Sentilan Zaskia Gotik

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Maret 2016
Sentilan Zaskia Gotik

Mahfudzat termasuk pelajaran fovorit saya dulu sewaktu di pondok. Disamping karena penuh dengan petuah-petuah bijak (wisdom of life) juga cara atau model pembelajarannya yang menarik. Berteriak mengikuti ucapan guru, mengepalkan tangan, antusias dan sesekali memimpin teman-teman untuk teriak-teriak bersama layaknyak orasi di jalan. Sungguh jauh dari kesan ngantuk dan membosankan. Dari sekian banyak wisdom of life yang kami peroleh, salah satunya adalah salamatul insani fi hifdzil lisani. Keselamatanmu tergantung dari penjagaan lisanmu, begitu kira-kira maksudnya. Istilah kita, mulutmu harimaumu.

Berapa banyak pemimpin, tokoh, publik figur harus malu, berurusan dengan kepolisian dan tidak sedikit karir berakhir hanya karena ketidakmampuan menjaga lisan ini. Dan, tidak sedikit persahabatan, keluarga, relasi berantakan karena ulah lisan juga. Bahkan sampai terjadi perang saudara dan tawuran.

Kasus terbaru yang masih hangat di layar kaca kita, ucapan atau candaan seorang artis yang 'dianggap' melecehkan dan menghina lambang negara kita. Perlu disayangkan tapi tidak usah lebay juga, sampai-sampai si Zaskia mau dipolisikan. Saya rasa hukuman sosial lebih dari cukup -semua bahasa WC dan Kebun binatang keluar, seolah yang mencaci lebih nasionalis- untuk efek jera sekaligus menjadi pelajaran bagi siapa pun untuk hati-hati bertutur.

Kasus semacam ini bukanlah kasus baru, sudah banyak kasus-kasus sebelumnya. Kalau kita tidak lupa, karena katanya kita ini bangsa pelupa. Maka, perlu gerakan melawan lupa. Yang perlu dipahami di sini, saya rasa Zaskia tidak ada unsur kesengajaan untuk menghina. Sekali lagi, sengaja menghina. Logika agamanya, di dalam Islam, hukuman orang yang meninggalkan shalat karena malas berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat karena ia memang tidak mengakui syariat shalat. Jelas bedanya.

Mari kita sedikit melihat konteks dimana kejadian itu terjadi, semuanya dalam kondisi memang buat lucu-lucuan. Bukan karena kebodohannya, karena menunjukkan ketololan itu lucu menurut kebanyakan kita penonton makanya, mereka hanya memenuhi selera kita saja sebenarnya. Dan sudah rahasia umum kan, acara-acara seperti itu isinya tidak jauh-jauh amat dari plesetan-plesetan yang tidak mendidik. Dan memang mereka dibayar mahal untuk itu.

Nggak usah terlalu baperlah untuk menunjukkan bahwa kita ini nasionalis banget. Kemarahan kita tidak subtantif. Kita terlalu menghakimi cover tapi, lupa isi. Terlalu mengejar sunah lupa terhadap yang wajib. Kalau mau lebih subtantif, apa yang telah kita berikan kepada bangsa ini? Hal-hal sederhana saja, adakah kita lebih mencintai produk lokal made in Indonesia? Sudahkah kita mencintai tanah air kita dengan tidak membuang sampah sembarangan? Sudahkah kita menaati rambu-rambu lalu lintas untuk menunjukkan budaya tertib? Monggo dijawab sendiri!

Saya teringat meme dari Sujiwo Tejo yang cukup nendang rasanya, "Menghina Tuhan itu tidak perlu dengan umpatan dan membakar kitab-Nya. Kuatir besok tidak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan." Jadi silahkan simpulkan sendiri logika terbaliknya untuk kasus Zaskia!

?"Apa lambang dari sila kelima pancasila?" Tanya si Deny sambil clengean

?"I am smart, I am smart" jawab Zaskia seperti anak kecil sambil mengepalkan tangan ke atas.

"Apa? Mana?" Kejar Deny.

"Bebek Nungging." Baca Deny yang disambut tawa terpingkal-pingkal Zaskia dan gerrr dari semua penonton.

Semuanya berjalan normal sampai selesai. Begitulah kira-kira penggelan kisah Zaskia Gotik.

Sila kelima ini, sangat sensitif untuk saat-saat ini. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah adil belum ya? Kira-kira itu pertanyaan subtansialnya.

Tanpa senganja ?karena memang bukan settingan,- kasus Neng Zaskia menyentil komitmen kebangsaan kita. Minimal kita disentil dalam beberapa hal, kita ini bangsa pelupa, mulai dari hal yang remeh temeh seperti mengingat tanggal sampai lupa akan kasus-kasus korupsi yang besar. Lupa sejarah, lupa janji dan lupa menyejahterakan rakyat.

Ungkapan, ?Setelah adzan Subuh?, kemungkinan menyentil bangsa kita ?bil khusus umat Islam- yang sangat malas shalat berjama?ah Subuh. Coba aja cek kondisi masjid-masjid kita di subuh hari! ramai kan? ?

?Bebek nungging.? Sebagai lambang dari sila kelima, ?keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.? Sekarang, kesejahteraan sosial dalam posisi nungging, jurang kesenjangan semakin lebar. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk. Kalau kita boleh marah, marahlah kepada wakil-wakil kita di DPR, ngapain aja mereka selama ini. marahlah kepada pejabat dan pemimpin kita yang korup! Yang dulunya menebar janji manis. Hakikatnya, merekalah yang lebih menghina pancasila, merekalah yang lebih melecehkan bangsa kita.

Akhirnya, sebuah simbol negara, agama dan simbol apa pun itu tidak pantas untuk dihina dan dilecehkan, apalagi dibuat bahan lelucon. Pelakunya perlu belajar dan perlu disayangkan. Namun, ?Jika semua ada hikmahnya, minimal kita bisa mengambil yang positif dari kasus ini. mari kita move on untuk hal-hal yang lebih real memajukan bangsa Indonesia sebagai bukti cinta. mari kita kawal dan jaga kekayaan bangsa kita yang dicuri, wilayah negara yang dicaplok dan kita kontrol para pemimpin kita agar tetap on the track. Buat Neng Zaskia, belajarlah! Salam

Syahrul