Berbagi Nggak Harus Banyak

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Maret 2016
Berbagi Nggak Harus Banyak

Masi ingat pelajaran waktu SMP dulu? Materi yang berkaitan dengan sedekah, infak, hadiah, hibah dan wakaf. Dalam hal mengeluarkan sesuatu ada kemiripan antara sedekah dan infak yang membedakan adalah infak sangat erat dengan mengeluarkan sesuatu berupa materi atau uang dan bisa juga dikaitkan dengan kewajiban zakat. Sedangkan sedekah memiliki cakupan makna yang lebih luas, memberi sesuatu baik materi maupun non-materi. Tersenyum dan berwajah berseri-seri kepada orang lain itupun dianggap sedekah. Bahkan menggauli istri pun dianggap sedekah dan ibadah. Sedekah yang paling nikmat bukan.

Dipertegas dalam sebuah hadis yang mulia Rasulullah saw bersabda bahwa setiap kebaikan adalah sedekah. Menumbuhkan sifat gemar berbagi tidak harus kaya dulu. Bahkan gemar berbagi itu mengundang kekayaan. Sedekah itu seperti umpan, semakin besar umpannya semakin besar pula ikannya. Ikan-ikan kecil lewat dan nyadar diri. Dalam keadaan apa pun amalan sedekah bisa dilakukan. Sedekah di waktu lapang itu baik tapi, akan jauh lebih baik jika tetap bersedekah meskipun dalam keadaan diri sendiri dalam kesusahan. Alladzina yunfiquna fi as-sarrai wa ad-dharra, salah satu ciri manusia yang bertaqwa adalah yang tetap berbagi dalam keadaan apa pun, lapang maupun sempit.

Sedekah tidak nunggu kaya dulu, dan nggak harus banyak dulu. Ada Hal yang kecil dan sederhan namun sudah cukup membahagiakan orang lain yang bisa kita lakukan dan biasakan. Sebagai contoh sederhana, biasanya penjual atau pedagang keliling akan mampir menawarkan jualannya di kantor-kantor yang dilaluinya. Dengan peluh yg belum kering mereka menawarkan dagangan, berharap ada yang berminat dengan harapan untung yang tidak seberapa. Dan, sadisnya kita menghujaninya dengan penawaran tanpa belas kasih.

Pernah mampir di rumah seorang bapak penjual sapu kelililing, dengan beban di pundak sambil ngos-ngosan menawarkan sapunya.

"Berapa bang?"

"Murah kok pak, 25 ribuan." Saya tahu bahwa harga di pasaran hanya sekitar 20 ribuan.

"Bisa kurang bang?"

?"Nggak pak" sambil menggeleng dan senyum.

"Oke, saya ambil dua ya."

Dengan wajah senang, ia pun dengan cekatan mengikat pesanan saya dan berkali-kali mengucapkan terimakasih.

Contoh satu lagi, biasanya saat belanja, ada uang kembalian. Tergantung besarannya. Jika uang kembalian tersebut tidak begitu besar misalnya, seratus, lima ratus sampai dua ribuan, saya biasanya mengikhlaskannya.

"Pak, kembalianya!"

"Oya, nggak usah bu. Trimakasih"

"Oh, trimakasih banyak pak!"

Terlihat senyum dan wajah yang sumringah penuh makna. Ternyata, membahagiakan orang lain tidak harus banyak kok. Kecil dan sederhana. Betapa yang kecil itu sudah mampu membahagiakan banyak orang; istri, anak-anak dari si penjual. Coba seandainya itu menjadi kebiasaan kita, berapa banyak orang yang akan bahagia dan senang dengan kita. Dan, tidakkah itu menjadi pembuka pintu rezeki kita juga bukan?

Seribu rupiah tidak akan membuat mereka kaya, pun tidak akan membuat kita bangkrut. Namun yang pasti ada kebaikan, ada orang yang bahagia, ada doa yang mengalir, ada hati yang lapang. Ada rezeki yang lancar.

Ada kebiasaan buruk kita selama ini dalam hal jual beli -khususnya kaum perempuan dan ibu-ibu. Kalau belanja di toko-toko kecil atau di penjual kaki-kaki lima atau sama penjual keliling nawarnya minta ampun. Meski hanya kurang dari 1000 rupiah dibela-belain seperti jihad fi sabilillah sambil nyinyir. Anehnya, saat belanja di Mall atau toko-toko besar gengsi untuk nawar. Takut dibilang nggak punya kali. Terlalu (dengan gestur bang Haji).

  • view 138