Sepeda Dan Standar Naik Kelas Pendidikan Formal

Padlil Syah
Karya Padlil Syah Kategori Renungan
dipublikasikan 08 Juni 2017
Sepeda Dan Standar Naik Kelas Pendidikan Formal

Satu sore, Kikandria, puteri cantik kami meminta dibeliin sepeda roda dua -namun roda belakang ditambah dua roda kecil untuk kesimbangan.

"Mah, sepeda Empang bagus." Kikan bercerita kepada bundanya bahwa pagi itu dia pinjam sepeda teman mainnya, Empang. Namanya sebetulnya Erfan, satu tahun lebih tua dari Zeest. Cucu dari Uwa (om) saya. Bundanya hanya mendengarkan apa yang puteri pertama kami ceritakan, sambil memancing terus celotehnya dengan anggukan dan kata-kata "oh begitu", "terus?", "bisa gak, Kakak?" dan "Suka gak, Kakak?".

Kikandria tambah semangat bercerita dan kekagumannya dengan sepeda yang baru pertama kali ia tunggangi dan.... jatuh. Mendengar Kikan jatuh, saya ikutan nimbrung. "Terus, Kakak sakit gak? Kakak nangis gak?" Saya menyerbu dengan dua pertanyaan sambil lihat Kikan dan melirik Bundanya minta keterangan lebih.

"Enggak, Kakak gak nangis. Kakak kuat," jawabnya.

"Iyakah, Bund?" Saya mengonfirmasi jawaban Kikan ke isteri.

Sambil senyum bangga dan melihat Kikan, bunda menceritakan kejadian tadi pagi secara lengkap. Melengkapi penjabaran Kikandria. Betapa bahagianya saya mendengar itu. Bahagia tidak terjadi yang buruk terhadap Kikan. Bahagia Kikan sudah pandai bersosialisasi. Bahagia bisa menuangkan idenya. Yang terpenting dari semua itu, bahagia punya Kikandria.

Sambil memberikan apresia kepada Kikan, "Kakak pandai ya, Bun?" Ditempali sama isteri, "Kakak memang sholehah, Yah. Kakak kalau make sepeda orang, bilang pinjam dulu. Iya kan, Kak?"

Zeest sepertinya tidak tertarik menanggapi pujian saya dan pertanyaan Bundanya. Ia lebih tertarik menyampaikan hal lain, "Mah, Kakak mau ih sepeda kaya Empang." Ucap Kikan, dengan sisipan "ih"nya yang kadang bikin gemes. Kami sering dibuat tertawa dengan sisipan-sisipan dalam kalimatnya seperti "loh", "ih", "mah" & "kan".

Mendengar sebuah permintaan Kikandria, Bundanya langsung merespons positif, "Iya, nanti kita beli. Nanti beli sama Ayah."

Mendengar respons tersebut, saya sedikit khawatir dengan Kikan. Karena pada waktu itu Kikan belum bisa mengendarai sepeda roda tiganya. Saya putuskan menjawab dengan sebuah tantangan, "Nanti ayah belikan sepeda seperti Empang, tapi Kakak harus pandai dulu pakai sepeda roda tiga."

Kikandria tampaknya sepakat dengan syarat itu. Keesokan harinya dia meminta Bunda untuk membantu belajar. Usaha Kikan untuk memenuhi syarat yang saya tawarkan terlihat dengan ketekunan belajar sepeda lebih dari sebelumnya.

Tiga hari berikutnya, Kikan meminta dibeliin lagi sepeda roda tiga. Saya tetap dengan syarat awal. Kikan mengalah. Belajar lagi. Minta lagi. Tetap dengan syarat yang sama. Belajar lagi. Lebih dari 1 minggu dari hari ia meminta. Dan.... Kikan tetap tidak lancar mengendari sepada roda tiganya.

