Kikandria dan Futiha Mengadili

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juni 2017
Kikandria dan Futiha Mengadili

"Dek, katanya ayah suka matematika loh," ucap Kikandria yang saat itu sudah duduk di bangku kelas 5 SD kepada Futiha. "Kan?" Lanjutnya sambil melirikku yang sedang asik mengikuti berita politik.

Kalimat pernyataannya jelas bukan untuk memberi informasi baru kepada adiknya. Pernyataan itu lebih tepat berfungsi sebagai menginterogasiku; ayahnya. Belum bisa kutebak arahnya. Aku menduga ada yang ingin Kikandria sampaikan. Di usia yang masih 11 tahun, Kikandria sudah pandai berdiplomasi.

"Iya, ayah suka." Jawaban itu aku lontarkan sebagai langkah aman dan bentuk kuda-kuda sambil menunggu respons berikutnya dari Kikandria.

Prediksiku meleset. Justru Futiha yang sedang sibuk dengan buku matematika kelas 4 SD-nya lebih cepat beraksi dengan jawabanku. Ia tampak kurang senang dengan pertanyaan Kakaknya yang menurutnya kurang tajam.

"Ayah bukan hanya suka, Kak," ujar Futiha ke kakaknya sambil mengacungkan pulpen yang dipegangnya, "Ayah pinter matematika juga. Sayang ayah gak pernah bantu kita." Pungkasnya. Futiha menutup kalimatnya dengan sebuah serangan. Bukan untuk Kikan, tapi untukku, Ayahnya. Futiha dan Kikandria berbicara dengan rapi, jelas dan tegas. Mereka mewarisi gaya bicara bunda mereka. Bagaimana tidak, semenjak di dalam rahim sampai usia SD sekarang ini, bundanya memberikan sepenuh waktunya untuk mereka. Jelas aku bukan tandingan yang sepadan untuk bersaing dalam hal ini dengan isteriku.

Sepertinya Kikan dan Futih sedang bekerjasama mengadili aku. Mungkin selama ini karena aku terlalu sibuk dengan bisnis dan pertanianku.

Sadar dengan keadaanku yang dikeroyok dua puteriku, aku akhirnya memilih sebuah jawaban, "Dulu sih pinter. Apalagi saat duduk di bangku SD. Namun sekarang, tidak."

"Tapi kan kalau hanya untuk materi SD masa gak bisa. Lagian dulu ayah kan guru SD." Futiha sepertinya tetap tidak terima dengan jawabanku.

"Sebetulnya, kondisi seperti ini, ayah alami sejak hari pertama menikahi bundamu. Setiap ayah berada di sisinya Ayah sepertinya kehilangan beberapa beberapa memori."

"Maksudnya, Yah?" Kikandria mencoba memberikan anak tangga agar aku bisa melangkah ke tangga berikutnya.

"Ayah menjadi lupa tentang operasi hitung pengurangan dan pembagian."

"Kok bisa?" Gilaran Futiha menimpali. Kali ini tampaknya ia benar-benar penasaran apa yang terjadi dengan ayahnya, aku.

Sebelum menjawab, aku mengumpulkan semua keberanian untuk membuka sebuah rahasia. Informasi yang aku jaga dengan sangat rapat.

Aku tarik napas dalam-dalam.... aku sampaikan, "Puteri-puteriku yang cantik," aku menarik napas lagi, "itu semua karena cinta ayah kepada bunda kalian, dalam tiap detiknya, hanya mengenal dua operasi; bertambah dan berkali lipat."

Sarawak, 21 Mei 2017 (Telabit Estate)

  • view 34