Menyikapi Perubahan (1)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Maret 2016
Menyikapi Perubahan (1)

Perubahan itu niscaya. Jika kita tidak mau mengikuti perubahan maka bersiap-siaplah dicampakkan di tong sampah peradaban. Menjadi penonton atau pelaku. Hanya itu pilihannya. Tidak ada yang pasti selain perubahan itu sendiri. Ada pertanyaan anekdot mengapa Dinasourus ?binatang paling kejam dan perkasa- punah? Karena tidak mau berubah dan beradaptasi mengikuti perubahan zaman. Kekejaman dan prilaku anarkis si Dinasourus tidak disenangi oleh zaman yang semakin humanis. Harus punah! Sementara binatang-binatang yang mampu beradaptasi bisa terus eksis dengan melakukan inovasi-inovasi bentuk di sana-sini.

Saya tanpa sengaja mendapatkan tulisan analisis menarik tentang sebuah produk HP yang dulunya lancar jaya sekarang kalah dan terpuruk. Siapa yang tidak kenal dengan HP Nokia, HP sejuta umat. Laris manis. Dulu, anda akan lebih PD dengan merek ini. kata teman saya, ?Eh, enak punya HP Nokia ya, kalau lupa bawa Charger bisa pinjam di mana-mana.? Nokia terlena dan lupa jika perkembangan teknologi sangat dinamis. Sementara para pesaing melakukan trobosan-trobosan baru yang lebih canggih dan sesuai selera pemakai yang ingin selalu lebih dinamis dan instant. Ya, Tertinggal. Begitulah kira-kira artikel tersebut bercerita.

Sewaktu saya SD-SMA sekitar tahun 2000-an sampai mendekati 2009-an ada satu bisnis yang masih sangat menjanjikan, penyedia jasa komunikasi atau Wartel (Warung Telekomunikasi). Masih sangat mudah kita jumpai di pinggir-pinggir jalan bak warung makan. Yang hidup di zaman itu pasti tahu. Usaha wartel perlahan namun pasti harus gulung tikar dan tamat, seiring dengan semakin menjamurnya alat komunikasi genggam, Hand Phone. HP bukan lagi barang mewah, bahkan sudah menjadi kebutuhan primer manusia modern saat ini. jika dulu pemilik HP hanya bagi the Have, eksekutif dan pebisnis sukses, sekarang tidak lagi.

Hidup di zaman sekarang ini, perubahan semakin cepat dan dinamis. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalan hitungan hari semuanya bisa berubah. Dan dampak perubahan adalah yang tidak mau berubah ditinggal. Wassalam.

Berita baru-baru ini tentang demonstrasi para supir taxi, bajaj, ojek dan alat transportasi lainnya -yang berakhir anarkis- berkaitan dengan semakin meredupnya penumpang karena lebih memilih model transportasi on line. Orang lebih milih murah, aman dan instat. Jika ada yang bisa menyiapkan semuanya maka niscaya yang konvensional akan ditinggal. Laju perkembangan zaman tidak bisa dibendung. Perubahan terus bergerak.

Contoh yang lain, ruko-ruko, toko pakain, pakaian, dan alat elektronik lainnya sudah mulai ?harus berbenah dengan merebaknya toko online. Klik, deal, transfer, dikirim dan selesai. Industri koran dikalahkan dengan portal-portal online yang lebih cepat dan gratis. Kantor pos surat menyurat diganti dengan email, WB, FB, dll yang lebih efesien. Buku-buku bacaan digantikan dengan e-book yang bisa didownload dengan mudah. Apalagi? Anda tidak mau berubah, bersiaplah digilas.

Bagaimana sikap keberagamaan kita? Muhammadiyah memiliki konsep gerakan tajdid atau pembaharuan; dalam bidang duniawiyah bersifat dinamisasi mengikuti perkembangan zaman. Antum a'lamu biumuri dunyakum. Dalam urusan akidah bersifat purifikasi atau pemurnian dengan kembali ke al-Qur?an dan sunah. Namun, prilaku keberagamaan juga dinamis yang penting subtansinya tetap sesuai koridor Islam. Misalnya, model berpakaian dan berhijab akan update sepanjang waktu.

Bagaiman dunia pendidikan? Cara mendidika anak? Peran orangtua dengan anggota keluarganya? Semuanya harus berubah atau punah.

Allah mengingatkan kita, ?Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. (59:18). Melihat masa lalu untuk menentukan langkah menuju masa depan yang lebih baik. Sejarah akan berulang meskipun tidak persis karena manusia itu dinamis. Kejayaan dan kehancuran dipergilirkan dan di situ ada pelajaran buat kita hari ini. Dalam ajaran Islam ada konsep menjadi lebih baik hari ini dari hari kemarin. Sahabat Umar mengajarakan agar kita tidak menunda, apa yang bisa dilakukan hari ini, jangan tunda sampai esok harinya.

  • view 172