Bunda mengajukan pembelaan. "Yah, kasihan Kakak," Ucapnya. "Tapi kalau Kakak belum bisa yang roda tiga, nanti sepeda baru mubadzir." Mendengar jawaban saya yang masuk akal, Isteri saya pun faham dengan syarat yang saya ajukan. Namun, esoknya isteri saya mengajukan pendapatnya lagi agar membelikan Kikan sepeda roda dua. Lagi, saya meyakinkan isteri saya bahwa itu akan sia-sia. Nanti sepeda roda duanya hanya akan jadi pajangan. Karena sepeda roda tiga saja, Kikan hanya maju 1 sampai 5 kali bosehan. Berikutnya Kakak menangis. Bisa dikatan belum bisa.

Si Bunda tidak pernah kehilangan perjuangannya untuk puterinya. "Biar, Bunda yang beli saja!" Saya tahu ancaman tidak pernah dilakukannya kalau saya melarangnya. Namun ini perlu ia lakukan sebagai diplomasi kelas tinggi, bahwa "Aku tidak bisa membiarkan puteriku bersedih. Aku tidak terima puteriku hanya jadi penonton sedangkan anak yang lain bergembira dengan sepedanya. Rasa keibuanku melebihi apapun."

"Iya, Ayah beli hari ini," ucap saya kepada isteri, "Kakak, kita beli sepeda yuk, hari ini." Sambil melihat Kikan. Betapa bahagia Kikan. Juga Bundanya. Dan saya sendiri. Percayalah, saya pun sedih saat Kakak belum pandai mengendarai roda tiga. Tidak kalah sedih saat saya menolak untuk tidak membelikan karena syarat belum terpenuhi.

Akhirnya kami berempat pergi ke toko sepeda. Deal. Sesuai kesukaan Kikan. Sepeda warna merah jambu. Kikan bilang Pink. Saya pilihkan sepeda model untuk perempuan.

Tiga hari baru bisa diambil. Kikan senang luar biasa. Saya dan isteri lebih dari senangnya Kikan, percalah. Dengan dibantu Bundanya, Kikan ternyata langsung bisa mengendarai sepeda barunya. Hanya perlu waktu beberapa jam.

Mendengar cerita isteri, saya bahagia dan tidak percaya. Bahagia Kikan bisa. Tidak percaya karena yang roda tiga saja Kikan belum bisa. Faktanya Kikan memang bisa. Tanpa bantuan orang lain. Fakta lainnya, Kikan sekarang jadi bisa mengendarai sepeda roda tiganya.

"Yah, Kakak bisa. Yah, Kakak bisa pakai sepeda."

Mata saya berlinang. Hampir saja saya melalukan sebuah kesalahan. Andai saja tetap ngotot dengan prinsip "naik kelas" sepeda. Maka belum tentu sampai sekarang bisa mengendarai keduanya.

Pendidikan Formal?

15 tahun 6 bulan saya menjadi subjek pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi. Hampir 10 tahun saya berkecimpung di dunia pendidikan. Di dalam pendidikan formal di Indonesia, ada standar naik kelas. Standar lulus untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Yang tidak memenuhi standar itu, mau tidak mau, harus tidak kelas atau tidak bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun banyak praktisi pendidikan berani mengacuhkan standar formal tersebut. Faktanya tidak sedikit siswa saat duduk di bangku SMP dan SMA termasuk yang biasa dan bahkan tertinggal. Hanya bantuan guru yang membuat dia naik kelas dan lulus. Hasilnya mereka menjadi mahasiswa yang berprestasi. Apalagi kalau dihitung kesuksesan di dunia prkerjaan.

Andai saja, seorang guru menerapkan standar naik kelas dengan saklek. Tidak menaikkan kelas dan meluluskan karena standar baku, bagimana nasib mereka yang menemukan kecerdasan di bidangnya. Mungkin banyak orang yang terhambat kesuksesannya karena ia terus-terusan gak naik kelas dan tidak pernah lulus.

Kembali ke standar naik kelas tadi. Perbedaan pendekatan dalam menganggap perlu dan tidak standar naik kelas adalah sah. Keduanya ada landasannya dalam dunia ilmiah. Namun kadang berbeda saat kebijakan pemerintah mengambil alih. Hasilnya hanya satu benar. Yang lainnya salah.

Ah... untung saja jiwa keguruan guru-guru saya dan para praktisi pendidikan Indonesia melibihi apapapun.

  • view 23