Energi (lanjutan Gaya Magnet)

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Juni 2017
Energi (lanjutan Gaya Magnet)

Sepertinya bukan gaya magnet. Terus gaya apa? Biar saja itu menjadi misteri. Justru ketidak tahuan kadangkala membuat hidup menjadi menarik. Ketidak tahuan tidak jarang membuat kehati-hatian. Ketidak tahuan seringkali membuat lebih giat membuat persiapan. Seharusnya demikian.

Ya seperti halnya ketidak tahuan nasib kita satu menit kemudian. Juga ketidak tahuan dimana ruh kita akan bercerai dengan raga. Dan tentunya ketidak tahuan tempat kepulangan abadi kita di akhirat. Ketidak tahuan seharusnya membuat kita menyiapkan perbekalan, sebanyak mungkin.

Aku cukup tahu bahwa ada sebuah gaya yang menarikku untuk pulang. Sisanya aku hanya butuh keyakinan. Ya seperti seseorang tidak tahu bahwa matahari akan terbit esok hari, hanya cukup yakin. Dan keyakinan melahirkan sebuah energi. Membuat ia bergerak untuk mempersiapkan esok hari.

Tarikan gaya itu tidak hanya membuatku berhenti namun bisa mundur. Aku harus mendapatkan energi melawan gaya itu. Tentu energi yang bisa melahirkan sebuah usaha sebagaimana definisi fisika.

Katanya dalam fisika, usaha adalah sebuah gaya yang menyebabkan perpindahan. Memang bertolak belakang dengan konsep usaha yang aku yakini. Usaha adalah proses ikhtiar dengan gaya yang maksimal untuk tujuan tertentu, hasilnya Allah yang berhak menentukan. Dalam fisika, sebesar apapun gaya yang dikeluarkan namun tidak membuat pergeseran (perubahan) maka itu tidak dinamakan usaha. Usaha didefinisikan sebagai hasil kali antara gaya dan jarak perpindahan.

W = F x s

Pertanyaannya bagaimana cara memperoleh energi itu. Sumber energi apa yang bisa menghasilkan energi yang sangat kuat yang membuatku kuasa berdiri dan melangkah maju, lagi?

Sepertinya energi kimia yang dihasilkan dari makanan yang aku konsumsi tidak cukup kuat melawan tarikan untuk balik badan. Apa bisa energi panas matahari melawannya? Bagaimana caranya? Listrik? Jangan-jangan malah nyawa melayang. Energi cahaya? Aku tidak mengerti. Atau energi nuklir? Dengernya saja malah ngeri.

Seperti halnya kesalahanku menganggap bahwa gaya yang menarikku adalah gaya magnet. Mungkin akupun salah buka referensi untuk mencari sumber energi yang cocok untuk melawan gaya tarikan itu.

Faktanya senyum-senyum itu yang membuat aku lemah. Kemerduan tangis-tangis itu yang membuat aku jatuh tertidur. Manja-manja kalian membuat jiwa ini kaku. Semua mengenai diri kalian menarikku sangat kuat untuk mendekati kalian; bersatu. Jika saja boleh meminjam istilah gaya magnet, tentu ini bukan gaya magnet biasa. Kalian adalah gaya magnet supra spiritual. Yang kalian tarik bukan badanku, tapi jiwaku. Namun efeknya, jika tidak ada energi yang lebih kuat maka tubuh ini tidak bisa berbuat banyak.

Aku harus punya energi double supra spiritual. Ya, aku harus memiliki kekuatan seperti saat Naruto mengatasi kekuatan Chibaku Tensei milik Nagato, yang bisa menarik benda apapun di dekatnya, bukan hanya pohon-pohon namun hutannya bisa di tariknya.

Aku tidak bisa sendirian. Aku butuh bantuan seperti Naruto. Tidak, aku tidak butuh Kyubi. Aku hanya butuh energi cinta. Energi Cintalah yang akan mengatasi gaya magnet supra spiritual itu. Aku yakin. Sangat.

Senyum kalian 20 tahun kemudian yang memberikanku energi yang berkali lipat. Tangis sedih dan muram kalian yang tidak ingin aku lihat dalam sisa waktuku, mentransfer energi yang dahsyat. Ya, harapan tentang masa depan kalian yang membuatku mampu berjalan lagi. Bahkan berlari. Kalian, puteri-puteriku, Kikan dan Futih.

Tentu saja harapan kebersamaan aku dan kamu saat kulit-kulit kita mengusut menjadi tambahan sumber energi untukku. Kamu wahai Isteriku, Lilis Padlilsyah

Ya, aku butuh kalian. Kalianlah sumber energi cintaku..

Sarawak, 26 mei 2017 (Telabit Estate)

  • view 42