakit bukan. Semua kenikmatan itu baru terasa saat ia tiada. Ayah bunda kita yang selalu mencereweti kita dan kita kesal dengan itu, baru terasa indahnya saat ia tiada. Kita merindukan kembali kata demi kata keluar dari lisan orangtua kita namun, itu baru kita rasakan saat meraka pergi tidak akan kembali lagi. Mungkin itulah salah satu hikmah mengapa ada konsep iddah bagi istri yang dicerai. Agar merasakan kehilangan seseorang yang pernah mengisi hidup kita.

Sesuatu yang luar biasa akan menjadi biasa dan terbiasa saat dinikmati terus menerus tanpa ada konsekuensi. Matahari dengan cahayanya bukankah sesuatu yang luar biasa lagi bagi kita yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia, padahal semua pakar setuju akan manfaatnya, tanpanya kita tidak akan hidup. Namun, masihkah itu menabjukkan kita? Saya rasa tidak. Kita biasa aja tuh, seolah itu lumrah. Padahal, bagi sebagian orang yang tinggal di daerah kutub yang jarang dilalui sinar matahari menjadi sesuatu yang sangat amazingi. Begitupula udara, waktu luang dan rasa aman baru terasa pentingnya saat ia tiada. Ini soal rasa.

Tanpa konsekuensi. Dalam mendapatkan maupun dalam menggunakan. Secara kuantitas dan kualitas bendanya bisa sama namun, bagi dua orang yang berbada, akan merasakan rasa yang berbeda. Mari kita perjelas dengan contoh, ada hadiah kendaraan bermotor. Bagi seorang mahasiswa dari keluarga petani miskin ?yang ke kampus selalu nebeng- saat mendapatkan hadiah motor akan sujud syukur bahkan menangis bahagia. Tentu sangat berbeda dengan mahasiswa yang ayahnya seorang pengusaha sukses yang setiap bulannya mendapatkan bonus hadiah satu atau dua motor dari pelanggannya atau dari bank. Tentunya ia akan biasa saja menerimanya. Tidak ada kenikmatan di sana. Ini soal rasa.

Membangun rumah tangga dari nol, berjuang bersama, bahu membahu menggapai kesuksesan. Mulai membangun rumah sendiri, membeli kendaraan sendiri dan hidup berbagi. Saat kesuksesan itu menyapa maka kenikmatan tiada tara terasakan. Tentukan akan berbeda dengan sebuah rumah tangga yang langsung kaya raya, semua kebutuhan tersedia dan sudah ada. Meskipun sama-sama memiliki tapi soal rasa itu berbeda.

Contoh lainnya, yang sering terjadi, ada dua pasang pengantin sama-sama melangsungkan pernikahan di sebuat tempat. Yang satu nampak begitu bahagia dan penuh dengan kejutan dan debaran jantung, masih malu dan canggung. Sementara yang satunya terlihat biasa-biasa saja, sudah tidak ada rasa canggung dan malu lagi. Semuanya mengalir dan dingin. Mengapa terjadi perbedaan rasa? Ya, karena yang satu tetap menjaga kesucian diri sebelum manikah sementara yang satu sudah menikmati semuanya sebelum menikah. Istilah anak mudanya, sudah DP. Kembali soal rasa.

Oleh karena itu, bagi sebagian orang itu adalah kenikmatan yang luar biasa namun, bagi yang lainnya itu belum cukup. Saya pernah berpikir jika seseorang telah memiliki rumah, kendaraan, usaha, dan uang tentunya ia akan merasa cukup kemudian menfokuskan diri untuk ibadah dan menggunakan hartanya untuk berinfak fi sabilillah. Ternyata tidak. Kenderungan menumpuk, bermewah-mewahan dan sangat mencintai harta benda sudah disinyalir Tuhan dalam surah al-Adiyat ayat 8, ?Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.? Mengejar harta bagaikan meminum air laut, semakin diminum semakin haus atau seperti menggaruk luka gatal. Menemukan satu gunung emas bukan akhir dari pencarian gunung-gunung emas lainnya.

Hanya yang pandai bersyukurlah yang akan merasakan semua pemberian-Nya sebagai anugrah Tuhan yang tak ternilai, sehingga tidak terlintas keluhan dari bibirnya karena ia merasa bahwa yang sudah diberi saja belum sempat disyukuri. Dan, itu jauh lebih dari cukup. Allah mempertegas dalam surah Ibrahim ayat 7.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. 'Ibrahim?[14] : 7)

Allah akan menambahkan nikmat bagi yang bersyukur. Menambah di sini tidak dalam pengertian hanya kenikmatan yang bersifat kuantitatif, jumlah yang bertambah namun, kesyukuran itu sendiri sebuah nikmat yang tak terkira. Hanya orang yang pandai bersyukur yang akan merasakan kecukupan dan kebahagiaan. Dan, adzab jangan hanya dimaknai siksa dan bencana. Bukankah tidak pernah merasa puas terhadap segala nikmat Tuhan adalah sebuah siksa. Alhamdulillah. Ini soal rasa.

Agar rasa kita berfungsi dengan baik maka, Allah acap kali memberikan kita masalah dan musibah. Agar rasa sehat itu penting diberilah sakit. Agar rasa aman itu indah diberilah kekisruhan. Agar rasa memiliki itu berarti diberilah musibah. Dan bagi seorang muslim, semuanya akan menjadi indah. ??

  • view 197