Pengakuan

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Juni 2017
Pengakuan

"Enak ya, kalau suami bisa nulis," ucap salah seorang teman isteri kepada isteri saya sekitar tahun 2012 di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu yang kala itu masih berlokasi di Alam Mesra. Seketika setelah si teman tahu bahwa tulisan isteri saya -bukan tulisan saya- muncul dalam sebuah buku yang dicetak oleh kementerian, lebih tepatnya Dirjen P2TK Dikdas.

Saya sendiri tidak tahu tentang tulisan apa. Di lapangan, saya dan isteri tugas di dua institusi berbeda. Isteri bertugas di bawah komando Sekolah Indonesia, saya dibawah komando LSM Pendidikan Malaysia. Selain itu jarak puluhan kilometer juga memisahkan kami.

Isteri saya tidak menjawab apapun kecuali senyum atas ucapan temannya. Mendengar cerita dari isteri, betapa kagetnya saya. Ada suara yang berteriak di kepala saya; Meremehkan sekali itu orang sama isteri gue.

"Biar saja, positifnya mereka mengakui suamiku," jawab isteri saya setelah saya melontarkan pertanyaan, "Kenapa enggak bilang yang sebenarnya?".

Kalau saja mereka tahu, jauh sebelum saya sering menulis, isteri saya sudah menggelutinya. Oh iya, saya memulai belajar menulis pada mei 2012 di Kompasiana.com. 8 tahun sebelum tahun 2012, isteri saya sudah menjuarai banyak lomba karya tulis ilmiah. Buktinya adalah hasil karya yang dibukukan dan piala penghargaan di Indonesia. Saya hanya finalis tingkat kampus.

Kalau saja orang tadi mau melihat, membaca dan membandingkan tulisan tersebut dengan tulisan saya, tentu orang itu akan tahu bahwa tulisan yang dihadapannya berbeda dengan gaya tulisan dan diksi yang digunakan oleh saya. Sayang, matanya sudah tertutup dengan sebuah prasangka.

Saya merasa bersalah besar kepada isteri saya. Yang pertama, karena isteri saya mengurus saya, ia kehilangan waktu untuk menggeluti passionnya. Apalagi sekarang, waktunya total untukku, Kikan dan Futih. Dan rumah beserta tetek bengeknya. Sering saya bujuk untuk menulis, tapi sayang saya belum bisa memberikan waktu. Waktu miliknya habis untuk kami.

Rasa bersalah yang kedua adalah seringkali orang menutup mata atas kelebihan orang lain dengan mengkambing hitamkan pihak yang lainnya. Dan saya yang menjadi alibi untuk menghilangkan prestasi isteri saya. Ah itu kan hanya kebetulan? Sayang sekali, bukan hanya itu saja. Bahkan sampai kepada kebijakan yang menafikan salah satu dari kami; terutama isteri saya.

Yang menjadi tema utama dalam tulisan ini bukan tentang orang lain. Tapi pengakuan bahwa saya banyak berhutang sama isteri saya. Tentu bukan materi. Dan saya harus membayarnya.

Saya mengajam, sekuat tenaga saya akan berjuang untuk mengumpulkan dan menabung waktu-waktu yang berserakan. Saya juga akan membeli waktu. Agar saya bisa menggantikan waktu-waktu isteri saya. Walaupun tidak mungkin lunas.

...

Isteriku, apa yang aku kerjakan sekarang adalah bentuk usahaku membeli waktu. Di sisa usia, kita akan menikmati waktu itu. Semoga Allah memberikan izin dan rida-Nya!

 

Sarawak, 2 Juni 2014 (Telabit Estate)

  • view 41